Sudah sekitar dua minggu aku bekerja di Hypercon. Pekerjaanku sama membosankannya dengan pekerjaan yang lalu di Wachovia, hanya keberadaan Delia saja yang membuatku bertahan disini. Namun sikap Delia yang acuh tak acuh kepadaku membuatku bingung dan sakit hati. Apakah ia sudah melupakan apa yang terjadi tiga tahun silam? Apakah ia sudah membuang kenangan manis yang terjadi di Bali saat itu? Saat pikiranku dipenuhi Delia, tiba-tiba telepon berdering.
"Yes, Santi?"
"Mr. Andrews, Mr. Wardhana would like to talk to you on line 2."
"Okay."
Sesaat kemudian Pak Wardhana sudah tersambung denganku.
"Good evening, Mr. Andrews. It's already 7 p.m. Why are you still working? I don't wanna be sued for overworking my employees, espescially the ones who just got in. Ha ha."
"Don't worry, sir. I won't sue you this soon, ha ha ha. I'm just finishing some details and I'll be done in 10 minutes."
"Alright, then. By the way, have you had dinner?"
"Umm, not yet, sir."
"Now, since you haven't had dinner, why don't you come to the restaurant next door? I'll treat you. Don't let an old man like me eat alone, ha ha."
"Ha ha. Alright sir, I'll be there in ten minutes."
Tak lama kemudian aku sampai di restoran tersebut. Aku berbincang-bincang mengenai masalah di kantor dengan Pak Wardhana.
"Mr. Andrews?"
"Please, call me Mark, sir."
"Alright, Mark. I forgot to tell you that Delia would be here. Ah, there she is." Pak Wardhana menunjuk ke arah di belakangku.
Dengan senyum lebar aku langsung menoleh ke belakangku. Delia tampak cantik dengan gaun malam berwarna merah, walaupun ia terlihat sedikit tidak nyaman. Kemudian datang seorang pria yang wajahnya kukenal sebagai salah seorang pegawai di Hypercon, dan merangkul Delia. Senyumku langsung menghilang.
"Oh, Tris? Mark, this is Trisno Hadisastra. He's Delia's boyfriend. Tris, this is our new accounting manager, Mark Andrews."
"Hi, how are you, Mr. Andrews?"
"Call me Mark, please. I'm good."
Delia hanya diam saja mendengar perkenalan kami. Ia juga tetap terdiam sejak kami mulai mengobrol tentang perusahaan sampai makanan datang. Kemudian ia permisi untuk pergi ke toilet. Aku melihat kesempatan untuk berbicara dengannya meskipun sebentar, karena itu aku juga ikut permisi ke toilet. Ia tak bisa menghindar saat berpapasan denganku di depan pintu toilet.
"So, a new guy?"
Delia mendesah dan berkata, "why don't you mind your own business, Mark?". Kemudian ia melangkah pergi. Tiba-tiba ia berhenti dan membalikkan badannya sambil memegang kepalanya.
"You know what, I'm sorry. It was rude."
"It's okay."
"Dad asked me to get together with him. He's getting old and he's got heart problem. I don't wanna do anything to put dad's life in danger. I couldn't disagree."
Aku hanya terdiam. Delia membalikkan badannya namun ia tak melangkah pergi.
"Mark, if only I knew that I'm gonna meet you again.." kemudian ia meninggalkanku begitu saja untuk kembali ke meja makan.
Aku menatapnya pergi. Pikiranku tak lepas dari kata-kata terakhirnya. Apa yang akan ia lakukan seandainya ia tahu ia akan bertemu denganku lagi?
Aku memasang wajah datar terbaikku dan kembali ke meja makan, menghabiskan malam ini untuk membicarakan masalah kantor yang membosankan.