Jumat, 15 Oktober 2010

My Boyfriend was A Gay

April selalu berpikir bahwa Denny adalah gay. Setidaknya itulah yang ia tunjukkan dalam perilakunya sehari-hari. Tapi memang Denny tak pernah menyebutkan secara jelas bahwa ia memang benar-benar seorang gay.

Sudah lama April bersahabat dengan Denny. Mereka bertemu saat penerimaan mahasiswa baru STIBA Bandung. Kebetulan mereka sama-sama berada di jurusan Sastra Korea. Namun April yang anak perantauan belum kenal siapa-siapa. April duduk memisahkan diri dari kerumunan. Saat itu lah Denny menyapanya.

"Hei, nggak punya temen ya? Gue juga."

April hanya bisa menaikan sebelah alis. Dia memperhatikan penampilan Denny. Kaos Polo ketat warna pink, celana jeans pensil warna hitam, sneakers Adidas, dan tas selempang yang mereknya tidak ia kenal memberi kesan ajaib bagi April yang sebelumnya tidak terlalu mengerti dengan gaya gay berpakaian. Namun toh April tidak mengusirnya. Denny pun mencoba membuka percakapan.

"Aduh, gerah ya bo'. Eh, dari SMA mana jeng?"

"Eh.. SMA Negeri 14 Sukasari.."

"Ya ampuun, pasti di pedaleman deh.. Gue sih dari SMA Setiabudi. Tau kan? Tapi kayanya lo ngga tau ya.."

Tingkah laku Denny membuat April merasa terganggu pada awalnya. Namun lama-lama, April dan Denny semakin tak terpisahkan. April menjadi lebih perempuan setelah mengenal Denny. Denny lah yang memperkenalkan dunia kosmetik dan fashion padanya. Denny juga memperkenalkan dunia cowok yang sebelumnya tak pernah April ketahui. Denny lah yang pertama kali mengajaknya clubbing. April yang sekarang telah berubah karena Denny.

Setelah saling mengenal, April tak sungkan lagi dengan Denny. Berpelukan, mencari pakaian dalam, bahkan saling menginap. April mengontrak rumah kecil di dekat kampus, dan orangtuanya tinggal di Sukasari, jadi tak ada yang mengawasi. Sedangkan Denny tinggal dengan ibu dan adiknya di daerah Dago Atas dan Ayahnya pindah setelah orangtua Denny bercerai. Ibu Denny sudah seperti ibunya sendiri, dan mengijinkan April menginap di rumahnya. Dengan Denny, April seperti memiliki sahabat perempuan, hanya saja Denny lebih kuat.

Namun yang terjadi pada malam itu mengubah persepsinya terhadap Denny.

Sabtu malam itu tidak berbeda dengan sabtu malam lainnya. April pasti pergi ke Heaven Club bersama Denny, bersama-sama mencari lelaki tampan untuk dikerjai. Biasanya April akan pura-pura duduk sendiri hingga ada seorang lelaki yang menegurnya. Jika lelaki ini mulai menggodanya maka Denny akan berpura-pura datang menghampiri April dengan ekspresi melindungi, seakan-akan Denny adalah pacar April. Jika lelaki itu menyerah dan pergi, mereka akan tertawa terbahak-bahak.

April tersenyum-senyum membayangkan apa yang akan terjadi sabtu malam ini. Tak lama kemudian, Denny datang dengan mobilnya untuk menjemput April. Saat Denny melihat April, Denny hanya diam saja. Berbeda dengan biasanya, Denny pasti memberi komentar terhadap apapun yang dikenakan April, entah itu berupa pujian atau celaan. Padahal malam itu April mengenakan gaun baru yang potongannya sedikit seksi. Kerah low cleavage nya menunjukkan lekuk tubuh April yang sebelumnya tak pernah ia tunjukkan. April sedikit kecewa karena Denny tidak memberi komentar apa-apa.

Akhirnya mereka sampai juga ke Heaven Club. Setelah menyapa teman-teman yang sering hang out disana, mereka duduk di kursi bar. Suasana sedikit kikuk karena Denny masih berdiam diri. April pun bertanya-tanya apakah mereka akan melakukan permainan seperti biasa atau tidak.

"Den, malam ini kita nggak main?"

"Main, main. Sori gue lagi rada mumet. Yaudah gue kesana dulu ya."

Denny mengawasi tak jauh dari April. Lima menit kemudian, datanglah seorang lelaki yang mencoba berkenalan dengan April. Denny bisa melihat kemana pandangan lelaki ini tertuju, yang tak lain dan tak bukan ke arah dada April. Sial, pikir Denny, kenapa April harus memakai gaun itu. Denny memutuskan untuk mengakhiri permainan lebih cepat. Ia menghampiri April dan merangkulnya posesif. Tak lupa ia memberi pandangan tajam kepada lelaki itu.

Namun lelaki itu tidak juga pergi. Entah apa yang ada dalam pikiran Denny saat kemudian ia menarik wajah April dan menciumnya. Tepat di bibir. April terkejut, namun tidak berusaha mengelak. Ia malah terhanyut dan membalas ciuman Denny. April tak menyangka, lelaki seperti Denny bisa memberikan ciuman yang hebat. Tidak seperti mantan pacar April yang ciumannya basah. Euh.

April tak tahu berapa lama waktu yang terlewat, namun saat akhirnya ciuman itu berakhir, lelaki yang tadi mencoba untuk menggoda April telah pergi. April pun memikirkan ciuman tadi. Apakah maksud dibalik ciuman itu? Hanya permainan belaka? Atau Denny sudah melihat April sebagai perempuan?

"Sorry gue.. Gue pulang duluan aja deh," kata Denny dengan muram.

"Gue ikut."

Selama perjalanan mereka hanya diam. Ketika mobil berhenti di depan rumah, April baru angkat bicara.

"Permainan tadi kelewatan, Den."

"Gue tahu."

"Lo nggak usah maksain diri untuk cium gue."

"Gue ngga maksain diri."

"Bohong! Mana mungkin lo mau cium cewek?"

"Emang kenapa kalo gue mau cium cewek?!"

"Karena lo gay! Oh.." April sudah kelepasan bicara. Walaupun tak pernah diucapkan, namun seperti ada janji bahwa mereka tak akan menyinggung masalah orientasi Denny.

"Gue berubah."

Masih emosi, April kembali membentak Denny, "Apa buktinya?"

Dengan tiba-tiba, sebelum April sadari, Denny menarik wajahnya dan kembali mencium April. Tak lama Denny menjauhkan bibirnya hanya untuk bertanya, "Ini cukup?"

April tidak bisa menjawab dan hanya memandang Denny. Lalu Denny melanjutkan ciuman yang terputus tadi. Kali ini ia tak berhenti. Malah, ketika April membalas ciumannya, Denny memberanikan diri untuk menyentuh April. April masih sadar, dan saat Denny mulai menyentuh daerah terlarang, tangannya menahan tangan Denny.

"Sebaiknya gue masuk."

April mengambil tasnya dan keluar dari mobil untuk masuk ke dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang dan otaknya belum bisa mencerna kejadian tadi. Ketika dia bisa menguasai diri, April mendengar suara mobil Denny yang bergerak menjauh. Ia pun terduduk, memikirkan bagaimana ia akan menghadapi Denny hari Senin nanti.

Seperti yang April duga, hubungan mereka memburuk. Bahkan mereka tak menegur satu sama lain. Pernyataan bahwa Denny sudah berubah mulai terbukti. Gaya berpakaian Denny berubah, begitu pula sikap dan tutur katanya. Denny jadi sering berteman dengan lelaki dan mulai mengencani wanita, bukan sebaliknya. Sudah dua minggu perubahan ini April amati.

Siang ini April mengunjungi gedung Sastra Jepang untuk bertemu dengan temannya. Sebelum itu, ia ke kamar mandi terlebih dahulu. Saat berada di dalam cubicle, terdengar suara-suara perempuan yang sedang bergosip.

"Ren, gue denger sabtu ini lo diajak ke Suite Room Hotel Pasundan ya? Pasti tajir deh korban lo yang sekarang."

"Iya dong, tajir banget. Tapi pasti lo kaget kalau tahu siapa."

"Emang siapa?"

"Si Denny, yang Sastra Korea 2009."

"Hah, dia bukannya gay?"

"Dia berubah kali. Nggak tahu deh. Minggu lalu sih gue lihat dia ciuman sama temennya yang cewek di Heaven Club, siapa namanya?"

"Oh, si itu tuh, April. Korea 2009 juga kan?"

"Iya, bener April."

April tak peduli apa yang selanjutnya mereka bicarakan. Kalau tidak salah dengar, yang tadi berbicara adalah Karen dan Dian, primadona Sastra Jepang. Reputasi mereka buruk. Apalagi Karen, yang gosipnya pernah menjual tubuh kepada dosen demi nilai A. Dan Denny mengajaknya ke hotel? Hati April sakit mendengarnya. Sejak insiden ciuman dua minggu yang lalu, perasaan April kepada Denny berubah. Dari yang tadinya hanya sahabat, sekarang April melihat Denny sebagai lelaki yang pantas di perhitungkan. Dan sekarang, April yakin bahwa April menyukai Denny. Tapi semuanya terlambat. Denny sudah bersama dengan Karen. Apa lagi yang bisa April lakukan?

Maka sabtu malam kali ini April lewati sendirian di kontrakannya. Ia tak berniat pergi kemana-mana. Malam itu hujan, April tidak memiliki mobil dan tidak ada yang menjemputnya untuk pergi ke luar. Ia memilih untuk menyetel DVD, namun tidak benar-benar menontonnya. Pikirannya masih tertuju pada Denny. Hatinya sakit apabila membayangkan Denny dengan Karen, namun hal itu tak dapat April hindarkan. Layar televisinya menunjukkan adegan komedi, tapi April malah menangis.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk dengan kencang. April mengintip dari jendela. Kemudian ia berseru, "Denny?". Ia buru-buru membukakan pintu. Ia tak salah lihat. Yang saat ini berdiri di depannya dengan basah kuyup adalah Denny. Sahabatnya. Orang yang dicintainya.

"Lo ngapain disini, Den? Lo bukannya kencan sama.. Karen?"

"Gue salah. Gue emang berubah.. Tapi hanya untuk elo.."

"Berubah untuk gue? Lo masuk dulu deh, ganti baju dulu, baru kita ngomong, oke?"

Tak lama, Denny sudah berganti baju dengan kaus April yang kebesaran. Sambil meminum kopi susu buatan April, Denny bercerita.

"Lo tahu kan, orang tua gue hubungannya nggak baik. Gue mulai memandang komitmen dengan sebelah mata. Karena bagi gue, komitmen diantara mereka lah yang merusak keluarga gue. Karena itu gue lebih suka berteman. Dan kebanyakan teman gue dari SD sampe SMA itu perempuan. Itu lah yang membuat gue terlihat seperti gay.
Sebulan yang lalu, nyokap gue ngomong ama gue, beliau nasehatin gue, bahwa gue harus membuka diri. Komitmen itu tidak selamanya buruk. Bahkan komitmen yang membuat cinta kita kokoh. Dan gue harus melihat ke sekitar gue, karena banyak perempuan di sekitar gue yang sayang sama gue. Dan perempuan yang pertama gue pikirkan adalah.. elo."

Perasaan hangat yang menyenangkan menyebar di hati April. Mungkin itu karena susu coklat yang sedang Ia minum, atau karena perkataan Denny.

"Dan setelah itu gue mulai melihat lo sebagai perempuan. Gue berusaha keras untuk tetap melihat lo sebagai seorang teman, tapi nggak bisa. Gue mulai memiliki perasaan lain ke elo. Dan sabtu malam itu, waktu gue mencium lo, gue kehilangan kendali diri gue karena perasaan gue udah nggak tertahankan lagi. Tapi setelah itu, gue merasa gue udah nyakitin elo. Karena itu gue mencoba untuk memindahkan perasaan gue ini ke cewek lain."

"Karen," sebut April.

"Ya, Karen. Gue kira segalanya akan mudah sama dia. Gue berusaha keras untuk menyukai dia, dan bukannya elo. Karena itu gue nggak menolak ketika dia mengajak gue ke hotel. Tapi gue nggak bisa melihat dia sebagai seorang perempuan, seperti gue melihat lo. Begitu gue sadar bahwa yang gue lihat hanya lo, gue langsung tinggalin dia dan pergi kesini, ke rumah lo."

April hanya terdiam. Ia tak menyangka ada cerita panjang dibalik ini semua. Ia terharu dengan kenyataan bahwa dirinya lah yang membuat Denny berubah. Air mata bahagia mengalir di pipinya. Tangan Denny meraih wajahnya dan menghapus air mata itu.

"Aprilia Sunarta, gue sayang.. sayaaang banget sama elo. Elo gimana?"

"Gue..", April berhenti sejenak untuk menghela nafas,"Gue nggak bisa bohong kalo ternyata sejak insiden itu, gue mulai melihat lo sebagai cowok, dan gue juga mulai ada feeling sama lo. Dan sekarang, ya, gue sayang banget sama lo, Den."

Denny menarik April ke dalam pelukannya, dan mengelus rambut April dengan sayang. Kemudian ia tersenyum.

"Lo masih mau belanja underwear sama gue kan?"

"Mimpi aja lo."

Minggu, 10 Oktober 2010

Lavender Rose -- Chapter Seventeen -- Mark

Kukira semua akan berjalan lancar setelah aku pindah ke Indonesia, namun ternyata tidak. Keadaan di Wachovia Bank Jakarta sangat berbeda dengan yang di Washington D. C. Budaya korupsi sudah meresap di keseharian pekerjanya. Aku bahkan sempat tergoda, namun tidak sampai terjerumus. Akhirnya aku tidak tahan dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Chloe memberitahuku bahwa ada lowongan di Hypercon, perusahaan provider telepon genggam. Aku memasukkan CV-ku dan akhirnya dipanggil untuk wawancara.

Gedung Hypercon cukup besar untuk ukuran perusahaan baru. Setelah wawancara, aku tersesat saat mencari lokasi parkir mobilku. Ditengah kebingunganku, aku mendengar suara yang ku kenal.

"Iya, Yah. Pak Noto sudah bilang kemarin."

"Urusan akunting sedikit kacau saat ini. Kamu mungkin harus bantu Pak Noto sampai Ayah menemukan Manager Accounting yang baru, Delia."

Delia. Nama yang aku rindukan seperti orang merindukan air di musim kering. Mendengar namanya hatiku yang tandus kembali segar. Apalagi saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ia sedang berjalan menuju ke dalam gedung bersama seorang lelaki tua yang kalau tidak salah ayahnya. Ia tidak melihat ku, karena posisiku tertutup tiang. Ku tanyakan pada seorang lelaki yang juga sedang menuju ke dalam gedung.

"Excuse me, sir?"

"Yes, can I help you?"

"Do you know the man and the lady who just walked into the building?"

"Ah, yes. The man is the owner of Hypercon, and the young lady is his daughter who recently become an apprentice here."

"I see. Well, thank you for the information."

Sorenya aku mendapat kabar bahwa aku telah diterima dan mulai bekerja besok. Aku langsung mengurus surat pengunduran diriku dari Wachovia dan membereskan barang-barangku disana. Kelihatannya tak satu pun pegawai Wachovia yang keberatan dengan pengunduran diriku. Tak ada yang mengucapkan apapun kepadaku, jadi aku langsung pulang dan merayakan pekerjaan baruku dengan Chloe dan Tony di rumah.

Esoknya aku datang ke Hypercon. Tak disangka, yang menyambutku adalah ayah Delia, sang owner Hypercon dan ditemani oleh seorang lelaki yang tidak kukenal. Sepertinya ayah Delia tak mengenaliku. Mungkin karena penampilanku berubah.

"Welcome to Hypercon, Mr. Andrews. My name is Wisnu Wardhana, and this is Mr. Cahyo who is the current Director of Accounting. You will be working for him. Mr. Cahyo, Mr. Andrews."

"Mark Andrews, please to meet you."

"Muhammad Cahyo, please to meet you too. Ah, in case if you don't know, Mr. Wardhana is the owner of Hypercon."

"No need to mention it, Cahyo, hahaha. I have a habit to greet my employees. Is it a bad thing? You just get back to work, I know you're busy."

"Yes, sir. Mr. Andrews, I'll talk to you later."

"Allright, sir."

"Now, Mr. Andrews, I'm gonna show you your room."

Kami pun berpindah ke sebuah ruangan kecil namun terlihat nyaman. Ada sebuah meja kerja dengan kursi yang nyaman, komputer yang terlihat canggih, sebuah rak buku, sebuah sofa dan meja kopi. Di belakang meja kerja terdapat kaca besar yang menggantikan dinding, memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 5 lantai.

"Do you like it? It's a bit small but it's comfortable I think."

"I like it sir."

"Well, there are some books belonged to the former accounting manager. I guess you can read them before they are returned."

"Where did the former accounting manager go, sir?"

"He passed away, and he had no relative in Jakarta so I couldn't have his books sent back."

"I see."

"Well, there's one more thing, Mr. Andrews."

"Yes, sir?"

"You see, my youngest daughter is in her last year of college, and I let her help here so she can learn more about accounting. She's studying about it in the University of Indonesia. Her english is good, so I'll ask her to help you as your assistant while you can teach her about accounting. Is it okay?"

Yang Pak Wardhana maksudkan, apakah Delia? pikirku.

"That's okay, sir. What's her name, by the way?"

"Delia. She'll come this afternoon because she has classes in the morning. I'll let you know when she comes. Now you can start on your work. If you need something you can ask Santi outside, okay? She's the one who answers the phone."

"Okay, sir. Thank you."

Kemudian lelaki tua itu keluar dari kantorku. Mendengar kabar yang menggembirakan tadi, aku tersenyum bahagia. Aku memulai pekerjaanku sambil berpikir bagaimana reaksi Delia saat melihatku kembali.

Tak terasa sudah waktunya makan siang. Aku menyuruh Santi memesankan Nasi Padang. Sejak tinggal di Indonesia aku jadi menyukai makanan yang pedas-pedas. Kemudian, tak lama setelah jam makan siang berakhir, seseorang mengetuk pintu ruanganku.

"Please come in."

Kemudian Pak Wardhana masuk diikuti seorang wanita. Yang sudah terlihat dewasa dibanding saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia sedang melihat handphone-nya dan tidak memperhatikanku.

"Mr. Andrews, this is my daughter, Delia."

Kukumpulkan keberanianku untuk menyapanya.

"Hi, Delia."

Delia mengalihkan pandangannya dari handphone. Saat mata kami bertemu, tampak ekspresi terkejut di matanya. Dia mengenaliku. Aku tersenyum saat menyadari bahwa dia mengenaliku.

Mungkin Delia terlalu terkejut sehingga handphone-nya terjatuh. Dengan gugup dia mengambil handphone-nya sambil meminta maaf, kemudian dia menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahku.

"Delia, this is Mr. Andrews. You will be his assistant from now on."

"Uh, okay."

"I'll be leaving you two. And, Mr. Andrews?"

"Yes, Mr. Wardhana?"

"I'll have dinner together with Delia tonight. Would you like to join us?"

"I'd love to, sir."

"Okay, then. You can continue your work."

Pak Wardhana pun keluar, namun Delia tidak berpindah dari posisinya. Ia tetap berdiri kaku, menundukkan kepalanya.

"Surprise?"

Delia melirikku, kemudian hanya mengangguk. Aku tak puas dengan reaksinya.

"Miss me?"

Delia hanya diam saja. Hal itu membuatku marah dan lepas kendali. Ku hampiri ia dan kupeluk erat. Delia berusaha melepas pelukanku.

"Please, we're in the office.."

"Do you know how much I miss you? Do you know how hard my life became after you left me? Do you?"

Mendengar pertanyaanku Delia terdiam. Kemudian, perlahan ia membalas pelukanku.

"I'm sorry. I'm sorry. I'm so sorry."

Aku mendesah.

"Let's just.. get back to work."

Kemudian Delia melepaskan pelukanku dan langsung mengambil file-file dari rak buku.

Apa yang telah terjadi? Aku telah menemukan separuh hatiku. Namun ia tak mau membentuk hati yang utuh. Pikiran itu hanyut bersama angka-angka yang kutekuni. Mungkin nanti akan kutemukan jawabnya.