Kamis, 16 Desember 2010

Lavender Rose -- Chapter Eighteen -- Mark

Sudah sekitar dua minggu aku bekerja di Hypercon. Pekerjaanku sama membosankannya dengan pekerjaan yang lalu di Wachovia, hanya keberadaan Delia saja yang membuatku bertahan disini. Namun sikap Delia yang acuh tak acuh kepadaku membuatku bingung dan sakit hati. Apakah ia sudah melupakan apa yang terjadi tiga tahun silam? Apakah ia sudah membuang kenangan manis yang terjadi di Bali saat itu? Saat pikiranku dipenuhi Delia, tiba-tiba telepon berdering.


"Yes, Santi?"


"Mr. Andrews, Mr. Wardhana would like to talk to you on line 2."


"Okay."


Sesaat kemudian Pak Wardhana sudah tersambung denganku.


"Good evening, Mr. Andrews. It's already 7 p.m. Why are you still working? I don't wanna be sued for overworking my employees, espescially the ones who just got in. Ha ha."


"Don't worry, sir. I won't sue you this soon, ha ha ha. I'm just finishing some details and I'll be done in 10 minutes."


"Alright, then. By the way, have you had dinner?"


"Umm, not yet, sir."


"Now, since you haven't had dinner, why don't you come to the restaurant next door? I'll treat you. Don't let an old man like me eat alone, ha ha."


"Ha ha. Alright sir, I'll be there in ten minutes."


Tak lama kemudian aku sampai di restoran tersebut. Aku berbincang-bincang mengenai masalah di kantor dengan Pak Wardhana.


"Mr. Andrews?"


"Please, call me Mark, sir."


"Alright, Mark. I forgot to tell you that Delia would be here. Ah, there she is." Pak Wardhana menunjuk ke arah di belakangku.


Dengan senyum lebar aku langsung menoleh ke belakangku. Delia tampak cantik dengan gaun malam berwarna merah, walaupun ia terlihat sedikit tidak nyaman. Kemudian datang seorang pria yang wajahnya kukenal sebagai salah seorang pegawai di Hypercon, dan merangkul Delia. Senyumku langsung menghilang.


"Oh, Tris? Mark, this is Trisno Hadisastra. He's Delia's boyfriend. Tris, this is our new accounting manager, Mark Andrews."


"Hi, how are you, Mr. Andrews?"


"Call me Mark, please. I'm good."


Delia hanya diam saja mendengar perkenalan kami. Ia juga tetap terdiam sejak kami mulai mengobrol tentang perusahaan sampai makanan datang. Kemudian ia permisi untuk pergi ke toilet. Aku melihat kesempatan untuk berbicara dengannya meskipun sebentar, karena itu aku juga ikut permisi ke toilet. Ia tak bisa menghindar saat berpapasan denganku di depan pintu toilet.


"So, a new guy?"


Delia mendesah dan berkata, "why don't you mind your own business, Mark?". Kemudian ia melangkah pergi. Tiba-tiba ia berhenti dan membalikkan badannya sambil memegang kepalanya.


"You know what, I'm sorry. It was rude."


"It's okay."


"Dad asked me to get together with him. He's getting old and he's got heart problem. I don't wanna do anything to put dad's life in danger. I couldn't disagree."


Aku hanya terdiam. Delia membalikkan badannya namun ia tak melangkah pergi.


"Mark, if only I knew that I'm gonna meet you again.." kemudian ia meninggalkanku begitu saja untuk kembali ke meja makan.


Aku menatapnya pergi. Pikiranku tak lepas dari kata-kata terakhirnya. Apa yang akan ia lakukan seandainya ia tahu ia akan bertemu denganku lagi?


Aku memasang wajah datar terbaikku dan kembali ke meja makan, menghabiskan malam ini untuk membicarakan masalah kantor yang membosankan.

Jumat, 15 Oktober 2010

My Boyfriend was A Gay

April selalu berpikir bahwa Denny adalah gay. Setidaknya itulah yang ia tunjukkan dalam perilakunya sehari-hari. Tapi memang Denny tak pernah menyebutkan secara jelas bahwa ia memang benar-benar seorang gay.

Sudah lama April bersahabat dengan Denny. Mereka bertemu saat penerimaan mahasiswa baru STIBA Bandung. Kebetulan mereka sama-sama berada di jurusan Sastra Korea. Namun April yang anak perantauan belum kenal siapa-siapa. April duduk memisahkan diri dari kerumunan. Saat itu lah Denny menyapanya.

"Hei, nggak punya temen ya? Gue juga."

April hanya bisa menaikan sebelah alis. Dia memperhatikan penampilan Denny. Kaos Polo ketat warna pink, celana jeans pensil warna hitam, sneakers Adidas, dan tas selempang yang mereknya tidak ia kenal memberi kesan ajaib bagi April yang sebelumnya tidak terlalu mengerti dengan gaya gay berpakaian. Namun toh April tidak mengusirnya. Denny pun mencoba membuka percakapan.

"Aduh, gerah ya bo'. Eh, dari SMA mana jeng?"

"Eh.. SMA Negeri 14 Sukasari.."

"Ya ampuun, pasti di pedaleman deh.. Gue sih dari SMA Setiabudi. Tau kan? Tapi kayanya lo ngga tau ya.."

Tingkah laku Denny membuat April merasa terganggu pada awalnya. Namun lama-lama, April dan Denny semakin tak terpisahkan. April menjadi lebih perempuan setelah mengenal Denny. Denny lah yang memperkenalkan dunia kosmetik dan fashion padanya. Denny juga memperkenalkan dunia cowok yang sebelumnya tak pernah April ketahui. Denny lah yang pertama kali mengajaknya clubbing. April yang sekarang telah berubah karena Denny.

Setelah saling mengenal, April tak sungkan lagi dengan Denny. Berpelukan, mencari pakaian dalam, bahkan saling menginap. April mengontrak rumah kecil di dekat kampus, dan orangtuanya tinggal di Sukasari, jadi tak ada yang mengawasi. Sedangkan Denny tinggal dengan ibu dan adiknya di daerah Dago Atas dan Ayahnya pindah setelah orangtua Denny bercerai. Ibu Denny sudah seperti ibunya sendiri, dan mengijinkan April menginap di rumahnya. Dengan Denny, April seperti memiliki sahabat perempuan, hanya saja Denny lebih kuat.

Namun yang terjadi pada malam itu mengubah persepsinya terhadap Denny.

Sabtu malam itu tidak berbeda dengan sabtu malam lainnya. April pasti pergi ke Heaven Club bersama Denny, bersama-sama mencari lelaki tampan untuk dikerjai. Biasanya April akan pura-pura duduk sendiri hingga ada seorang lelaki yang menegurnya. Jika lelaki ini mulai menggodanya maka Denny akan berpura-pura datang menghampiri April dengan ekspresi melindungi, seakan-akan Denny adalah pacar April. Jika lelaki itu menyerah dan pergi, mereka akan tertawa terbahak-bahak.

April tersenyum-senyum membayangkan apa yang akan terjadi sabtu malam ini. Tak lama kemudian, Denny datang dengan mobilnya untuk menjemput April. Saat Denny melihat April, Denny hanya diam saja. Berbeda dengan biasanya, Denny pasti memberi komentar terhadap apapun yang dikenakan April, entah itu berupa pujian atau celaan. Padahal malam itu April mengenakan gaun baru yang potongannya sedikit seksi. Kerah low cleavage nya menunjukkan lekuk tubuh April yang sebelumnya tak pernah ia tunjukkan. April sedikit kecewa karena Denny tidak memberi komentar apa-apa.

Akhirnya mereka sampai juga ke Heaven Club. Setelah menyapa teman-teman yang sering hang out disana, mereka duduk di kursi bar. Suasana sedikit kikuk karena Denny masih berdiam diri. April pun bertanya-tanya apakah mereka akan melakukan permainan seperti biasa atau tidak.

"Den, malam ini kita nggak main?"

"Main, main. Sori gue lagi rada mumet. Yaudah gue kesana dulu ya."

Denny mengawasi tak jauh dari April. Lima menit kemudian, datanglah seorang lelaki yang mencoba berkenalan dengan April. Denny bisa melihat kemana pandangan lelaki ini tertuju, yang tak lain dan tak bukan ke arah dada April. Sial, pikir Denny, kenapa April harus memakai gaun itu. Denny memutuskan untuk mengakhiri permainan lebih cepat. Ia menghampiri April dan merangkulnya posesif. Tak lupa ia memberi pandangan tajam kepada lelaki itu.

Namun lelaki itu tidak juga pergi. Entah apa yang ada dalam pikiran Denny saat kemudian ia menarik wajah April dan menciumnya. Tepat di bibir. April terkejut, namun tidak berusaha mengelak. Ia malah terhanyut dan membalas ciuman Denny. April tak menyangka, lelaki seperti Denny bisa memberikan ciuman yang hebat. Tidak seperti mantan pacar April yang ciumannya basah. Euh.

April tak tahu berapa lama waktu yang terlewat, namun saat akhirnya ciuman itu berakhir, lelaki yang tadi mencoba untuk menggoda April telah pergi. April pun memikirkan ciuman tadi. Apakah maksud dibalik ciuman itu? Hanya permainan belaka? Atau Denny sudah melihat April sebagai perempuan?

"Sorry gue.. Gue pulang duluan aja deh," kata Denny dengan muram.

"Gue ikut."

Selama perjalanan mereka hanya diam. Ketika mobil berhenti di depan rumah, April baru angkat bicara.

"Permainan tadi kelewatan, Den."

"Gue tahu."

"Lo nggak usah maksain diri untuk cium gue."

"Gue ngga maksain diri."

"Bohong! Mana mungkin lo mau cium cewek?"

"Emang kenapa kalo gue mau cium cewek?!"

"Karena lo gay! Oh.." April sudah kelepasan bicara. Walaupun tak pernah diucapkan, namun seperti ada janji bahwa mereka tak akan menyinggung masalah orientasi Denny.

"Gue berubah."

Masih emosi, April kembali membentak Denny, "Apa buktinya?"

Dengan tiba-tiba, sebelum April sadari, Denny menarik wajahnya dan kembali mencium April. Tak lama Denny menjauhkan bibirnya hanya untuk bertanya, "Ini cukup?"

April tidak bisa menjawab dan hanya memandang Denny. Lalu Denny melanjutkan ciuman yang terputus tadi. Kali ini ia tak berhenti. Malah, ketika April membalas ciumannya, Denny memberanikan diri untuk menyentuh April. April masih sadar, dan saat Denny mulai menyentuh daerah terlarang, tangannya menahan tangan Denny.

"Sebaiknya gue masuk."

April mengambil tasnya dan keluar dari mobil untuk masuk ke dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang dan otaknya belum bisa mencerna kejadian tadi. Ketika dia bisa menguasai diri, April mendengar suara mobil Denny yang bergerak menjauh. Ia pun terduduk, memikirkan bagaimana ia akan menghadapi Denny hari Senin nanti.

Seperti yang April duga, hubungan mereka memburuk. Bahkan mereka tak menegur satu sama lain. Pernyataan bahwa Denny sudah berubah mulai terbukti. Gaya berpakaian Denny berubah, begitu pula sikap dan tutur katanya. Denny jadi sering berteman dengan lelaki dan mulai mengencani wanita, bukan sebaliknya. Sudah dua minggu perubahan ini April amati.

Siang ini April mengunjungi gedung Sastra Jepang untuk bertemu dengan temannya. Sebelum itu, ia ke kamar mandi terlebih dahulu. Saat berada di dalam cubicle, terdengar suara-suara perempuan yang sedang bergosip.

"Ren, gue denger sabtu ini lo diajak ke Suite Room Hotel Pasundan ya? Pasti tajir deh korban lo yang sekarang."

"Iya dong, tajir banget. Tapi pasti lo kaget kalau tahu siapa."

"Emang siapa?"

"Si Denny, yang Sastra Korea 2009."

"Hah, dia bukannya gay?"

"Dia berubah kali. Nggak tahu deh. Minggu lalu sih gue lihat dia ciuman sama temennya yang cewek di Heaven Club, siapa namanya?"

"Oh, si itu tuh, April. Korea 2009 juga kan?"

"Iya, bener April."

April tak peduli apa yang selanjutnya mereka bicarakan. Kalau tidak salah dengar, yang tadi berbicara adalah Karen dan Dian, primadona Sastra Jepang. Reputasi mereka buruk. Apalagi Karen, yang gosipnya pernah menjual tubuh kepada dosen demi nilai A. Dan Denny mengajaknya ke hotel? Hati April sakit mendengarnya. Sejak insiden ciuman dua minggu yang lalu, perasaan April kepada Denny berubah. Dari yang tadinya hanya sahabat, sekarang April melihat Denny sebagai lelaki yang pantas di perhitungkan. Dan sekarang, April yakin bahwa April menyukai Denny. Tapi semuanya terlambat. Denny sudah bersama dengan Karen. Apa lagi yang bisa April lakukan?

Maka sabtu malam kali ini April lewati sendirian di kontrakannya. Ia tak berniat pergi kemana-mana. Malam itu hujan, April tidak memiliki mobil dan tidak ada yang menjemputnya untuk pergi ke luar. Ia memilih untuk menyetel DVD, namun tidak benar-benar menontonnya. Pikirannya masih tertuju pada Denny. Hatinya sakit apabila membayangkan Denny dengan Karen, namun hal itu tak dapat April hindarkan. Layar televisinya menunjukkan adegan komedi, tapi April malah menangis.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk dengan kencang. April mengintip dari jendela. Kemudian ia berseru, "Denny?". Ia buru-buru membukakan pintu. Ia tak salah lihat. Yang saat ini berdiri di depannya dengan basah kuyup adalah Denny. Sahabatnya. Orang yang dicintainya.

"Lo ngapain disini, Den? Lo bukannya kencan sama.. Karen?"

"Gue salah. Gue emang berubah.. Tapi hanya untuk elo.."

"Berubah untuk gue? Lo masuk dulu deh, ganti baju dulu, baru kita ngomong, oke?"

Tak lama, Denny sudah berganti baju dengan kaus April yang kebesaran. Sambil meminum kopi susu buatan April, Denny bercerita.

"Lo tahu kan, orang tua gue hubungannya nggak baik. Gue mulai memandang komitmen dengan sebelah mata. Karena bagi gue, komitmen diantara mereka lah yang merusak keluarga gue. Karena itu gue lebih suka berteman. Dan kebanyakan teman gue dari SD sampe SMA itu perempuan. Itu lah yang membuat gue terlihat seperti gay.
Sebulan yang lalu, nyokap gue ngomong ama gue, beliau nasehatin gue, bahwa gue harus membuka diri. Komitmen itu tidak selamanya buruk. Bahkan komitmen yang membuat cinta kita kokoh. Dan gue harus melihat ke sekitar gue, karena banyak perempuan di sekitar gue yang sayang sama gue. Dan perempuan yang pertama gue pikirkan adalah.. elo."

Perasaan hangat yang menyenangkan menyebar di hati April. Mungkin itu karena susu coklat yang sedang Ia minum, atau karena perkataan Denny.

"Dan setelah itu gue mulai melihat lo sebagai perempuan. Gue berusaha keras untuk tetap melihat lo sebagai seorang teman, tapi nggak bisa. Gue mulai memiliki perasaan lain ke elo. Dan sabtu malam itu, waktu gue mencium lo, gue kehilangan kendali diri gue karena perasaan gue udah nggak tertahankan lagi. Tapi setelah itu, gue merasa gue udah nyakitin elo. Karena itu gue mencoba untuk memindahkan perasaan gue ini ke cewek lain."

"Karen," sebut April.

"Ya, Karen. Gue kira segalanya akan mudah sama dia. Gue berusaha keras untuk menyukai dia, dan bukannya elo. Karena itu gue nggak menolak ketika dia mengajak gue ke hotel. Tapi gue nggak bisa melihat dia sebagai seorang perempuan, seperti gue melihat lo. Begitu gue sadar bahwa yang gue lihat hanya lo, gue langsung tinggalin dia dan pergi kesini, ke rumah lo."

April hanya terdiam. Ia tak menyangka ada cerita panjang dibalik ini semua. Ia terharu dengan kenyataan bahwa dirinya lah yang membuat Denny berubah. Air mata bahagia mengalir di pipinya. Tangan Denny meraih wajahnya dan menghapus air mata itu.

"Aprilia Sunarta, gue sayang.. sayaaang banget sama elo. Elo gimana?"

"Gue..", April berhenti sejenak untuk menghela nafas,"Gue nggak bisa bohong kalo ternyata sejak insiden itu, gue mulai melihat lo sebagai cowok, dan gue juga mulai ada feeling sama lo. Dan sekarang, ya, gue sayang banget sama lo, Den."

Denny menarik April ke dalam pelukannya, dan mengelus rambut April dengan sayang. Kemudian ia tersenyum.

"Lo masih mau belanja underwear sama gue kan?"

"Mimpi aja lo."

Minggu, 10 Oktober 2010

Lavender Rose -- Chapter Seventeen -- Mark

Kukira semua akan berjalan lancar setelah aku pindah ke Indonesia, namun ternyata tidak. Keadaan di Wachovia Bank Jakarta sangat berbeda dengan yang di Washington D. C. Budaya korupsi sudah meresap di keseharian pekerjanya. Aku bahkan sempat tergoda, namun tidak sampai terjerumus. Akhirnya aku tidak tahan dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Chloe memberitahuku bahwa ada lowongan di Hypercon, perusahaan provider telepon genggam. Aku memasukkan CV-ku dan akhirnya dipanggil untuk wawancara.

Gedung Hypercon cukup besar untuk ukuran perusahaan baru. Setelah wawancara, aku tersesat saat mencari lokasi parkir mobilku. Ditengah kebingunganku, aku mendengar suara yang ku kenal.

"Iya, Yah. Pak Noto sudah bilang kemarin."

"Urusan akunting sedikit kacau saat ini. Kamu mungkin harus bantu Pak Noto sampai Ayah menemukan Manager Accounting yang baru, Delia."

Delia. Nama yang aku rindukan seperti orang merindukan air di musim kering. Mendengar namanya hatiku yang tandus kembali segar. Apalagi saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ia sedang berjalan menuju ke dalam gedung bersama seorang lelaki tua yang kalau tidak salah ayahnya. Ia tidak melihat ku, karena posisiku tertutup tiang. Ku tanyakan pada seorang lelaki yang juga sedang menuju ke dalam gedung.

"Excuse me, sir?"

"Yes, can I help you?"

"Do you know the man and the lady who just walked into the building?"

"Ah, yes. The man is the owner of Hypercon, and the young lady is his daughter who recently become an apprentice here."

"I see. Well, thank you for the information."

Sorenya aku mendapat kabar bahwa aku telah diterima dan mulai bekerja besok. Aku langsung mengurus surat pengunduran diriku dari Wachovia dan membereskan barang-barangku disana. Kelihatannya tak satu pun pegawai Wachovia yang keberatan dengan pengunduran diriku. Tak ada yang mengucapkan apapun kepadaku, jadi aku langsung pulang dan merayakan pekerjaan baruku dengan Chloe dan Tony di rumah.

Esoknya aku datang ke Hypercon. Tak disangka, yang menyambutku adalah ayah Delia, sang owner Hypercon dan ditemani oleh seorang lelaki yang tidak kukenal. Sepertinya ayah Delia tak mengenaliku. Mungkin karena penampilanku berubah.

"Welcome to Hypercon, Mr. Andrews. My name is Wisnu Wardhana, and this is Mr. Cahyo who is the current Director of Accounting. You will be working for him. Mr. Cahyo, Mr. Andrews."

"Mark Andrews, please to meet you."

"Muhammad Cahyo, please to meet you too. Ah, in case if you don't know, Mr. Wardhana is the owner of Hypercon."

"No need to mention it, Cahyo, hahaha. I have a habit to greet my employees. Is it a bad thing? You just get back to work, I know you're busy."

"Yes, sir. Mr. Andrews, I'll talk to you later."

"Allright, sir."

"Now, Mr. Andrews, I'm gonna show you your room."

Kami pun berpindah ke sebuah ruangan kecil namun terlihat nyaman. Ada sebuah meja kerja dengan kursi yang nyaman, komputer yang terlihat canggih, sebuah rak buku, sebuah sofa dan meja kopi. Di belakang meja kerja terdapat kaca besar yang menggantikan dinding, memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 5 lantai.

"Do you like it? It's a bit small but it's comfortable I think."

"I like it sir."

"Well, there are some books belonged to the former accounting manager. I guess you can read them before they are returned."

"Where did the former accounting manager go, sir?"

"He passed away, and he had no relative in Jakarta so I couldn't have his books sent back."

"I see."

"Well, there's one more thing, Mr. Andrews."

"Yes, sir?"

"You see, my youngest daughter is in her last year of college, and I let her help here so she can learn more about accounting. She's studying about it in the University of Indonesia. Her english is good, so I'll ask her to help you as your assistant while you can teach her about accounting. Is it okay?"

Yang Pak Wardhana maksudkan, apakah Delia? pikirku.

"That's okay, sir. What's her name, by the way?"

"Delia. She'll come this afternoon because she has classes in the morning. I'll let you know when she comes. Now you can start on your work. If you need something you can ask Santi outside, okay? She's the one who answers the phone."

"Okay, sir. Thank you."

Kemudian lelaki tua itu keluar dari kantorku. Mendengar kabar yang menggembirakan tadi, aku tersenyum bahagia. Aku memulai pekerjaanku sambil berpikir bagaimana reaksi Delia saat melihatku kembali.

Tak terasa sudah waktunya makan siang. Aku menyuruh Santi memesankan Nasi Padang. Sejak tinggal di Indonesia aku jadi menyukai makanan yang pedas-pedas. Kemudian, tak lama setelah jam makan siang berakhir, seseorang mengetuk pintu ruanganku.

"Please come in."

Kemudian Pak Wardhana masuk diikuti seorang wanita. Yang sudah terlihat dewasa dibanding saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia sedang melihat handphone-nya dan tidak memperhatikanku.

"Mr. Andrews, this is my daughter, Delia."

Kukumpulkan keberanianku untuk menyapanya.

"Hi, Delia."

Delia mengalihkan pandangannya dari handphone. Saat mata kami bertemu, tampak ekspresi terkejut di matanya. Dia mengenaliku. Aku tersenyum saat menyadari bahwa dia mengenaliku.

Mungkin Delia terlalu terkejut sehingga handphone-nya terjatuh. Dengan gugup dia mengambil handphone-nya sambil meminta maaf, kemudian dia menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahku.

"Delia, this is Mr. Andrews. You will be his assistant from now on."

"Uh, okay."

"I'll be leaving you two. And, Mr. Andrews?"

"Yes, Mr. Wardhana?"

"I'll have dinner together with Delia tonight. Would you like to join us?"

"I'd love to, sir."

"Okay, then. You can continue your work."

Pak Wardhana pun keluar, namun Delia tidak berpindah dari posisinya. Ia tetap berdiri kaku, menundukkan kepalanya.

"Surprise?"

Delia melirikku, kemudian hanya mengangguk. Aku tak puas dengan reaksinya.

"Miss me?"

Delia hanya diam saja. Hal itu membuatku marah dan lepas kendali. Ku hampiri ia dan kupeluk erat. Delia berusaha melepas pelukanku.

"Please, we're in the office.."

"Do you know how much I miss you? Do you know how hard my life became after you left me? Do you?"

Mendengar pertanyaanku Delia terdiam. Kemudian, perlahan ia membalas pelukanku.

"I'm sorry. I'm sorry. I'm so sorry."

Aku mendesah.

"Let's just.. get back to work."

Kemudian Delia melepaskan pelukanku dan langsung mengambil file-file dari rak buku.

Apa yang telah terjadi? Aku telah menemukan separuh hatiku. Namun ia tak mau membentuk hati yang utuh. Pikiran itu hanyut bersama angka-angka yang kutekuni. Mungkin nanti akan kutemukan jawabnya.

Rabu, 08 September 2010

Lavender Rose -- Chapter Sixteen -- Mark

Sudah dua tahun aku tinggal di negara ini.

Sejak aku berpisah dengan Delia, banyak hal buruk yang menimpaku. Sepulang dari Bali, Abe dan Mandy kecelakaan. Malam itu Tony sedang bersamaku. Abe dan Mandy sedang dalam perjalanan pulang dari kencan mereka saat sebuah truk kontainer menabrak mobil mereka. Aku tahu aku sudah terlambat saat aku tiba di rumah sakit.

Tony tidak menangis saat pemakaman Abe dan Mandy. Dia berceloteh seperti biasanya. Tentu saja ia yang masih berumur 2 tahun itu belum mengerti. Wasiat yang dibacakan oleh pengacara Mandy dan Abe mengatakan bahwa aku mendapat hak perwalian Tony. Ku peluk erat Tony saat peti mati keluarga terakhirku dikubur.

Kerjaku di Wachovia Bank tidak karuan. Pekerjaanku bertambah banyak ketika isu resesi berkembang. Dan Tony susah sekali untuk ditinggal. Keuangan menipis, dan stres itu kian menumpuk. Setahun kulewati, dan aku benar-benar tak tahan lagi. Kuambil cuti seminggu untuk memikirkan segalanya.

Dalam seminggu tersebut, tercetus sebuah ide. Aku akan pindah ke Indonesia. Kupikir tak ada lagi yang membuatku bertahan di negeri Paman Sam ini. Kudengar juga ada lowongan pekerjaan di Wachovia Bank cabang Jakarta. Biaya hidup disana lebih murah. Mungkin juga aku akan bertemu dengan Delia.

Akhirnya aku pindah ke Jakarta bersama Tony. Peruntungan kami membaik. Aku mendapat pekerjaan di Wachovia Bank cabang Jakarta. Chloe, adik Chris, tinggal di sebuah apartemen di Jakarta dan kami diizinkan untuk tinggal disana sementara rumah kami dibangun. Chloe bagaikan malaikat di hidupku yang sedang dilanda kehancuran ini. Dia yang menjaga Tony selama aku bekerja. Dia juga yang memilihkan Playgroup untuk Tony.

Chloe adalah wartawan The Jakarta Post. Ia sudah lama tinggal di Jakarta, dan sudah hafal jalan. Dia bisa berbahasa Indonesia. Aku belajar sedikit darinya. Chloe adalah seorang wanita yang sangat pintar. Meskipun tak pernah belajar lebih dalam mengenai ilmu akuntansi, dia mengerti cukup banyak tentang hal itu sehingga dia banyak membantuku dalam urusan kerja. Ia juga seorang yang cukup cantik. Berbeda dengan kakaknya Chris, Chloe adalah wanita yang tegas dalam menjalin hubungan. Seharusnya semua sudah cukup bagiku untuk memulai hubungan dengannya.

Sayangnya hatiku sudah kuberikan pada Delia.

Selasa, 07 September 2010

Lavender Rose -- Chapter Fifteen -- Delia

Kelas Akuntansi Lanjutan ini akan berakhir dalam beberapa menit. Jujur saja, aku tak ingin kelas ini cepat-cepat berakhir. Kak Tris sudah menunggu di lapangan parkir kampus dengan mobilnya. Sebelum mengantarku ke kantor, ia mengajakku makan siang. Aku belum merasa nyaman berada di samping Kak Tris. Lebih baik aku mendengarkan dosen tua ini mengajar daripada makan siang yang kikuk bersama Kak Tris. Namun apadaya, Kak Tris termasuk orang yang dekat dengan Ayah, dan aku tak mau ia mengadu pada beliau.

"Sampai jumpa minggu depan."

Kata-kata dosen membuatku tersadar dari lamunanku. Ah, berat rasanya kaki ini melangkah. Tak terasa, aku sudah menghampiri Kak Tris yang sedang merokok sambil bersandar pada mobilnya.

"Merokok itu nggak baik loh kak."

"Ah, Delia."

Tanpa mematikan rokoknya ia membukakan pintu mobil untukku. Kemudian ia sendiri masuk kedalam mobil, dan kami pun berangkat.

Kami makan siang di sebuah restoran seafood. Salah satu hal yang tidak kusukai dari Kak Tris adalah, ia selalu menganggap apa yang disukainya pasti kusukai juga. Padahal aku alergi udang.

"Del, udangnya enak banget loh. Kamu mesti cobain deh."

Dan salah satu hal yang tidak kusukai dari diriku sendiri adalah aku tidak bisa jujur di depan Kak Tris.

"Iya kak."

Menghabiskan siang bersama orang yang tidak kusukai dan berpura-pura memakan makanan yang tidak kusukai bukan merupakan hobiku. Untung Kak Tris tidak memperhatikan dan ia juga sepertinya ingin buru-buru kembali ke kantor. Saat kami sampai di kantor, kami bertemu Ayah.

"Wah, akhirnya kau kembali juga Tris. Tadi makan siang dimana sama Delia?"

"Di Seafood Corner, Pak. Udangnya enak banget, kapan-kapan Bapak mesti coba makan disana. Iya kan, Del?"

"Ng.. iya, Yah."

Ayah melirik curiga ke arahku.

"Begitukah? Oh, iya Del. Ayah memindahkanmu ke posisi lain, karena hari ini ayah sudah menemukan Manager Accounting yang baru. Ia yang akan mendidikmu. Kamu juga harus membantunya berlatih berbicara Bahasa Indonesia."

"Memangnya dari luar negeri, Yah?"

"Sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Tidak cocok dengan kantor sebelumnya makanya pindah."

"Begitu. Setelah ini Ayah yang antarkan Delia ke ruangannya saja ya?"

"Baiklah. Tris, kau kembali ke ruanganmu saja."

Kak Tris mengangguk sopan. Namun saat Ayah tidak melihat ia mengedipkan sebelah mata kepadaku. Aku memberikannya senyum palsu. Lalu aku mengikuti Ayah ke sebuah ruangan di lantai 5. Ayah mengetuk pintu. Terdengar suara yang anehnya familiar dari dalam.

"Please come in."

Handphone-ku bergetar tanda SMS masuk. Aku membacanya. Kak Tris mengajakku makan malam. Aku mencibir dalam hati.

"Mr. Andrews, this is my daughter, Delia."

"Hi, Delia."

Aku memindahkan pandangan dari layar handphone ke arah bos baruku. Dan aku begitu terkejut sampai-sampai handphone-ku terjatuh. Meskipun tumbuh kumis tipis diatas bibirnya dan gaya rambutnya berbeda, aku masih mengenalinya.

Dia adalah Mark.​

Senin, 26 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Fourteen -- Delia

Tiga tahun telah berlalu, dan hidupku banyak berubah, kearah yang lebih baik tentunya.

Ayah dan Ibu bercerai tak lama setelah kami kembali dari Bali. Sepertinya itu keputusan yang terbaik, karena sejak itu Ibu langsung pindah ke Prancis bersama pacarnya dan membuka butik disana. Kudengar butik Ibu sangat sukses disana. Pacarnya juga sering menjadi model pakaian perancang terkenal lainnya di Prancis.

Sedangkan Ayah, beliau jadi lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Sebelumnya Ayah hanya pulang untuk tidur, itu juga kalau tidak ada perjalanan bisnis. Sekarang tiap akhir pecan beliau menghabiskan waktu di rumah, entah hanya untuk membaca buku, bermain catur denganku, berdiskusi tentang mobil dengan Kak Mario, atau berenang bersama kak Anita. Namun hal itu tak membuat bisnis Ayah terbengkalai. Malah sekarang semakin maju, dan Ayah sedang mencoba membuat perusahaan provider telepon genggam prabayar.

Kak Anita pun juga berubah. Pulang dari Bali, kak Anita bertemu dengan seorang lelaki, dan tentu saja akhirnya mereka berpacaran. Suatu ketika lelaki ini, kak Andra, mengajak kak Anita pergi ke sebuah panti asuhan. Mungkin hal itu membuat kak Anita tersentuh. Malam itu juga, setelah kak Anita sampai di rumah, ia menceritakan segalanya padaku. Ia merasa sangat menyesal telah meninggalkan anaknya pada orang lain. Ia memohon-mohon padaku untuk menemaninya mengunjungi pasangan suami istri yang telah mengadopsi anaknya. Sebetulnya aku malas sekali, karena aku tak ingin terlibat dalam masalah kak Anita. Namun aku tak tega melihatnya. Baru kali ini aku melihatnya menangis sesedih itu.

Keesokannya aku menemani kak Anita berkunjung ke rumah Pak Suryasa. Aku tak ikut masuk kedalam, namun aku bisa mendengar sayup-sayup suara perdebatan dan tangis kak Anita. Setelah beberapa lama, kak Anita keluar menggendong bayi. Kemudian seorang wanita keluar hendak mengejar kak Anita sambil menangis dan meneriakinya. Seorang pria, mungkin Pak Suryasa, menahan wanita itu dan menyuruh kak Anita untuk cepat-cepat pergi. Kak Anita tak pernah bercerita sepatah kata pun tentang kejadian itu padaku. Dan aku pun tak pernah bertanya kepadanya.

Sejak itu Ferdi, nama anak Kak Anita, tinggal bersama kami di rumah Ayah. Sama sepertiku, Ayah juga tak mengajukan pertanyaan tentang Ferdi. Ayah langsung menerimanya, seakan-akan Ferdi sudah sejak lahir tinggal di rumah ini. Sekarang kak Anita tak pernah keluyuran lagi. Ia hanya di rumah mengurus Ferdi. Sedangkan kak Andra masih mengunjungi kak Anita sesekali, namun sepertinya kak Anita tak ingin dulu berhubungan dengan lelaki.

Tentang kak Mario, ia tak banyak berubah. Hanya saja akhir-akhir ini mukanya makin pucat dan tirus. Aku masih menemukan pil-pil bermacam warna di kamarnya, namun aku diam saja. Kak Mario sekarang bekerja menjadi IT di perusahaan Ayah. Selain itu, tak banyak yang berubah pada diri kak Mario.

Dan aku juga mengalami banyak perubahan. Lulus SMA aku diterima di Universitas Indonesia jurusan akuntansi. Sekarang aku telah memasuki tahun ketigaku. Mungkin sebentar lagi aku sudah harus membuat skripsi. Karena itu aku bekerja magang di kantor Ayah sebagai asisten akuntan. Dan Ayah berhasil mencomblangiku dengan salah satu pegawainya, kak Trisno. Dia lebih tua empat tahun dariku. Kerjanya sangat bagus, karena itu Ayah menyukainya. Kami telah berpacaran selama satu bulan sekarang.

Rasanya kehidupanku sudah nyaris sempurna. Namun rasanya ada yang kurang.

Sepotong hatiku tertinggal entah dimana.

Sabtu, 03 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Thirteen -- Mark

Segalanya telah aku persiapkan untuk malam ini. Aku sudah memilih sebuah restoran romantis. Letaknya di sekitar Denpasar. Mungkin akan memakan waktu lama untuk sampai di sana. Karena itu aku sudah menyewa mobil untuk malam ini. Aku sudah meminjam jas milik Abe. Hanya satu hal yang belum aku lakukan. Mengajak Delia makan malam.

Sore ini kami akan menonton pertunjukan tari berjudul Ramayana. Delia memberitahu kami bahwa tarian Ramayana berasal dari India. Tarian ini menceritakan tentang usaha Rama dalam menyelamatkan istrinya Sinta dari Rahwana. Aku bukan penikmat tarian, namun aku menyukai ceritanya.

Ditengah-tengah pertunjukan, aku menggenggam tangan Delia. Ia menoleh.

“Delia.”

“Yes?”

“I, um, wanna ask you something.”

Dia hanya diam namun menunjukkan ekspresi bertanya.

“Um, would you.. Would you like to have dinner with me tonight?”

“Tonight? With Abe, Mandy and Tony?”

“No. No, no, no. I mean just the two of us, you know. If you don’t mind.”

“That would be nice. I’d love to have dinner with you.” Ia tersenyum, lalu tertunduk malu.

Dan kami tak berbicara lagi sampai pertunjukan berakhir. Namun perasaan kami mengalir melalui genggaman tangan yang tak terlepas.

Kami pun akhirnya kembali ke hotel. Aku berbisik kepada Mandy untuk meminjamkan gaun formalnya kepada Delia. Mandy hanya bisa melotot tak setuju karena Delia masih berada di sekitar kami. Kemudian aku menawarkan untuk menjaga Tony suatu saat apabila Mandy dan Abe ingin berkencan. Ia memandangku tajam dan akhirnya setuju. Aku pun langsung menghampiri Delia.

“Hey, I’ll wait at the lobby at 8, okay?”

“Oh, okay.”

Kemudian aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. Jam 8 kurang 10 menit aku sudah berada di lobby dengan memakai jas Abe. Berulang kali aku berkaca hingga seorang doorman bertanya.

“Big night, sir?”

“Nah, just a dinner date. But I want it to be perfect.”

“Well, then good luck, sir.”

Tiba-tiba aku melihat seorang wanita cantik yang sedang memandangku lewat pantulan cermin.

“I thought I was too early.”

Sial, makiku dalam hati. Aku berhutang kepada Mandy banyak malam untuk menjaga Tony. Karena saat ini Delia sedang berdiri di depanku memakai gaun hitam dan sepatu hak tinggi. Dan ia terlihat semakin cantik karena Mandy mendandaninya.

“Do I look weird? I’m not used to this kind of outfit. And the make up too.”

“No, you’re too beautiful that I’m speechless.”

“Come on, you’re exaggerating.” Dia menunduk malu. Dia selalu menunduk ketika malu.

“Shall we?” Aku menyodorkan lenganku dan ia pun menyelipkan tangannya.

Dan seperti seorang gentleman aku pun membukakan pintu mobil untuknya.

Dalam setengah jam kami sampai di restoran. Aku memilih tempat di luar yang menghadap ke pemandangan kota di malam hari. Kemudian saat memesan makanan aku meminta Delia untuk memilihkan untukku.

“I want Indonesian food.”

“Do you like spicy food?”

“So much."

“Maybe Ayam Bakar Bumbu Bali? Balinese Spicy Grilled Chicken?”

“Let’s give it a shot.”

Delia juga memesan Ayam Bakar Bumbu Bali sepertiku. Ia menyebutkan pesanannya dalam Bahasa Indonesia kepada pelayan.

“What do you wanna drink?”

“I don’t know. I’m not feeling like to drink any kind of liquor right now.”

“Oh, I’m not gonna drink any of them anymore. I’m done with it. I’m ordering tea, do you want it too?”

“No, just coffee. Black coffee.”

Setelah pelayan mencatat pesanan kami, ia pun pergi. Aku teringat buket bunga mawar lavender yang tertinggal di kursi belakang mobil. Aku izin sebentar ke kamar mandi, padahal aku mengambil buket bunga itu. Layaknya film romantis tahun 80an, aku menyembunyikan buket bunga itu di belakang pundakku. Kemudian aku menghampiri Delia dan menyerahkan buket bunga itu kepadanya.

“Oh, Mark. This is very sweet. Thank you.”

“My pleasure.”

“Is it just me, or these are purple?”

“Actually it’s lavender.”

“Lavender roses? It must be really rare.”

“It’s a coincidence that the florist have some of them.”

Delia mengambil setangkai dari buketnya dan menghirup harumnya.

“It smells nice, can you smell it?”

Aku mengambil setangkai mawar lavender itu dan menghirupnya.

“Yes it smells really nice.”

Kemudian aku menyelipkan mawar lavender itu di telinganya. Delia tertawa.

“This is so corny.”

“But you look good with it.”

“Thank you.”

Tak lama pesanan kami datang dan kami pun makan. Aku sangat menyukai makanannya, tapi Delia kurang menyukainya. Ia bilang pelayannya di rumah bisa memasak lebih enak dari ini. Satu fakta lagi ku ketahui dari dirinya. Ia punya seoarang pelayan.

Musik mengalun pelan dari sebuah band yang bermain tak jauh dari kami. Banyak juga pasangan, yang sepertinya bukan orang lokal, berdansa mengikuti irama lagu. Aku pun tak ingin tertinggal. Aku menghampiri Delia dan menyodorkan tanganku.

“Will you dance with me?”

“I can’t, Mark.”

“Come on, Delia. Just once. Please? I’ll teach you. It’s simple.”

“Fine, just once okay?”

Dan tangannya yang lembut menyambut tanganku. Tangannya yang satu lagi meraih pundakku, dan tanganku yang satu lagi menghampiri pinggangnya. Kami hanya melangkah ke kanan dan kiri perlahan.

“See? It’s easy.”

Delia hanya tersenyum lebar. Tiba-tiba sebuah tangan menarik Delia dariku.

“Delia!”

“Ayah?”

“Apa yang kamu lakukan disini? Ayo pulang!”

Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan

“Sir, what do you want from her?”

“And who are you?”

“Ayah, ini teman Delia.”

“Teman kamu? Teman macam apa yang membawamu jauh dari Ayah? You, young man. Don’t ever touch your dirty hand on my daughter again. Do you hear me? Ayo pulang Delia.”

Ternyata lelaki itu adalah Ayah Delia. Dan beliau menarik Delia pergi dariku.

“But, sir!” Aku berusaha mengejar mereka, namun dua lelaki berseragam menahanku. Delia hanya bisa menoleh sesekali sambil meminta maaf padaku di sela-sela tangisnya. Aku berusaha memberontak, namun lelaki-lelaki ini begitu kuat sehingga aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Delia! Don’t leave me! Delia!”

Aku tak menghiraukan orang lain yang menonton adegan ini. Aku terus berteriak hingga Delia tak terlihat lagi. Baru lelaki-lelaki itu melepaskanku dan pergi meninggalkan restoran ini. Aku langsung berlari keluar dan sudah tak ada apa-apa lagi disana.

Tak ada apa-apa lagi. Seperti hatiku. Sang Rahwana sudah mengambil Sintaku.

Kamis, 01 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Twelve -- Mark

Saat aku terbangun, semua begitu terasa indah.

Aku melompat dari tempat tidurku dan membangunkan Abe. Dia mengerangkan protesnya.

“What time is it now? Uh, I’m still tired from yesterday.”

“It’s 7 a.m. Come on, man. Wake up, it’s a beautiful day.”

“God, it’s still early, Mark. Let me rest for awhile. What’s wrong with you?”

“No, nothing’s wrong. It’s actually perfect.”

Namun Abe tidak memperhatikan. Dia malah melanjutkan tidurnya yang sempat ku ganggu. Aku menghampiri jendela dan membukanya. Ku hirup dalam-dalam udara berbau asin menyenangkan ini. Terasa menenangkan. Aku kembali mengingat kejadian semalam.

“Mark.” Delia memanggilku.

“Yeah?”

Ia tidak menjawabnya.

“What’s wrong Delia?”

“Nothing.”

Wajahnya memerah. Ia terlihat sangat manis dengan muka malu-malu. Kemudian ia tertunduk. Entah apa yang mendorongku, namun tiba-tiba aku mengangkat dagunya hingga ia memandangku. Sepasang mata hitam itu memandangku, tidak tajam, tapi penuh perasaan. Sepasang mata hitam itulah yang membuatku jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta dengan perempuan yang baru ku kenal kurang dari 2 hari itu.

Dan perasaan cinta itu begitu memenuhi hatiku. Begitu penuhnya seperti sebuah gelas yang diisi dengan air dari keran sampai meluap, dan luapannya mendorongku melakukan sesuatu yang gila.

Aku mencium bibirnya dengan lembut. Sebuah kecupan ringan yang bahkan tidak bertahan lebih dari beberapa detik. Namun detik-detik itu terasa seperti selamanya. Kecupan singkat yang manis itu mempertegas keyakinanku untuk mencintai gadis yang berada dihadapanku ini.

Wajah Delia merah padam. Ia semakin terlihat manis. Ia menggigit bibirnya.

“Good night, Mark.”

Ia kemudian buru-buru masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Dan aku hanya tersenyum bahagia. Seperti saat ini. Semalam terasa begitu nyata dan aku tak bisa berhenti tersenyum. Hari ini terasa begitu indah untuk dilewatkan, dan aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

Jalanan masih belum terlalu ramai, hanya ada penduduk lokal yang bersiap-siap memulai aktivitas. Aku berjalan melewati berbagai toko sambil menolak tawaran para penjual, entah apa barang yang dijualnya. Kemudian aku berhenti di sebuah toko bunga.

“Good morning, sir.”

Aku menengok. Ternyata sang pemilik toko yang menyapaku.

“Are you looking for a certain flower, sir?”

“Um, not exactly. I just passed by and suddenly I’m thinking to buy some flowers for the girl I love.”

“For your lover? Ah maybe these red roses suits?”

“No, it’s too passionate. I’m looking for softer one.”

“Ah, you’re right. Red roses means lustful love. How about the pink ones?”

“Well, somehow I don’t think it suits her personality. She’s different. I’m looking for something different.”

“Oh, I know.”

Kemudian ia mengambil sebuket mawar berwarna ungu muda.

“These are lavender roses.”

“They’re pretty.”

“They are, sir. But it’s rather expensive, sir, because the seeds are imported from Australia.”

“I don’t mind the price. What does it mean.”

“It means love at the first sight.”

Kenyataan itu menghunjam diriku, namun dengan cara yang menyenangkan.

“I’ll get a bucket.”

Setelah aku membayarnya, aku memikirkan waktu yang tepat untuk memberikannya. Mungkin aku akan mencari sebuah restoran romantis dan mengajak Delia makan malam disana setelah tur hari ini. Akan kusuruh Mandy meminjamkan gaunnya untuk Delia.

I can’t wait for tonight!

Rabu, 31 Maret 2010

Lavender Rose -- Chapter Eleven -- Delia

Hari ini sangat melelahkan, namun menyenangkan. Setelah mengunjungi Tanah Lot, kami mengunjungi Bedugul. Ada sebuah pura yang dibangun di atas sepetak tanah yang berada di danau. Indah sekali pemandangannya. Orang Bali memang pandai menjaga alam. Aku yang orang Indonesia saja terpukau, apalagi Mark dan Mandy sekeluarga.

Saat ini mobil kami sudah mendekati lobi hotel. Kami pun turun dan masuk ke dalam hotel. Langit sudah gelap saat kami memutuskan untuk menyudahi tur pura, dan sekarang sudah pukul 9 malam WITA. Tony sudah tidur dalam pelukan Mandy. Hari ini tentu melelahkan pula baginya. Seharian ia berceloteh saja. Kalau ada sesuatu yang membuatnya senang ia akan menjerit girang. Aku jadi ikut tertawa melihatnya. Namun kalau ada yang membuatnya kesal, tangisannya akan pecah dan butuh waktu lama untuk menenangkannya. Aku sangat menyukai Tony, ia membuatku tertawa bahagia seharian ini.

Aku punya perasaan kuat kalau euforia ini akan berakhir, cepat atau lambat. Hari ini sudah cukup mengejutkan karena aku bisa berjalan-jalan tanpa tertangkap pesuruh Ayah. Mungkin besok atau lusa mereka akan menemukanku. Dulu waktu Kak Anita kabur pagi-pagi buta, pesuruh Ayah membawanya pulang malamnya. Mungkin karena pesuruh Ayah belum mengenal Bali dengan baik, mereka belum menemukanku. Kalau mereka tidak menemukanku sampai seminggu, aku akan kembali sendiri. Aku merasa tak enak.

Tanpa terasa aku sudah sampai di depan kamar Mandy. Mandy dan Tony sudah masuk lebih dahulu, dan Abraham sudah masuk ke kamar Mark. Aku tak tahu apa yang menahanku untuk masuk ke dalam kamar. Aku malahan memasang penyangga pintu dan berbalik untuk memanggil Mark.

“Mark.”

Aku bahkan tak tahu untuk apa aku memanggilnya.

“Yeah?”

Ia selalu menatapku dalam. Aku terpaku karenanya. Melihatku diam saja, Mark bertanya.

“What’s wrong Delia?”

Entah mengapa wajahku tiba-tiba memerah dan aku refleks menundukkan kepalaku.

“Nothing.”

Tiba-tiba jemari Mark mengangkat daguku sehingga aku kembali ditatapnya. Matanya seperti pasir hisap yang memerangkapku, membuatku tak bisa mengalihkan diri dari pandangannya yang sarat akan emosi itu. Dalam hati aku menebak-nebak apa arti pandangannya. Apakah ia memandangku karena ada sesuatu di wajahku? Apakah ia memandangku karena ia ingin memberitahuku tentang sesuatu? Atau apakah ia memandangku karena ia hanya ingin memandangku, seperti aku yang memandangnya karena hanya ingin memandangnya?

Sibuk dengan pikiranku, aku tak sadar bahwa jemarinya membawa wajahku mendekat. Ia membisikkan namaku. Dan dalam momen magis itu, ia menciumku dengan lembut.

Oh Tuhan!

Lavender Rose -- Chapter Ten -- Delia

Mobil kami berbelok ke kanan dan berhenti di loket karcis. Mandy menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada Pak Wayan untuk membayar karcis. Kami sedang berada di areal Tanah Lot, sebuah cagar budaya dimana terdapat sebuah pura yang berada diatas karang namun terpisah dari daratan. Sedikit. Mark bilang Mandy sangat menyukai hal-hal yang tradisional.

Aku melirik ke arah kembalian yang baru disodorkan kepada Mandy oleh Pak Wayan. Kemudian kami semua turun dari mobil dan berjalan memasuki area pasar sebelum sampai ke pura. Sambil berjalan, aku berpikir. Aku tahu bahwa turis asing mendapat ‘perlakuan’ yang berbeda, tapi kadang ‘perlakuan’ tersebut keterlaluan, setidaknya melewati batas toleransiku. Sebenarnya harga tiket itu tak masalah, Mandy sanggup membayarnya untuk kami, tapi aku tidak suka membuang-buang uang. Aneh, aku terlahir dalam keluarga kaya tapi jarang menikmati kekayaan tersebut. Lagi-lagi, terima kasih untuk Bik Yayah.

Mandy keluar dari sebuah kios dan memasang ekspresi kecewa. Aku bertanya kepadanya apa yang terjadi.

“I wanna buy some of those wooden sculptures, but it’s a bit expensive. I think it’s a bit wasteful to spend 1000 USD for souvenires.”

“Which one did you want?”

“The horses.”

Aku secara refleks melotot terkejut. Mark tertawa dan memberitahuku.

“She’s always like that. Buying useless things.”

“It’s not useless. It’s for our neighbors.”

Aku tersenyum melihat pertengkaran kakak-adik itu. Sedikit banyak aku merasa iri karena aku tidak pernah merasa akrab dengan kakak-kakakku. Kemudian aku mendapat ide.

“Mandy, gimme 200 and I’ll get 10 wooden horses for you.”

Mandy menghentikan pertengkaran dengan Mark dan mengangkat alisnya sambil tersenyum meragukan. Toh ia tetap memberiku dua juta rupiah dan melanjutkan pertengkarannya. Mark sesekali melirikku.

Tak lama kemudian aku keluar membawa kardus-kardus kecil berisi patung kuda kayu yang Mandy inginkan. Mandy terbelalak dan membuka kardus-kardus itu dengan tidak percaya.

“How did you do it? Did you rob them or something?”

“Of course not. It’s called the art of bargaining. Besides, I’m a local girl you know?”

Aku tersenyum bangga. Aku memang bukan penawar ulung. Mungkin Kak Anita bisa mendapatkannya dengan harga lebih murah. Tapi yang berada disini ‘kan aku, bukan kak Anita.

“Thank you so much, Delia. Mark is so right to bring you here. I’m going to put the horses in the car and you guys can just leave me. I’m with Abe and Mr. Wayan.”

Mandy pun bergegas membawa barang-barangnya ke arah parkiran mobil. Aku berdua dengan Mark berjalan pelan menuju ke arah yang semestinya tempat pura itu berada. Keberadaannya membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Padahal kami tidak hanya berdua disini, karena jalan dipenuhin berbagai jenis turis, namun rasanya seperti ada kami berdua. Kecanggungan itu terus berlanjut sebelum akhirnya Mark memulai percakapan.

“So, the art of bargaining?”

“Well, actually I’m not that good at bargaining. If my sister did that, she’d get the horses for about.. 5 USD for each.”

“Really? Wow, this guys are really good in trading and stuff.”

“Yeah, that’s why Bali becomes one of our biggest profit gainer.”

“You seems to like economy.”

“Yeah, totally. After I graduate from high school, I’m going to continue my study in economic fields.”

“That is interesting. You know what? I work as an acountant in D.C.”

“D.C. as Washington D.C?”

“Yeah. I know D.C. sounds cool, but it’s not as cool as you think.”

“Oh, come on..”

Aku dan Mark tertawa-tawa bersama. Perasaan hangat mengaliri tubuhku. Senang rasanya bisa tertawa lepas tanpa tekanan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku tertawa. Sudah seminggu kah? Dua minggu? Sebulan? Atau bahkan setahun?

“Hey Delia that’s the temple.”

Mark menggoyahkan lamunanku. Aku melihat pantai penuh dengan karang. Namun disisi sebelah kiri ada karang yang sangat besar, lebih seperti pulau kecil, dengan sebuah pura terbangun diatasnya. Untuk mencapai kesana kami harus menyebrangi air laut. Tidak jauh, dan air sedang surut. Kata Pak Wayan jika sedang pasang maka kita tak akan bisa mengunjungi pura itu.

Aku melangkahkan kakiku kedalam air. Sandalku basah, tapi aku tidak peduli. Banyak karang disitu dan aku harus hati-hati melangkah, kalau tidak salah-salah aku bisa tergelincir dan jatuh membentur karang. Aku bergidik. Mark melangkah dibelakangku. Aku mengambil langkah ke kiri dan mendarat di sebuah batu licin berlumut. Aku tersenyum kecut. Sepertinya ketakutanku terjadi. Badanku limbung seketika. Aku menutup mata dan mengharapkan sakit itu datang. Namun sepasang lengan kokoh memelukku dari belakang, mencegahku terjatuh.

Aku menoleh. Mark tersenyum lembut.

“Watch your steps, Delia.”

Aku kembali menghadap kedepan, berusaha menyembunyikan wajah merahku. Aku berusaha mengendalikan diri dan melepaskan diri dari pelukan Mark dengan sopan. Aku hendak melanjutkan langkah, namun Mark menggenggam tanganku. Aku terpana, namun ia menghiraukanku. Ia membimbing langkahku sampai akhirnya kami tiba di kaki tangga menuju ke pura. Kami menaiki tangga itu dan sampai di atas.

Pemandangannya menakjubkan. Laut tanpa batas dan puri yang eksotis. Angin berhembus, dan kami terdiam menikmatinya. Tangan Mark masih menggenggam tanganku. Ia kemudian mempererat genggamannya padaku.

Aku teringat kata-kata Kirana saat ia bercerita tentang kencannya dengan seorang teman sekelas.

“Kita gandengan tangan waktu itu. Gue seneng banget.”

“Gandengan tangan doang udah seneng banget sih, Kir.”

“Emang lo nggak tau artinya gandengan? Gandengan itu artinya ikatan. Mudah-mudahan gue bisa terikat sama Eric. Bukan cuma berakhir dalam satu kencan. Hehe.”

Sambil membalas eratnya genggaman Mark, aku berharap. Jangan sampai ikatan ini terputus.

Lavender Rose -- Chapter Nine -- Delia

Pening menyerang kepalaku saat aku mencoba membuka mata. Aku mengerang pelan. Di sekitarku terdengar suara wanita yang berbicara dengan bahasa Inggris yang belum dapat ku cerna dengan pikiranku yang belum sadar ini. Aku melihat ke sekeliling arah. Sepertinya aku sedang berada di sebuah kamar hotel. Tapi sepertinya bukan di kamar hotelku karena aku tak mengenalinya. Kemudian seorang lelaki menghampiriku.

Aku mengenalinya. Ia yang tadi siang melihatku dengan sorot penuh makna. Kalau tak salah aku bertemu dengannya semalam di Hard Rock Cafe saat aku sedang mabuk-mabukan. Tunggu sebentar. Mabuk-mabukan? Aku?

“Hey, are you alright?”

“Yeah, sort of. I’m just a litlle bit dizzy.”

“Here. A cup of espresso always help me after a drunken night.”

“Ugh, I’m not a big fan of coffee actually.”

Namun ku terima juga cangkir kopi itu dan menyeruputnya. Pahit. Langsung kuletakkan di meja di samping tempat tidur.

“Where’s your hotel? I’ll take you back.”

Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Otakku seperti memutarkan film flash back dari kejadian kemarin. Setelah aku kembali ke hotel, aku mendapati Ayah dan Ibu bertengkar di lorong di depan kamar. Kali ini berbeda dari biasanya. Terasa lebih sengit. Bahkan Ayah mengeluarkan kata-kata kasar seperti ‘pelacur’ dan ‘sundal’. Dari apa yang ku curi dengar, sepertinya alasan mereka bertengkar adalah karena Ibu diam-diam mengajak serta lelaki selingkuhannya ke Bali, namun ketahuan oleh Ayah. Aku mencoba melerai mereka, namun Ibu malah mendorongku dan menyuruhku pergi. Sakit hati dengan perlakuannya membuatku benar-benar pergi. Aku berlari keluar hotel dan menyetop taksi. Tempat yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah Pantai Kuta, jadi kusuruh sopir untuk mengantarkanku ke Pantai Kuta. Namun saat taksi melewati Hard Rock Cafe, aku langsung meminta untuk diturunkan disitu saja.

Aku masuk dengan mudah. KTP-ku dituakan 1 tahun untuk mempermudah proses pembuatan SIM, karena saat aku berumur 16 aku sudah bisa menyetir mobil, seperti suruhan Ayah. Aku masuk dan langsung memilih untuk duduk di kursi bar. Entah pikiran gila mana yang melintasi otakku, aku langsung memesan bir kepada pelayan yang sedang mengelap gelas di depanku. Begitu datang aku langsung meneguknya. Rasanya seperti jamu, pahit dan tidak enak. Tapi seiring tegukan kedua rasa penat di kepalaku mulai berkurang, dan aku memaksakan diri meminumnya sampai habis. Air mata menetes dari sudut mataku, sebagai akumulasi dari stress pertengkaran Ayah dan Ibu, sakit hati atas perlakuan Ibu, dan rasa pahit dari bir ini. Kepalaku pusing, namun aku memaksakan diri memesan segelas bir lagi.

Dan suara itu menahanku menenggak gelas kedua. Lelaki itu. Lelaki yang sama yang berada di hadapanku sekarang. Aku tak ingat apa yang ia katakan kepadaku, begitu pula dengan apa yang kukatakan kepadanya. Kurasa setelahnya aku pingsan, karena aku tak bisa mengingat apapun. Mungkin ia yang membawaku kesini. Tunggu dulu, jangan-jangan dia berbuat yang macam-macam kepadaku.

“Did you do something to me?”

“Of course not! I’m not that kind of guy.”

“Oh, sorry.. Um what’s your name?”

“Mark.”

“I’m sorry Mark, it’s not like me to judge someone right away.. Where am I?”

“You’re in my sister’s room. You passed out last night and I didn’t know where your hotel was so I took you here.”

“Thank you, you’re so nice.”

“Don’t mention it. So, where’s your hotel?”

“Uhm, I’m not in the mood to go back right now..”

“Why? What happened? It’s okay, you can tell me.”

Tatapan matanya benar-benar menghipnotisku sehingga tanpa sadar aku menceritakan semua kepadanya. Ia yang tadinya berjongkok di depanku berpindah posisi dengan duduk di sampingku, kemudian ia mengenggam tanganku.

“I see. If I were you I wouldn’t want to come back too.”

Tentu saja. Aku sudah muak bertemu dengan keluarga palsuku. Aku hanya ingin kabur sejenak dari kebohongan ini. Tiba-tiba aku mendapat ide.

“Mark, can I stay here?”

“Huh?”

“Is there any room available in this hotel?”

Suara wanita yang tadi kudengar menjawab pertanyaanku.

“No you can’t. The rooms all are booked. It’s peak season you know?”

Sebelum hatiku bertanya-tanya siapa wanita itu, Mark sudah menjawab.

“It’s my sister there. She’s Mandy.”

“Oh, hi Mandy.”

Mandy tersenyum sambil menggendong seorang bayi yang sedang berceloteh diam. Aku pun memikirkan strategi selanjutnya agar aku tak perlu kembali.

“Hey, can I stay in this room? Just for a couple of days. I’ll ask for extra bed, so I won’t disturb you. I’ll pay the extra fee too. Please, help me.”

Mark beranjak dari tempat tidur. Ia menghampiri Mandy dan menjelaskan keadaanku dengan suara pelan. Mereka sedikit berargumen sebelum akhirnya Mandy menyerah dan mengiyakan permintaanku.

“Alright, but you have to help me babysit Tony, young lady. What’s your name again?”

“Delia.”

Aku menjawab bersamaan dengan Mark. Aku terkejut. Bagaimana dia bisa tau namaku padahal aku belum menyebutkannya sama sekali? Kemudian Mark menjelaskan.

“From the guy who called you yesterday..”

Teringat dengan ekspresi kecewanya, aku refleks menjawab.

“That’s my brother.”

“Really?”

Sebuah senyum mendadak menghiasi bibirnya. Saat itu aku menyadari, bahwa Mark sangat tampan. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya dan wajahku memerah. Aku mencoba menyembunyikannya dengan menundukkan wajahku.

“Yeah..”

Kemudian Mandy berbicara.

“Hey, you better get ready. I’m going for a tour today and I don’t wanna be late. Go take a shower or I’ll leave you.”

Mark pun berjalan keluar sambil menggerutu. Aku diam saja di tempat tidur, membayangkan apa yang akan aku lakukan seharian selama mereka pergi.

“You too, Delia. Be quick, or I’ll leave you too.”

“Me?”

“Yeah, of course. Do you think we’ll leave you here? Come on, the tour guide will be here soon.”

“Thank you, Mandy!”

Aku memamerkan senyum terlebarku kepadanya dan bergegas ke kamar mandi. Mungkin liburanku yang sebenarnya baru akan dimulai.

Lavender Rose -- Chapter Eight -- Mark

Taksi memelan ketika kami tiba di lobi hotel. Aku berteriak kepada bellboy untuk membawakan surfboard-ku ke kamar sementara aku memapah Delia. Dengan satu tangan, aku mengeluarkan dompetku dan memberikan uang rupiah berwarna biru kepada bellboy itu untuk dibayarkan kepada taksi. Aku sendiri langsung melangkah menuju lift.

Selama menunggu lift, Delia selalu mengigau dalam Bahasa Indonesia, yang tentu saja tak dapat ku mengerti. Sial, sepertinya aku akan mengambil kelas Bahasa Indonesia. Aku tak mau bahasa menghalangi komunikasi antara aku dengan Delia. Kemudian pintu lift terbuka dan kami langsung menuju ke kamarku.

Aku menyuruh bellboy meletakkan surfboard di kamarku sementara aku membawa Delia ke kamar Mandy. Aku menekan bel dan Mandy pun keluar membukakan pintu. Aku masuk ke kamarnya dan menidurkan Delia di kasur.

“Whoa, you didn’t tell me thet it’s a local girl.”

“I was kinda panic back there.”

“I don’t remember that you have an Indonesian friend.”

“You’re right. I don’t have one.”

“Mark! Don’t tell me you just met her.”

“A couple hours is quite long enough.”

“Mark, she’s a stranger!”

“But I love her!”

“What? Love? What kind of love? Love at first sight?”

Mandy memutar bola matanya. Aku terdiam dan hanya mengangguk.

“Mark!”

“What should I say, Mandy? That’s what happened. I don’t want it to happen, but it happened. I couldn’t control it. It is what it is.”

“You’re insane!”

“Yep. I don’t deny it.”

“I don’t believe it.”

“Please take care of her, Mandy. Please. Just one night, okay? I’ll figure it out the rest. Okay?”

“Alright. Just one night, promise me.”

“I promise.”

“Good. Now get off, I’m gonna put Tony in Bed.”

Aku tahu meskipun Mandy kesal, dia tak akan bisa menolak permintaanku. Hanya aku yang ia punya, sebelum ia menikah tentunya. Dan hanya ia yang aku punya. Orangtua kami meninggal karena kecelakaan mobil ketika aku berumur 10 tahun dan Mandy 17 tahun. Kami kemudian dirawat oleh Grandpa sampai beliau meninggal 5 tahun kemudian karena serangan jantung. Mandy lah yang kemudian merawatku sampai aku dewasa. Dulu saat ia bilang ia akan menikah, aku marah. Mungkin sebenarnya aku hanya tak mau kehilangan Mandy. Tapi hingga sekarang Mandy selalu memberikanku bantuan saat aku memintanya. Dia sudah seperti ibu bagiku.

Aku mengajak Abraham ke kamarku, namun ia menghampiri Mandy berciuman selamat malam. Aku mengamati Delia terakhir kalinya untuk hari ini dan berharap ini bukan terakhir kali untuk selamanya. Aku menghela nafasku dan menyuruh Abraham untuk bergegas.

Di kamarku, aku tak bisa memejamkan mata. Aku memikirkan bagaimana reaksi Delia ketika ia sadar. Aku takut ia tersinggung karena aku membawanya ke tempat asing. Tapi kalau aku tidak membawanya kesini, kemana lagi ia harus ku bawa? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Semoga ia mengerti dengan penjelasanku.

Dan malam ini ku lewatkan dengan pikiran tentang Delia.

Lavender Rose -- Chapter Seven -- Mark

“Here you go.”

Aku langsung berlalu tanpa mengucapkan apapun setelah penjaga Hardrock Cafe mengembalikan tanda pengenalku. Di belakangku, Chris menyusul. Suasana Hardrock Cafe sepi, wajar karena sekarang masih jam 7 malam waktu setempat. Cafe ini baru akan ramai pukul 9 ke atas, dan tentunya oleh turis-turis asing sepertiku. Aku langsung memesan bir kepada pelayan, begitu juga Chris. Sambil menikmati bir kami mengobrol. Kami saling bertanya kesibukan kami masing-masing. Ternyata Chris sedang belajar mematung dengan seorang seniman lokal bernama Putu Dewi Puspita. Aku menebak bahwa itu bukan hanya pelajaran mematung saja mengingat masa lalu Chris sebagai heartbreaker.

Kami sudah mengobrol selama satu jam ketika ruangan cafe ini sudah terisi beberapa pengunjung. Aku melihat kesekitar. Ada sepasang gay dipojok, seorang lelaki berwajah latin yang terlihat sedang menunggu seseorang dan seorang gadis lokal yang duduk tidak jauh dari kami. Aku terkejut, karena gadis itu adalah Delia.

Ia terlihat kacau. Kepalanya menunduk. Ia baru mendongak ketika seorang pelayan datang membawakannya segelas bir. Ia meneguk bir itu sekali. Terlihat dari ekpresi wajahnya bahwa ia tidak terbiasa, atau bahkan belum pernah sebelumnya meminum bir. Ia lalu memaksakan diri untuk menenggak habis birnya. Dalam ekspresi pahitnya ia menutup mata. Dan air matanya bergulir. Setelah birnya habis, ia membuka matanya. Ia belum puas, padahal ia sudah terlihat mabuk. Ia lalu memesan satu gelas bir lagi kepada pelayan di depannya.

“One more.”

Aku permisi meninggalkan Chris yang terbengong-bengong melihatku meninggalkannya ditengah-tengah percakapan. Aku harus menghentikannya. Ia tidak bisa minum sebanyak itu.

“Excuse me miss. I think you can’t handle it.”

“Who are you?”

Ia terlihat bingung. Tapi kemudian muncul ekspresi mengenali.

“Ah.. the guy from the beach. I remember you. I remember your eyes.”

“Yeah that’s me. You look drunk, and I don’t wanna let you drive by yourself.”

“I don’t drive.”

“How did you get here? Taxi?”

“Yeah.”

“Well, I’ll accompany you then. It’s not safe for a drunk girl alone in a taxi.”

“Oh.. okay then. If you don’t mind.”

“So where do you stay? At a hotel? What’s the name?”

“Uh, I don’t know.. You can take me anywhere.. Anywhere..”

Kemudian ia pingsan. Untung aku menangkapnya. Sekarang aku bingung harus berbuat apa. Kalau aku tidak dididik menjadi gentleman oleh Kakekku, aku mungkin sudah melakukan yang aneh-aneh terhadapnya. Tapi tidak. Aku akan mencarikannya tempat untuk beristirahat. Mungkin setelah ia sadar, aku akan mengantarnya kembali ke hotelnya. Dan mungkin, aku punya kesempatan untuk bisa mengenalnya lebih dekat. Jadi aku menelpon Mandy.

“It’s peak season, Mark. They don’t have rooms anymore. It’s all booked.”

“But I can’t just leave her here, Mandy. She means a lot.”

“Why don’t you bring her to your room? Your room is big enough.”

“I’m afraid she’ll get mad when she’s awake.”

“Okay, fine. She can stay in my room. Abe will sleep in yours tonight, got it?”

“Gosh, thank’s! I love you so much!”

Dibantu oleh Chris, aku memapahnya ke luar cafe. Chris menyetop taksi dan aku mendudukkan Delia dengan hati-hati di dalam taksi. Aku berterimakasih pada Chris dan meminta maaf karena tidak bisa mengobrol lebih lama. Tak lama, taksi pun berjalan menuju hotelku. Selama perjalanan, aku memperhatikan wajah Delia dan bertanya dalam hati,

“I’m not that kind of superstitious guy, but is it a fate that we meet again?”

Lavender Rose -- Chapter Six -- Mark

Dering handphone-ku mulai mengganggu.

Aku memaksakan mataku untuk terbuka dan membaca nama yang tertera di layar handphone-ku. Amanda Houston. Aku mengumpat kesal dan mengangkatnya.

“Yeah, Mandy?”

“Wake up, sleepyhead. It’s already 10. We’re going to visit someplace called Trunyan, and if you don’t hurry we’ll leave you.”

“Just leave me. I still have the jetlag. Besides, I’m not in the mood to have cultural tour right now. I’m gonna meet a friend on Kuta so just leave me, I’m okay.”

“Fine. We’re going straight now. Bye, take care.”

Aku langsung menonaktifkan handphone-ku dan melanjutkan tidur. Jam 2 siang aku baru terbangun. Aku teringat bahwa aku akan bertemu temanku Chris di kuta. Aku mengaktifkan handphone dan menelponnya. Beruntung, ternyata dia sedang berada di sekitar Kuta. Aku segera mencuci muka dan menyikat gigi. Tak lupa aku membawa papan surf-ku karena siapa tahu ombak sedang asyik-asyiknya. Aku menelpon hotel untuk memesan taksi, kemudian aku berangkat.

Sampai disana aku lupa dimana tempat yang Chris sebutkan, jadi aku hanya turun di pinggir jalan dan langsung menuju pantai.

Pantai itu cukup ramai ternyata. Banyak juga turis-turis yang berkeliaran, jadi tidak terasa bahwa aku sedang berada di Asia. Aku melangkahkan kaki mendekati pantai, papan surf-ku aku letakkan diatas pasir bersama tas backpack-ku, dan mulai melihat ke sekitar.

Tiba-tiba perhatianku terpusat pada seorang gadis lokal yang sedang berjalan sendirian di tepi pantai. Ia berjalan menunduk, semakin mendekatiku. Kemudian dia mengangkat kepalanya, dan langsung melihat kepadaku. Tepat di mataku.

Matanya menyorotkan kesedihan. Ia seperti meminta tolong kepadaku agar diselamatkan. Ya Tuhan, aku tak bisa mengalihkan pandanganku. Aku ingin berlari dan memeluknya, namun aku takut ia akan marah. Aku ingin melakukan apapun untuknya, untuk menghapus sorot kesedihan itu dari matanya. Tapi namanya pun aku tidak tahu. Aku hanya bisa berdiri diam sambil menatapnya, berharap ia tahu bahwa aku akan menjual nyawaku demi kebahagiaan.

Kalau cinta pada pandangan pertama memang ada, maka aku sedang mengalaminya. Yeah.

Aku berharap aku punya keberanian untuk menghampirinya. Aku ingin sekedar berkenalan dengannya. Ia terlihat berpendidikan, mungkin ia bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Ku harap. Aku mengumpulkan sisa harga diriku dan ketika aku sudah hampir melangkahkan kakiku mendekatinya, seorang lelaki berteriak dan memunculkan ekspresi kesal di wajah Asianya. Aku mendengar sekilas apa yang lelaki itu teriakan, terdengar seperti Delia. Itukah namanya? Nama yang unik, tapi aku menyukainya.

Delia menghampiri lelaki itu. Akupun kecewa. Mungkin lelaki itu kekasihnya. Atau bukan. Ekspresinya juga menunjukkan bahwa ia pun sama kecewanya denganku. Kemudian ia bergegas berlari menuju lelaki pengganggu itu. Disela langkah kakinya, ia menyempatkan diri untuk sekali lagi menengok ke arahku. Aku menyebutkan namanya tanpa suara. Delia. Ia terlihat terkejut, tapi kemudian tersenyum kecil dan melanjutkan langkah kakinya. Akhirnya ia tidak terlihat lagi.

Hatiku terasa kosong memikirkan kecilnya kemungkinan bahwa aku akan bisa melihatnya lagi. Mungkinkah?

Lavender Rose -- Chapter Five -- Mark

Aku melihat ke jendela luar pesawat dengan tidak sabar.

“Chill out, Mark. It’s gonna land in a few minutes.”

“I know, Mandy. I just can’t wait any longer.”

“Just sit back and relax. Or help me with this annoying seat belt so I can hold Tony.”

Aku memutar bola mataku kemudian membenahi seat belt Mandy yang terbelit. Mungkin aku memang memang sedang kesal karena tak kunjung tiba di Bali sehingga aku tak bisa membenahi seat belt itu. Segera kupanggil stewardess untuk mengurus seat belt sialan itu. Mandy mengangkat alisnya sebelah.

“I told you to chill out, Mark. It’s only a few minutes.”

“Fine!”

Aku terpaksa duduk manis untuk beberapa saat. Namun aku tak bisa menahan kebahagiaanku saat akhirnya pesawat mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai.

“We’re landing! Woohoo!”

Tony tertawa melihat tingkah kekanak-kanakanku. Sepertinya dia juga merasa bersemangat dengan liburan kali ini. Aku tersenyum lebar padanya. Kemudian terdengar suara interkom yang menandakan bahwa kami sudah boleh melepaskan seat belt dan dengan tertib turun dari pesawat. Aku membantu Mandy membawakan tas Tony sementara Abe-panggilanku untuk Abraham, membawakan tas Mandy. Kami bersama-sama turun dari pesawat dan setelah melalui proses birokrasi yang cukup panjang akhirnya kami bisa keluar.

Pemandu kami sudah menunggu. Pak Wayan namanya. Ia seseorang yang ramah dan lancar berbahasa Inggris sehingga aku tak mengalami kesulitan berkomunikasi dengannya. Menggunakan mobil sewaan, kami diantar Pak Wayan menuju hotel bintang lima yang sudah kami reservasi sebelumnya. Aku bukan orang yang senang dengan kemewahan, tapi Mandy tidak mau liburan tanpa fasilitas yang memadai. Aku tak bisa menolak karena, hei, dia yang membayar semuanya. Teknisnya sih, suaminya.

Karena kami sampai malam hari, kami langsung beristirahat di kamar masing-masing. Mandy sekeluarga tidur dalam satu kamar besar sedangkan aku tidur di kamar yang sedikit lebih kecil di sebelah kamar Mandy. Namun tetap saja kamar itu terlalu mewah untukku.

Malam ini aku akan beristirahat, karena besok kami akan menjelajahi Bali. Yeah!

Lavender Rose -- Chapter Four -- Mark

I’m definitely gonna be late for work, pikirku. Aku berlari kencang menuju stasiun subway terdekat dari flat kecilku. Saat ini pukul 7.45 pagi dan jam kantor dimulai pukul 8.00 tepat. Aku tidak suka terlambat untuk menghadiri apapun. Bagiku, itu sama saja dengan melanggar kesepakatan. Cowok macam apa yang suka melanggar kesepakatan? Pastinya bukan aku.

Setelah membeli karcis dan masuk ke peron, aku bergegas masuk ke kereta. Perjalanan dari Rhode Island Avenue sampai di kawasan White House memang hanya memakan waktu 10 menit. Namun keluar dari subway aku harus berlari ke Wachovia Bank, tempatku bekerja, yang berjarak 2 blok dari subway tempatku berhenti. Aku hanya bisa berharap semoga 5 menit cukup untuk sampai ke Wachovia.

Dan harapanku terkabul, aku sampai di Wachovia pukul 7.58 dan langsung memasukkan kartu absensiku. Rekan sekantorku, Eric, langsung menyapaku yang masih berkeringat.

“What’s with the sweat? Woke up late on your last day of work?”

“Yeah, I’m getting too excited about the vacation. I was still polishing my surfboard when I realized that I still had to go to work today.”

“Man, you’re really into it.”

“Of course! Bali’s not just some place.”

“When exactly will you go by the way?”

“The day after tomorrow. I have to visit my sister in NYC first and then we’ll go together along with her husband and son.”

“Whoa sounds like a family trip.”

“Well, I don’t give a shit. I’ve been dreaming to visit Bali ever since my first surf with my board so I’m not missing any chance.”

“Childhood dream, eh? Hey, I gotta get going. The Boss need me back there so good luck with your trip and have fun. Don’t forget to get me some hot Balinese babe, OK? Hahaha.. Catch you later.”

“Haha.. Yeah.. Catch you later, bro.”

Obrolan bersama Eric mengingatkanku tentang liburan ke Bali yang sudah kurencanakan sejak 2 tahun yang lalu. Aku menyisihkan gajiku setiap bulan untuk mewujudkannya. Dengan sedikit bantuan Mandy, kakak perempuanku, aku akhirnya benar-benar akan pergi ke Bali. Tentu saja aku tak menolak saat Mandy berkata bahwa Abraham, suaminya, dan Tony anaknya yang masih bayi akan ikut. Lagipula sepertinya akan lebih menyenangkan pergi berlibur bersama keluarga daripada sendirian.

Hari benar-benar tidak membosankan. Sebagai akuntan, aku merasa muak harus berkutat dengan angka-angka setiap harinya. Namun walaupun hari ini pekerjaanku lebih berat dari biasanya, aku tetap bersemangat karena saat rekan-rekanku bertemu denganku, mereka selalu menanyakan tentang liburan Bali-ku, dan aku dengan senang hati selalu menjawabnya. Hal itu membuat semangatku membuncah sehingga aku tak terlalu pusing saat berhadapan dengan angka-angka.

Jam 17.00 aku akhirnya melangkah keluar Wachovia diiringi kata-kata “selamat berlibur” dan “kutunggu oleh-olehnya”. Aku menyetop taksi dan menyebutkan dengan mantap, “Washington Dulles International Airport”. Aku mengambil penerbangan sore menuju New York. Disana, Mandy, Abraham dan Tony sudah menungguku bersama koper-koper yang sudah kutitipkan pada mereka sehari sebelumnya. Ah, aku benar-benar tak sabar.

I’m one step closer to Bali!

Lavender Rose -- Chapter Three -- Delia

“Delia, Ayah harus memberitahumu tentang sesuatu. Coba kamu duduk dulu.”

Aku duduk di sofa yang Ayah tunjuk. Dalam pikiranku muncul pertanyaan-pertanyaan, hal apa yang kira-kira akan ia beritahukan? Perceraiankah? Atau masih ada yang lebih buruk lagi? Hal apa yang lebih buruk dari perceraian?

“Sebelumnya Ayah ingin tahu, Delia kapan mulai libur akhir tahun?”

“Kira-kira minggu depan, Yah.”

“Kalau begitu, Delia sebaiknya bersiap-siap.”

“Bersiap-siap untuk apa?”

“Kita akan pergi berlibur ke Bali selama seminggu.”

“Kita? Maksud Ayah, kita semua?”

“Tentu saja, Delia. Ayah tidak mau ada yang tidak ikut dalam liburan kali ini.”

“Mengapa tiba-tiba?”

Ayah termenung sejenak. Kemudian beliau menjelaskan maksudnya.

“Kau tentu tahu Delia, Ayah dan Ibu tak pernah akur sejak dulu. Minggu lalu kami berdebat dan memutuskan untuk bercerai. Namun keluarga besar meminta kami berdua memberikan kesempatan bagi satu sama lain. Pengacara Ayah mengusulkan agar kami pergi berlibur untuk mendapatkan suasana baru. Tapi tentu kami tak mau hanya pergi berdua. Masa kami meninggalkan kalian sendiri di rumah sementara kami bersenang-senang?”

Kak Anita mendengus. Wajar saja kalau ia menganggap perkataan Ayah lucu. Alasan Ayah mengajak kami pastinya bukan karena kasihan, tetapi karena Ayah akan merasa awkward untuk pergi berdua saja bersama Ibu. Aku juga ingin tertawa, namun tak berani menyinggung Ayah dan Ibu. Sementara itu Ibu dan Kak Mario diam saja.

“Oke. Kapan kita berangkat?”

“Kita berangkat minggu depan.”

Lavender Rose -- Chapter Two -- Delia

Sekolahku tak bisa dibilang sekolah favorit. Aku hanya bersekolah di SMA negeri biasa yang tidak terlalu terkenal. Ayahku dulu sempat ingin memasukkanku ke sekolah swasta mahal, tapi aku lebih memilih bergaul dengan anak-anak sederhana daripada anak-anak sok kaya yang suka membangga-banggakan harta orangtuanya. Kak Anita sempat mengejekku lantaran aku memilih untuk mendaftar di SMA Negeri 300.

“Sekolah apaan tuh? Gue kok nggak pernah denger ya? Del, lo kalo mau daftar ke negeri ya daftar ke sekolah yang bermutu dong. SMA 8 kek, SMA 70 kek, SMA 28 kek.”

“Masuk sana ‘kan susah, Kak. NEM gue belum cukup.”

“Kasih aja amplop! Apa gunanya coba punya bokap tajir?”

Saat itu aku hanya geleng-geleng kepala. Beruntung sejak kecil aku diasuh oleh Bik Yayah yang selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan yang sekarang aku jalani. Bik Yayah lebih kuanggap seperti orangtuaku sendiri sejak orangtuaku tak pernah menjalankan perannya dengan benar. Kalau tidak ada Bik Yayah, bisa-bisa aku hancur seperti Kak Anita.

Aku menaiki angkot yang sudah aku tunggu daritadi. Dalam perjalanan, aku memikirkan hal-hal yang harus aku lakukan hari ini. Semua PR sudah aku kerjakan. Seingatku hari ini tidak akan ada rapat ekskul atau rapat yang lainnya. Berarti hari ini aku punya waktu kosong, pikirku. Mungkin sebaiknya aku mengajak Kirana, sahabatku untuk menemaniku ke toko buku. Sudah lama aku ingin pergi ke toko buku yang baru dibangun di daerah dekat tempat Kirana tinggal. Kalau aku beruntung, mungkin aku bisa menginap dirumah Kirana.

Sayangnya saat aku sampai di sekolah dan bertemu Kirana, ia bilang tak bisa menemaniku.

“Yah, Del, gue nggak bisa. Pulang sekolah gue dijemput nyokap, mau nyari baju. Maaf ya.”

Membuatku iri saja. Aku tidak suka berbelanja baju, tapi ide menghabiskan waktu bersama orangtua terdengar menyenangkan. Aku tidak pernah tahu rasanya seperti apa saat kita menghabiskan waktu dengan orangtua. Aku bahkan kaget saat melihat sikap Kirana terhadap ibunya yang terlihat nyeleneh, namun akrab, seperti sepasang sahabat. Kalau aku dan ibuku? Bertemu saja sudah beruntung.

Aku sudah membayangkan, hari ini harus aku habiskan dengan mendekam di rumah besar yang sepi itu lagi. Aku malas pergi tanpa ada yang menemani, jadi lebih baik aku menonton dvd yang dipinjamkan Kirana bulan lalu. Mungkin sedikit bermalas-malasan tidak ada salahnya.

Aku pulang naik angkot. Sebenarnya Ayah dulu pernah menyediakan mobil dan supirnya untuk mengantar jemputku kemanapun aku pergi. Namun aku tolak karena aku tidak suka harus berduaan dengan sopir dalam keadaan hening karena kikuk dan tidak ada topik pembicaraan. Lebih baik angkot karena aku bisa mencuri dengar pembicaraan orang lain. Kalau sepi-sepi saja aku malah jadi bosan.

Saat aku membuka pagar, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Kulihat di garasi, semua mobil lengkap terparkir. Ada apa ini? Mereka semua tak mungkin ada di rumah pada jam segini kan? pikirku.

Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati Ayah, Ibu, dan kakak-kakakku duduk di ruang tamu. Dadaku berdegup kencang. Aku mendapat feeling bahwa sesuatu akan berubah, entah apa itu. Suasana hening. Aku bertanya-tanya, suara siapakah yang akan memecahkannya?

“Delia, Ayah harus memberitahumu tentang sesuatu..”

Lavender Rose -- Chapter One -- Delia

Mataku terbuka lebar.

Aku mulai membenci lagu gubahan band internasional itu yang sengaja ku pasang sebagai nada dering alarm untuk membangunkanku setiap pagi. Memang lagu rock itu sangat efektif, namun aku benci dibangunkan saat aku sedang lelap-lelapnya tertidur. Mau bagaimana lagi, kebijakan pemerintah kota yang mengharuskan sekolah memulai kegiatan belajar mengajar dari jam 6.30 membuatku harus bangun lebih pagi. Aku menganggap kebijakan itu tolol. Lihat saja, jalanan di Jakarta tetap macet seperti biasa.

Sambil memaki dalam hati, aku pun beranjak ke kamar mandi. Air dingin yang memancar dari shower membangunkanku. Aku berubah pikiran tentang lagu rock itu dan memutuskan untuk tidak menggantinya. Aku kemudian tertawa. Esok pagi di jam yang sama pasti aku juga akan berpikir seperti itu; menganggap lagu itu menyebalkan kemudian berubah pikiran saat aku benar-benar terjaga.

Selesai mandi dan berpakaian, aku pun mengambil tasku dan keluar dari kamar. Aku sempat terpikir untuk sarapan sejenak, namun melihat meja makan yang kosong aku jadi mengurungkan niatku.

Meja makan itu selalu kosong.

Bukan kosong dari makanan. Aku bisa minta tolong Bik Yayah untuk memasakkan macam-macam makanan nikmat yang aku inginkan. Namun untuk apa ada makanan yang tersedia di meja makan apabila tidak ada orang yang memakannya? Keluargaku tak pernah makan di meja makan. Orangtuaku tak pernah ada di rumah. Kakak-kakakku hanya menganggap rumah sebagai tempat beristirahat. Aku merasa hanya aku yang menganggap rumah ini sebagai tempat tinggalku.

Ayahku adalah seorang businessman. Beliau memiliki 2 perusahaan yang masing-masing bergerak di bidang telekomunikasi, dan transportasi. Dalam bidang telekomunikasi, perusahaannya menyediakan tower untuk provider telepon selular . Dalam bidang transportasi, Ayahku memiliki sebuah perusahaan taksi. Waktunya selalu dihabiskan untuk mengurus perusahaannya. Secara materil, Ayahku bisa memberikan semua yang beliau kira aku inginkan. Namun sayang, materi sudah tidak menarik lagi bagiku.

Ibuku adalah seorang fashion designer yang selingkuh dengan salah seorang modelnya. Hal itu memang bukan rahasia lagi, apalagi di lingkungan rumahku. Sejak aku SMP beliau selalu membawa lelaki itu ke rumah. Kukira mereka hanya membicarakan soal pekerjaan, namun sekali ku lihat mereka berpagutan mesra di ruang tamu tanpa peduli ada aku yang melihat. Aku tak mengadukannya kepada Ayah, tapi esok harinya aku mendengar Ayah dan Ibu bertengkar rebut. Sejak saat itu si model laki-laki jadi jarang terlihat di rumahku, begitu juga Ibuku.

Kakakku yang pertama hamil diluar nikah. Beruntung dulu aku berhasil meyakinkannya untuk tidak aborsi. Namun ia tetap menolak membesarkan anaknya dan akhirnya menyerahkan anak itu kepada sepasang suami istri yang tak kunjung di karuniai anak. Kak Anita, begitu nama kakakku, seperti tidak merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan. Bahkan ia tidak merubah pribadinya, ia tetap rajin berganti pacar setiap minggu dan aku tak tahu berapa banyak yang sudah tidur bersamanya.

Sekilas kakakku yang kedua, Kak Mario, memang terlihat seperti laki-laki biasa. Mungkin ada kesan bahwa ia adalah seorang kutubuku akibat kacamata yang dipakainya. Ia adalah seseorang yang sangat cuek terhadap segalanya. Kupikir ia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh, namun ternyata aku salah. Aku pernah melihat sebuah kantong besar berisi pil-pil beraneka warna dan bentuk di dalam tasnya. Setelah itu aku mulai memperhatikan Kak Mario. Akhir-akhir ini ia semakin kurus dan wajahnya semakin tirus. Jangan salahkan aku kalau aku berpikir bahwa pil-pil itu adalah narkoba.