Rabu, 31 Maret 2010

Lavender Rose -- Chapter Eleven -- Delia

Hari ini sangat melelahkan, namun menyenangkan. Setelah mengunjungi Tanah Lot, kami mengunjungi Bedugul. Ada sebuah pura yang dibangun di atas sepetak tanah yang berada di danau. Indah sekali pemandangannya. Orang Bali memang pandai menjaga alam. Aku yang orang Indonesia saja terpukau, apalagi Mark dan Mandy sekeluarga.

Saat ini mobil kami sudah mendekati lobi hotel. Kami pun turun dan masuk ke dalam hotel. Langit sudah gelap saat kami memutuskan untuk menyudahi tur pura, dan sekarang sudah pukul 9 malam WITA. Tony sudah tidur dalam pelukan Mandy. Hari ini tentu melelahkan pula baginya. Seharian ia berceloteh saja. Kalau ada sesuatu yang membuatnya senang ia akan menjerit girang. Aku jadi ikut tertawa melihatnya. Namun kalau ada yang membuatnya kesal, tangisannya akan pecah dan butuh waktu lama untuk menenangkannya. Aku sangat menyukai Tony, ia membuatku tertawa bahagia seharian ini.

Aku punya perasaan kuat kalau euforia ini akan berakhir, cepat atau lambat. Hari ini sudah cukup mengejutkan karena aku bisa berjalan-jalan tanpa tertangkap pesuruh Ayah. Mungkin besok atau lusa mereka akan menemukanku. Dulu waktu Kak Anita kabur pagi-pagi buta, pesuruh Ayah membawanya pulang malamnya. Mungkin karena pesuruh Ayah belum mengenal Bali dengan baik, mereka belum menemukanku. Kalau mereka tidak menemukanku sampai seminggu, aku akan kembali sendiri. Aku merasa tak enak.

Tanpa terasa aku sudah sampai di depan kamar Mandy. Mandy dan Tony sudah masuk lebih dahulu, dan Abraham sudah masuk ke kamar Mark. Aku tak tahu apa yang menahanku untuk masuk ke dalam kamar. Aku malahan memasang penyangga pintu dan berbalik untuk memanggil Mark.

“Mark.”

Aku bahkan tak tahu untuk apa aku memanggilnya.

“Yeah?”

Ia selalu menatapku dalam. Aku terpaku karenanya. Melihatku diam saja, Mark bertanya.

“What’s wrong Delia?”

Entah mengapa wajahku tiba-tiba memerah dan aku refleks menundukkan kepalaku.

“Nothing.”

Tiba-tiba jemari Mark mengangkat daguku sehingga aku kembali ditatapnya. Matanya seperti pasir hisap yang memerangkapku, membuatku tak bisa mengalihkan diri dari pandangannya yang sarat akan emosi itu. Dalam hati aku menebak-nebak apa arti pandangannya. Apakah ia memandangku karena ada sesuatu di wajahku? Apakah ia memandangku karena ia ingin memberitahuku tentang sesuatu? Atau apakah ia memandangku karena ia hanya ingin memandangku, seperti aku yang memandangnya karena hanya ingin memandangnya?

Sibuk dengan pikiranku, aku tak sadar bahwa jemarinya membawa wajahku mendekat. Ia membisikkan namaku. Dan dalam momen magis itu, ia menciumku dengan lembut.

Oh Tuhan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar