Sekolahku tak bisa dibilang sekolah favorit. Aku hanya bersekolah di SMA negeri biasa yang tidak terlalu terkenal. Ayahku dulu sempat ingin memasukkanku ke sekolah swasta mahal, tapi aku lebih memilih bergaul dengan anak-anak sederhana daripada anak-anak sok kaya yang suka membangga-banggakan harta orangtuanya. Kak Anita sempat mengejekku lantaran aku memilih untuk mendaftar di SMA Negeri 300.
“Sekolah apaan tuh? Gue kok nggak pernah denger ya? Del, lo kalo mau daftar ke negeri ya daftar ke sekolah yang bermutu dong. SMA 8 kek, SMA 70 kek, SMA 28 kek.”
“Masuk sana ‘kan susah, Kak. NEM gue belum cukup.”
“Kasih aja amplop! Apa gunanya coba punya bokap tajir?”
Saat itu aku hanya geleng-geleng kepala. Beruntung sejak kecil aku diasuh oleh Bik Yayah yang selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan yang sekarang aku jalani. Bik Yayah lebih kuanggap seperti orangtuaku sendiri sejak orangtuaku tak pernah menjalankan perannya dengan benar. Kalau tidak ada Bik Yayah, bisa-bisa aku hancur seperti Kak Anita.
Aku menaiki angkot yang sudah aku tunggu daritadi. Dalam perjalanan, aku memikirkan hal-hal yang harus aku lakukan hari ini. Semua PR sudah aku kerjakan. Seingatku hari ini tidak akan ada rapat ekskul atau rapat yang lainnya. Berarti hari ini aku punya waktu kosong, pikirku. Mungkin sebaiknya aku mengajak Kirana, sahabatku untuk menemaniku ke toko buku. Sudah lama aku ingin pergi ke toko buku yang baru dibangun di daerah dekat tempat Kirana tinggal. Kalau aku beruntung, mungkin aku bisa menginap dirumah Kirana.
Sayangnya saat aku sampai di sekolah dan bertemu Kirana, ia bilang tak bisa menemaniku.
“Yah, Del, gue nggak bisa. Pulang sekolah gue dijemput nyokap, mau nyari baju. Maaf ya.”
Membuatku iri saja. Aku tidak suka berbelanja baju, tapi ide menghabiskan waktu bersama orangtua terdengar menyenangkan. Aku tidak pernah tahu rasanya seperti apa saat kita menghabiskan waktu dengan orangtua. Aku bahkan kaget saat melihat sikap Kirana terhadap ibunya yang terlihat nyeleneh, namun akrab, seperti sepasang sahabat. Kalau aku dan ibuku? Bertemu saja sudah beruntung.
Aku sudah membayangkan, hari ini harus aku habiskan dengan mendekam di rumah besar yang sepi itu lagi. Aku malas pergi tanpa ada yang menemani, jadi lebih baik aku menonton dvd yang dipinjamkan Kirana bulan lalu. Mungkin sedikit bermalas-malasan tidak ada salahnya.
Aku pulang naik angkot. Sebenarnya Ayah dulu pernah menyediakan mobil dan supirnya untuk mengantar jemputku kemanapun aku pergi. Namun aku tolak karena aku tidak suka harus berduaan dengan sopir dalam keadaan hening karena kikuk dan tidak ada topik pembicaraan. Lebih baik angkot karena aku bisa mencuri dengar pembicaraan orang lain. Kalau sepi-sepi saja aku malah jadi bosan.
Saat aku membuka pagar, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Kulihat di garasi, semua mobil lengkap terparkir. Ada apa ini? Mereka semua tak mungkin ada di rumah pada jam segini kan? pikirku.
Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati Ayah, Ibu, dan kakak-kakakku duduk di ruang tamu. Dadaku berdegup kencang. Aku mendapat feeling bahwa sesuatu akan berubah, entah apa itu. Suasana hening. Aku bertanya-tanya, suara siapakah yang akan memecahkannya?
“Delia, Ayah harus memberitahumu tentang sesuatu..”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar