Minggu, 10 Oktober 2010

Lavender Rose -- Chapter Seventeen -- Mark

Kukira semua akan berjalan lancar setelah aku pindah ke Indonesia, namun ternyata tidak. Keadaan di Wachovia Bank Jakarta sangat berbeda dengan yang di Washington D. C. Budaya korupsi sudah meresap di keseharian pekerjanya. Aku bahkan sempat tergoda, namun tidak sampai terjerumus. Akhirnya aku tidak tahan dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Chloe memberitahuku bahwa ada lowongan di Hypercon, perusahaan provider telepon genggam. Aku memasukkan CV-ku dan akhirnya dipanggil untuk wawancara.

Gedung Hypercon cukup besar untuk ukuran perusahaan baru. Setelah wawancara, aku tersesat saat mencari lokasi parkir mobilku. Ditengah kebingunganku, aku mendengar suara yang ku kenal.

"Iya, Yah. Pak Noto sudah bilang kemarin."

"Urusan akunting sedikit kacau saat ini. Kamu mungkin harus bantu Pak Noto sampai Ayah menemukan Manager Accounting yang baru, Delia."

Delia. Nama yang aku rindukan seperti orang merindukan air di musim kering. Mendengar namanya hatiku yang tandus kembali segar. Apalagi saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ia sedang berjalan menuju ke dalam gedung bersama seorang lelaki tua yang kalau tidak salah ayahnya. Ia tidak melihat ku, karena posisiku tertutup tiang. Ku tanyakan pada seorang lelaki yang juga sedang menuju ke dalam gedung.

"Excuse me, sir?"

"Yes, can I help you?"

"Do you know the man and the lady who just walked into the building?"

"Ah, yes. The man is the owner of Hypercon, and the young lady is his daughter who recently become an apprentice here."

"I see. Well, thank you for the information."

Sorenya aku mendapat kabar bahwa aku telah diterima dan mulai bekerja besok. Aku langsung mengurus surat pengunduran diriku dari Wachovia dan membereskan barang-barangku disana. Kelihatannya tak satu pun pegawai Wachovia yang keberatan dengan pengunduran diriku. Tak ada yang mengucapkan apapun kepadaku, jadi aku langsung pulang dan merayakan pekerjaan baruku dengan Chloe dan Tony di rumah.

Esoknya aku datang ke Hypercon. Tak disangka, yang menyambutku adalah ayah Delia, sang owner Hypercon dan ditemani oleh seorang lelaki yang tidak kukenal. Sepertinya ayah Delia tak mengenaliku. Mungkin karena penampilanku berubah.

"Welcome to Hypercon, Mr. Andrews. My name is Wisnu Wardhana, and this is Mr. Cahyo who is the current Director of Accounting. You will be working for him. Mr. Cahyo, Mr. Andrews."

"Mark Andrews, please to meet you."

"Muhammad Cahyo, please to meet you too. Ah, in case if you don't know, Mr. Wardhana is the owner of Hypercon."

"No need to mention it, Cahyo, hahaha. I have a habit to greet my employees. Is it a bad thing? You just get back to work, I know you're busy."

"Yes, sir. Mr. Andrews, I'll talk to you later."

"Allright, sir."

"Now, Mr. Andrews, I'm gonna show you your room."

Kami pun berpindah ke sebuah ruangan kecil namun terlihat nyaman. Ada sebuah meja kerja dengan kursi yang nyaman, komputer yang terlihat canggih, sebuah rak buku, sebuah sofa dan meja kopi. Di belakang meja kerja terdapat kaca besar yang menggantikan dinding, memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 5 lantai.

"Do you like it? It's a bit small but it's comfortable I think."

"I like it sir."

"Well, there are some books belonged to the former accounting manager. I guess you can read them before they are returned."

"Where did the former accounting manager go, sir?"

"He passed away, and he had no relative in Jakarta so I couldn't have his books sent back."

"I see."

"Well, there's one more thing, Mr. Andrews."

"Yes, sir?"

"You see, my youngest daughter is in her last year of college, and I let her help here so she can learn more about accounting. She's studying about it in the University of Indonesia. Her english is good, so I'll ask her to help you as your assistant while you can teach her about accounting. Is it okay?"

Yang Pak Wardhana maksudkan, apakah Delia? pikirku.

"That's okay, sir. What's her name, by the way?"

"Delia. She'll come this afternoon because she has classes in the morning. I'll let you know when she comes. Now you can start on your work. If you need something you can ask Santi outside, okay? She's the one who answers the phone."

"Okay, sir. Thank you."

Kemudian lelaki tua itu keluar dari kantorku. Mendengar kabar yang menggembirakan tadi, aku tersenyum bahagia. Aku memulai pekerjaanku sambil berpikir bagaimana reaksi Delia saat melihatku kembali.

Tak terasa sudah waktunya makan siang. Aku menyuruh Santi memesankan Nasi Padang. Sejak tinggal di Indonesia aku jadi menyukai makanan yang pedas-pedas. Kemudian, tak lama setelah jam makan siang berakhir, seseorang mengetuk pintu ruanganku.

"Please come in."

Kemudian Pak Wardhana masuk diikuti seorang wanita. Yang sudah terlihat dewasa dibanding saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia sedang melihat handphone-nya dan tidak memperhatikanku.

"Mr. Andrews, this is my daughter, Delia."

Kukumpulkan keberanianku untuk menyapanya.

"Hi, Delia."

Delia mengalihkan pandangannya dari handphone. Saat mata kami bertemu, tampak ekspresi terkejut di matanya. Dia mengenaliku. Aku tersenyum saat menyadari bahwa dia mengenaliku.

Mungkin Delia terlalu terkejut sehingga handphone-nya terjatuh. Dengan gugup dia mengambil handphone-nya sambil meminta maaf, kemudian dia menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahku.

"Delia, this is Mr. Andrews. You will be his assistant from now on."

"Uh, okay."

"I'll be leaving you two. And, Mr. Andrews?"

"Yes, Mr. Wardhana?"

"I'll have dinner together with Delia tonight. Would you like to join us?"

"I'd love to, sir."

"Okay, then. You can continue your work."

Pak Wardhana pun keluar, namun Delia tidak berpindah dari posisinya. Ia tetap berdiri kaku, menundukkan kepalanya.

"Surprise?"

Delia melirikku, kemudian hanya mengangguk. Aku tak puas dengan reaksinya.

"Miss me?"

Delia hanya diam saja. Hal itu membuatku marah dan lepas kendali. Ku hampiri ia dan kupeluk erat. Delia berusaha melepas pelukanku.

"Please, we're in the office.."

"Do you know how much I miss you? Do you know how hard my life became after you left me? Do you?"

Mendengar pertanyaanku Delia terdiam. Kemudian, perlahan ia membalas pelukanku.

"I'm sorry. I'm sorry. I'm so sorry."

Aku mendesah.

"Let's just.. get back to work."

Kemudian Delia melepaskan pelukanku dan langsung mengambil file-file dari rak buku.

Apa yang telah terjadi? Aku telah menemukan separuh hatiku. Namun ia tak mau membentuk hati yang utuh. Pikiran itu hanyut bersama angka-angka yang kutekuni. Mungkin nanti akan kutemukan jawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar