Mobil kami berbelok ke kanan dan berhenti di loket karcis. Mandy menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada Pak Wayan untuk membayar karcis. Kami sedang berada di areal Tanah Lot, sebuah cagar budaya dimana terdapat sebuah pura yang berada diatas karang namun terpisah dari daratan. Sedikit. Mark bilang Mandy sangat menyukai hal-hal yang tradisional.
Aku melirik ke arah kembalian yang baru disodorkan kepada Mandy oleh Pak Wayan. Kemudian kami semua turun dari mobil dan berjalan memasuki area pasar sebelum sampai ke pura. Sambil berjalan, aku berpikir. Aku tahu bahwa turis asing mendapat ‘perlakuan’ yang berbeda, tapi kadang ‘perlakuan’ tersebut keterlaluan, setidaknya melewati batas toleransiku. Sebenarnya harga tiket itu tak masalah, Mandy sanggup membayarnya untuk kami, tapi aku tidak suka membuang-buang uang. Aneh, aku terlahir dalam keluarga kaya tapi jarang menikmati kekayaan tersebut. Lagi-lagi, terima kasih untuk Bik Yayah.
Mandy keluar dari sebuah kios dan memasang ekspresi kecewa. Aku bertanya kepadanya apa yang terjadi.
“I wanna buy some of those wooden sculptures, but it’s a bit expensive. I think it’s a bit wasteful to spend 1000 USD for souvenires.”
“Which one did you want?”
“The horses.”
Aku secara refleks melotot terkejut. Mark tertawa dan memberitahuku.
“She’s always like that. Buying useless things.”
“It’s not useless. It’s for our neighbors.”
Aku tersenyum melihat pertengkaran kakak-adik itu. Sedikit banyak aku merasa iri karena aku tidak pernah merasa akrab dengan kakak-kakakku. Kemudian aku mendapat ide.
“Mandy, gimme 200 and I’ll get 10 wooden horses for you.”
Mandy menghentikan pertengkaran dengan Mark dan mengangkat alisnya sambil tersenyum meragukan. Toh ia tetap memberiku dua juta rupiah dan melanjutkan pertengkarannya. Mark sesekali melirikku.
Tak lama kemudian aku keluar membawa kardus-kardus kecil berisi patung kuda kayu yang Mandy inginkan. Mandy terbelalak dan membuka kardus-kardus itu dengan tidak percaya.
“How did you do it? Did you rob them or something?”
“Of course not. It’s called the art of bargaining. Besides, I’m a local girl you know?”
Aku tersenyum bangga. Aku memang bukan penawar ulung. Mungkin Kak Anita bisa mendapatkannya dengan harga lebih murah. Tapi yang berada disini ‘kan aku, bukan kak Anita.
“Thank you so much, Delia. Mark is so right to bring you here. I’m going to put the horses in the car and you guys can just leave me. I’m with Abe and Mr. Wayan.”
Mandy pun bergegas membawa barang-barangnya ke arah parkiran mobil. Aku berdua dengan Mark berjalan pelan menuju ke arah yang semestinya tempat pura itu berada. Keberadaannya membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Padahal kami tidak hanya berdua disini, karena jalan dipenuhin berbagai jenis turis, namun rasanya seperti ada kami berdua. Kecanggungan itu terus berlanjut sebelum akhirnya Mark memulai percakapan.
“So, the art of bargaining?”
“Well, actually I’m not that good at bargaining. If my sister did that, she’d get the horses for about.. 5 USD for each.”
“Really? Wow, this guys are really good in trading and stuff.”
“Yeah, that’s why Bali becomes one of our biggest profit gainer.”
“You seems to like economy.”
“Yeah, totally. After I graduate from high school, I’m going to continue my study in economic fields.”
“That is interesting. You know what? I work as an acountant in D.C.”
“D.C. as Washington D.C?”
“Yeah. I know D.C. sounds cool, but it’s not as cool as you think.”
“Oh, come on..”
Aku dan Mark tertawa-tawa bersama. Perasaan hangat mengaliri tubuhku. Senang rasanya bisa tertawa lepas tanpa tekanan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku tertawa. Sudah seminggu kah? Dua minggu? Sebulan? Atau bahkan setahun?
“Hey Delia that’s the temple.”
Mark menggoyahkan lamunanku. Aku melihat pantai penuh dengan karang. Namun disisi sebelah kiri ada karang yang sangat besar, lebih seperti pulau kecil, dengan sebuah pura terbangun diatasnya. Untuk mencapai kesana kami harus menyebrangi air laut. Tidak jauh, dan air sedang surut. Kata Pak Wayan jika sedang pasang maka kita tak akan bisa mengunjungi pura itu.
Aku melangkahkan kakiku kedalam air. Sandalku basah, tapi aku tidak peduli. Banyak karang disitu dan aku harus hati-hati melangkah, kalau tidak salah-salah aku bisa tergelincir dan jatuh membentur karang. Aku bergidik. Mark melangkah dibelakangku. Aku mengambil langkah ke kiri dan mendarat di sebuah batu licin berlumut. Aku tersenyum kecut. Sepertinya ketakutanku terjadi. Badanku limbung seketika. Aku menutup mata dan mengharapkan sakit itu datang. Namun sepasang lengan kokoh memelukku dari belakang, mencegahku terjatuh.
Aku menoleh. Mark tersenyum lembut.
“Watch your steps, Delia.”
Aku kembali menghadap kedepan, berusaha menyembunyikan wajah merahku. Aku berusaha mengendalikan diri dan melepaskan diri dari pelukan Mark dengan sopan. Aku hendak melanjutkan langkah, namun Mark menggenggam tanganku. Aku terpana, namun ia menghiraukanku. Ia membimbing langkahku sampai akhirnya kami tiba di kaki tangga menuju ke pura. Kami menaiki tangga itu dan sampai di atas.
Pemandangannya menakjubkan. Laut tanpa batas dan puri yang eksotis. Angin berhembus, dan kami terdiam menikmatinya. Tangan Mark masih menggenggam tanganku. Ia kemudian mempererat genggamannya padaku.
Aku teringat kata-kata Kirana saat ia bercerita tentang kencannya dengan seorang teman sekelas.
“Kita gandengan tangan waktu itu. Gue seneng banget.”
“Gandengan tangan doang udah seneng banget sih, Kir.”
“Emang lo nggak tau artinya gandengan? Gandengan itu artinya ikatan. Mudah-mudahan gue bisa terikat sama Eric. Bukan cuma berakhir dalam satu kencan. Hehe.”
Sambil membalas eratnya genggaman Mark, aku berharap. Jangan sampai ikatan ini terputus.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar