Pening menyerang kepalaku saat aku mencoba membuka mata. Aku mengerang pelan. Di sekitarku terdengar suara wanita yang berbicara dengan bahasa Inggris yang belum dapat ku cerna dengan pikiranku yang belum sadar ini. Aku melihat ke sekeliling arah. Sepertinya aku sedang berada di sebuah kamar hotel. Tapi sepertinya bukan di kamar hotelku karena aku tak mengenalinya. Kemudian seorang lelaki menghampiriku.
Aku mengenalinya. Ia yang tadi siang melihatku dengan sorot penuh makna. Kalau tak salah aku bertemu dengannya semalam di Hard Rock Cafe saat aku sedang mabuk-mabukan. Tunggu sebentar. Mabuk-mabukan? Aku?
“Hey, are you alright?”
“Yeah, sort of. I’m just a litlle bit dizzy.”
“Here. A cup of espresso always help me after a drunken night.”
“Ugh, I’m not a big fan of coffee actually.”
Namun ku terima juga cangkir kopi itu dan menyeruputnya. Pahit. Langsung kuletakkan di meja di samping tempat tidur.
“Where’s your hotel? I’ll take you back.”
Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Otakku seperti memutarkan film flash back dari kejadian kemarin. Setelah aku kembali ke hotel, aku mendapati Ayah dan Ibu bertengkar di lorong di depan kamar. Kali ini berbeda dari biasanya. Terasa lebih sengit. Bahkan Ayah mengeluarkan kata-kata kasar seperti ‘pelacur’ dan ‘sundal’. Dari apa yang ku curi dengar, sepertinya alasan mereka bertengkar adalah karena Ibu diam-diam mengajak serta lelaki selingkuhannya ke Bali, namun ketahuan oleh Ayah. Aku mencoba melerai mereka, namun Ibu malah mendorongku dan menyuruhku pergi. Sakit hati dengan perlakuannya membuatku benar-benar pergi. Aku berlari keluar hotel dan menyetop taksi. Tempat yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah Pantai Kuta, jadi kusuruh sopir untuk mengantarkanku ke Pantai Kuta. Namun saat taksi melewati Hard Rock Cafe, aku langsung meminta untuk diturunkan disitu saja.
Aku masuk dengan mudah. KTP-ku dituakan 1 tahun untuk mempermudah proses pembuatan SIM, karena saat aku berumur 16 aku sudah bisa menyetir mobil, seperti suruhan Ayah. Aku masuk dan langsung memilih untuk duduk di kursi bar. Entah pikiran gila mana yang melintasi otakku, aku langsung memesan bir kepada pelayan yang sedang mengelap gelas di depanku. Begitu datang aku langsung meneguknya. Rasanya seperti jamu, pahit dan tidak enak. Tapi seiring tegukan kedua rasa penat di kepalaku mulai berkurang, dan aku memaksakan diri meminumnya sampai habis. Air mata menetes dari sudut mataku, sebagai akumulasi dari stress pertengkaran Ayah dan Ibu, sakit hati atas perlakuan Ibu, dan rasa pahit dari bir ini. Kepalaku pusing, namun aku memaksakan diri memesan segelas bir lagi.
Dan suara itu menahanku menenggak gelas kedua. Lelaki itu. Lelaki yang sama yang berada di hadapanku sekarang. Aku tak ingat apa yang ia katakan kepadaku, begitu pula dengan apa yang kukatakan kepadanya. Kurasa setelahnya aku pingsan, karena aku tak bisa mengingat apapun. Mungkin ia yang membawaku kesini. Tunggu dulu, jangan-jangan dia berbuat yang macam-macam kepadaku.
“Did you do something to me?”
“Of course not! I’m not that kind of guy.”
“Oh, sorry.. Um what’s your name?”
“Mark.”
“I’m sorry Mark, it’s not like me to judge someone right away.. Where am I?”
“You’re in my sister’s room. You passed out last night and I didn’t know where your hotel was so I took you here.”
“Thank you, you’re so nice.”
“Don’t mention it. So, where’s your hotel?”
“Uhm, I’m not in the mood to go back right now..”
“Why? What happened? It’s okay, you can tell me.”
Tatapan matanya benar-benar menghipnotisku sehingga tanpa sadar aku menceritakan semua kepadanya. Ia yang tadinya berjongkok di depanku berpindah posisi dengan duduk di sampingku, kemudian ia mengenggam tanganku.
“I see. If I were you I wouldn’t want to come back too.”
Tentu saja. Aku sudah muak bertemu dengan keluarga palsuku. Aku hanya ingin kabur sejenak dari kebohongan ini. Tiba-tiba aku mendapat ide.
“Mark, can I stay here?”
“Huh?”
“Is there any room available in this hotel?”
Suara wanita yang tadi kudengar menjawab pertanyaanku.
“No you can’t. The rooms all are booked. It’s peak season you know?”
Sebelum hatiku bertanya-tanya siapa wanita itu, Mark sudah menjawab.
“It’s my sister there. She’s Mandy.”
“Oh, hi Mandy.”
Mandy tersenyum sambil menggendong seorang bayi yang sedang berceloteh diam. Aku pun memikirkan strategi selanjutnya agar aku tak perlu kembali.
“Hey, can I stay in this room? Just for a couple of days. I’ll ask for extra bed, so I won’t disturb you. I’ll pay the extra fee too. Please, help me.”
Mark beranjak dari tempat tidur. Ia menghampiri Mandy dan menjelaskan keadaanku dengan suara pelan. Mereka sedikit berargumen sebelum akhirnya Mandy menyerah dan mengiyakan permintaanku.
“Alright, but you have to help me babysit Tony, young lady. What’s your name again?”
“Delia.”
Aku menjawab bersamaan dengan Mark. Aku terkejut. Bagaimana dia bisa tau namaku padahal aku belum menyebutkannya sama sekali? Kemudian Mark menjelaskan.
“From the guy who called you yesterday..”
Teringat dengan ekspresi kecewanya, aku refleks menjawab.
“That’s my brother.”
“Really?”
Sebuah senyum mendadak menghiasi bibirnya. Saat itu aku menyadari, bahwa Mark sangat tampan. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya dan wajahku memerah. Aku mencoba menyembunyikannya dengan menundukkan wajahku.
“Yeah..”
Kemudian Mandy berbicara.
“Hey, you better get ready. I’m going for a tour today and I don’t wanna be late. Go take a shower or I’ll leave you.”
Mark pun berjalan keluar sambil menggerutu. Aku diam saja di tempat tidur, membayangkan apa yang akan aku lakukan seharian selama mereka pergi.
“You too, Delia. Be quick, or I’ll leave you too.”
“Me?”
“Yeah, of course. Do you think we’ll leave you here? Come on, the tour guide will be here soon.”
“Thank you, Mandy!”
Aku memamerkan senyum terlebarku kepadanya dan bergegas ke kamar mandi. Mungkin liburanku yang sebenarnya baru akan dimulai.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar