Kamis, 01 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Twelve -- Mark

Saat aku terbangun, semua begitu terasa indah.

Aku melompat dari tempat tidurku dan membangunkan Abe. Dia mengerangkan protesnya.

“What time is it now? Uh, I’m still tired from yesterday.”

“It’s 7 a.m. Come on, man. Wake up, it’s a beautiful day.”

“God, it’s still early, Mark. Let me rest for awhile. What’s wrong with you?”

“No, nothing’s wrong. It’s actually perfect.”

Namun Abe tidak memperhatikan. Dia malah melanjutkan tidurnya yang sempat ku ganggu. Aku menghampiri jendela dan membukanya. Ku hirup dalam-dalam udara berbau asin menyenangkan ini. Terasa menenangkan. Aku kembali mengingat kejadian semalam.

“Mark.” Delia memanggilku.

“Yeah?”

Ia tidak menjawabnya.

“What’s wrong Delia?”

“Nothing.”

Wajahnya memerah. Ia terlihat sangat manis dengan muka malu-malu. Kemudian ia tertunduk. Entah apa yang mendorongku, namun tiba-tiba aku mengangkat dagunya hingga ia memandangku. Sepasang mata hitam itu memandangku, tidak tajam, tapi penuh perasaan. Sepasang mata hitam itulah yang membuatku jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta dengan perempuan yang baru ku kenal kurang dari 2 hari itu.

Dan perasaan cinta itu begitu memenuhi hatiku. Begitu penuhnya seperti sebuah gelas yang diisi dengan air dari keran sampai meluap, dan luapannya mendorongku melakukan sesuatu yang gila.

Aku mencium bibirnya dengan lembut. Sebuah kecupan ringan yang bahkan tidak bertahan lebih dari beberapa detik. Namun detik-detik itu terasa seperti selamanya. Kecupan singkat yang manis itu mempertegas keyakinanku untuk mencintai gadis yang berada dihadapanku ini.

Wajah Delia merah padam. Ia semakin terlihat manis. Ia menggigit bibirnya.

“Good night, Mark.”

Ia kemudian buru-buru masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Dan aku hanya tersenyum bahagia. Seperti saat ini. Semalam terasa begitu nyata dan aku tak bisa berhenti tersenyum. Hari ini terasa begitu indah untuk dilewatkan, dan aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

Jalanan masih belum terlalu ramai, hanya ada penduduk lokal yang bersiap-siap memulai aktivitas. Aku berjalan melewati berbagai toko sambil menolak tawaran para penjual, entah apa barang yang dijualnya. Kemudian aku berhenti di sebuah toko bunga.

“Good morning, sir.”

Aku menengok. Ternyata sang pemilik toko yang menyapaku.

“Are you looking for a certain flower, sir?”

“Um, not exactly. I just passed by and suddenly I’m thinking to buy some flowers for the girl I love.”

“For your lover? Ah maybe these red roses suits?”

“No, it’s too passionate. I’m looking for softer one.”

“Ah, you’re right. Red roses means lustful love. How about the pink ones?”

“Well, somehow I don’t think it suits her personality. She’s different. I’m looking for something different.”

“Oh, I know.”

Kemudian ia mengambil sebuket mawar berwarna ungu muda.

“These are lavender roses.”

“They’re pretty.”

“They are, sir. But it’s rather expensive, sir, because the seeds are imported from Australia.”

“I don’t mind the price. What does it mean.”

“It means love at the first sight.”

Kenyataan itu menghunjam diriku, namun dengan cara yang menyenangkan.

“I’ll get a bucket.”

Setelah aku membayarnya, aku memikirkan waktu yang tepat untuk memberikannya. Mungkin aku akan mencari sebuah restoran romantis dan mengajak Delia makan malam disana setelah tur hari ini. Akan kusuruh Mandy meminjamkan gaunnya untuk Delia.

I can’t wait for tonight!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar