Senin, 26 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Fourteen -- Delia

Tiga tahun telah berlalu, dan hidupku banyak berubah, kearah yang lebih baik tentunya.

Ayah dan Ibu bercerai tak lama setelah kami kembali dari Bali. Sepertinya itu keputusan yang terbaik, karena sejak itu Ibu langsung pindah ke Prancis bersama pacarnya dan membuka butik disana. Kudengar butik Ibu sangat sukses disana. Pacarnya juga sering menjadi model pakaian perancang terkenal lainnya di Prancis.

Sedangkan Ayah, beliau jadi lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Sebelumnya Ayah hanya pulang untuk tidur, itu juga kalau tidak ada perjalanan bisnis. Sekarang tiap akhir pecan beliau menghabiskan waktu di rumah, entah hanya untuk membaca buku, bermain catur denganku, berdiskusi tentang mobil dengan Kak Mario, atau berenang bersama kak Anita. Namun hal itu tak membuat bisnis Ayah terbengkalai. Malah sekarang semakin maju, dan Ayah sedang mencoba membuat perusahaan provider telepon genggam prabayar.

Kak Anita pun juga berubah. Pulang dari Bali, kak Anita bertemu dengan seorang lelaki, dan tentu saja akhirnya mereka berpacaran. Suatu ketika lelaki ini, kak Andra, mengajak kak Anita pergi ke sebuah panti asuhan. Mungkin hal itu membuat kak Anita tersentuh. Malam itu juga, setelah kak Anita sampai di rumah, ia menceritakan segalanya padaku. Ia merasa sangat menyesal telah meninggalkan anaknya pada orang lain. Ia memohon-mohon padaku untuk menemaninya mengunjungi pasangan suami istri yang telah mengadopsi anaknya. Sebetulnya aku malas sekali, karena aku tak ingin terlibat dalam masalah kak Anita. Namun aku tak tega melihatnya. Baru kali ini aku melihatnya menangis sesedih itu.

Keesokannya aku menemani kak Anita berkunjung ke rumah Pak Suryasa. Aku tak ikut masuk kedalam, namun aku bisa mendengar sayup-sayup suara perdebatan dan tangis kak Anita. Setelah beberapa lama, kak Anita keluar menggendong bayi. Kemudian seorang wanita keluar hendak mengejar kak Anita sambil menangis dan meneriakinya. Seorang pria, mungkin Pak Suryasa, menahan wanita itu dan menyuruh kak Anita untuk cepat-cepat pergi. Kak Anita tak pernah bercerita sepatah kata pun tentang kejadian itu padaku. Dan aku pun tak pernah bertanya kepadanya.

Sejak itu Ferdi, nama anak Kak Anita, tinggal bersama kami di rumah Ayah. Sama sepertiku, Ayah juga tak mengajukan pertanyaan tentang Ferdi. Ayah langsung menerimanya, seakan-akan Ferdi sudah sejak lahir tinggal di rumah ini. Sekarang kak Anita tak pernah keluyuran lagi. Ia hanya di rumah mengurus Ferdi. Sedangkan kak Andra masih mengunjungi kak Anita sesekali, namun sepertinya kak Anita tak ingin dulu berhubungan dengan lelaki.

Tentang kak Mario, ia tak banyak berubah. Hanya saja akhir-akhir ini mukanya makin pucat dan tirus. Aku masih menemukan pil-pil bermacam warna di kamarnya, namun aku diam saja. Kak Mario sekarang bekerja menjadi IT di perusahaan Ayah. Selain itu, tak banyak yang berubah pada diri kak Mario.

Dan aku juga mengalami banyak perubahan. Lulus SMA aku diterima di Universitas Indonesia jurusan akuntansi. Sekarang aku telah memasuki tahun ketigaku. Mungkin sebentar lagi aku sudah harus membuat skripsi. Karena itu aku bekerja magang di kantor Ayah sebagai asisten akuntan. Dan Ayah berhasil mencomblangiku dengan salah satu pegawainya, kak Trisno. Dia lebih tua empat tahun dariku. Kerjanya sangat bagus, karena itu Ayah menyukainya. Kami telah berpacaran selama satu bulan sekarang.

Rasanya kehidupanku sudah nyaris sempurna. Namun rasanya ada yang kurang.

Sepotong hatiku tertinggal entah dimana.

Sabtu, 03 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Thirteen -- Mark

Segalanya telah aku persiapkan untuk malam ini. Aku sudah memilih sebuah restoran romantis. Letaknya di sekitar Denpasar. Mungkin akan memakan waktu lama untuk sampai di sana. Karena itu aku sudah menyewa mobil untuk malam ini. Aku sudah meminjam jas milik Abe. Hanya satu hal yang belum aku lakukan. Mengajak Delia makan malam.

Sore ini kami akan menonton pertunjukan tari berjudul Ramayana. Delia memberitahu kami bahwa tarian Ramayana berasal dari India. Tarian ini menceritakan tentang usaha Rama dalam menyelamatkan istrinya Sinta dari Rahwana. Aku bukan penikmat tarian, namun aku menyukai ceritanya.

Ditengah-tengah pertunjukan, aku menggenggam tangan Delia. Ia menoleh.

“Delia.”

“Yes?”

“I, um, wanna ask you something.”

Dia hanya diam namun menunjukkan ekspresi bertanya.

“Um, would you.. Would you like to have dinner with me tonight?”

“Tonight? With Abe, Mandy and Tony?”

“No. No, no, no. I mean just the two of us, you know. If you don’t mind.”

“That would be nice. I’d love to have dinner with you.” Ia tersenyum, lalu tertunduk malu.

Dan kami tak berbicara lagi sampai pertunjukan berakhir. Namun perasaan kami mengalir melalui genggaman tangan yang tak terlepas.

Kami pun akhirnya kembali ke hotel. Aku berbisik kepada Mandy untuk meminjamkan gaun formalnya kepada Delia. Mandy hanya bisa melotot tak setuju karena Delia masih berada di sekitar kami. Kemudian aku menawarkan untuk menjaga Tony suatu saat apabila Mandy dan Abe ingin berkencan. Ia memandangku tajam dan akhirnya setuju. Aku pun langsung menghampiri Delia.

“Hey, I’ll wait at the lobby at 8, okay?”

“Oh, okay.”

Kemudian aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. Jam 8 kurang 10 menit aku sudah berada di lobby dengan memakai jas Abe. Berulang kali aku berkaca hingga seorang doorman bertanya.

“Big night, sir?”

“Nah, just a dinner date. But I want it to be perfect.”

“Well, then good luck, sir.”

Tiba-tiba aku melihat seorang wanita cantik yang sedang memandangku lewat pantulan cermin.

“I thought I was too early.”

Sial, makiku dalam hati. Aku berhutang kepada Mandy banyak malam untuk menjaga Tony. Karena saat ini Delia sedang berdiri di depanku memakai gaun hitam dan sepatu hak tinggi. Dan ia terlihat semakin cantik karena Mandy mendandaninya.

“Do I look weird? I’m not used to this kind of outfit. And the make up too.”

“No, you’re too beautiful that I’m speechless.”

“Come on, you’re exaggerating.” Dia menunduk malu. Dia selalu menunduk ketika malu.

“Shall we?” Aku menyodorkan lenganku dan ia pun menyelipkan tangannya.

Dan seperti seorang gentleman aku pun membukakan pintu mobil untuknya.

Dalam setengah jam kami sampai di restoran. Aku memilih tempat di luar yang menghadap ke pemandangan kota di malam hari. Kemudian saat memesan makanan aku meminta Delia untuk memilihkan untukku.

“I want Indonesian food.”

“Do you like spicy food?”

“So much."

“Maybe Ayam Bakar Bumbu Bali? Balinese Spicy Grilled Chicken?”

“Let’s give it a shot.”

Delia juga memesan Ayam Bakar Bumbu Bali sepertiku. Ia menyebutkan pesanannya dalam Bahasa Indonesia kepada pelayan.

“What do you wanna drink?”

“I don’t know. I’m not feeling like to drink any kind of liquor right now.”

“Oh, I’m not gonna drink any of them anymore. I’m done with it. I’m ordering tea, do you want it too?”

“No, just coffee. Black coffee.”

Setelah pelayan mencatat pesanan kami, ia pun pergi. Aku teringat buket bunga mawar lavender yang tertinggal di kursi belakang mobil. Aku izin sebentar ke kamar mandi, padahal aku mengambil buket bunga itu. Layaknya film romantis tahun 80an, aku menyembunyikan buket bunga itu di belakang pundakku. Kemudian aku menghampiri Delia dan menyerahkan buket bunga itu kepadanya.

“Oh, Mark. This is very sweet. Thank you.”

“My pleasure.”

“Is it just me, or these are purple?”

“Actually it’s lavender.”

“Lavender roses? It must be really rare.”

“It’s a coincidence that the florist have some of them.”

Delia mengambil setangkai dari buketnya dan menghirup harumnya.

“It smells nice, can you smell it?”

Aku mengambil setangkai mawar lavender itu dan menghirupnya.

“Yes it smells really nice.”

Kemudian aku menyelipkan mawar lavender itu di telinganya. Delia tertawa.

“This is so corny.”

“But you look good with it.”

“Thank you.”

Tak lama pesanan kami datang dan kami pun makan. Aku sangat menyukai makanannya, tapi Delia kurang menyukainya. Ia bilang pelayannya di rumah bisa memasak lebih enak dari ini. Satu fakta lagi ku ketahui dari dirinya. Ia punya seoarang pelayan.

Musik mengalun pelan dari sebuah band yang bermain tak jauh dari kami. Banyak juga pasangan, yang sepertinya bukan orang lokal, berdansa mengikuti irama lagu. Aku pun tak ingin tertinggal. Aku menghampiri Delia dan menyodorkan tanganku.

“Will you dance with me?”

“I can’t, Mark.”

“Come on, Delia. Just once. Please? I’ll teach you. It’s simple.”

“Fine, just once okay?”

Dan tangannya yang lembut menyambut tanganku. Tangannya yang satu lagi meraih pundakku, dan tanganku yang satu lagi menghampiri pinggangnya. Kami hanya melangkah ke kanan dan kiri perlahan.

“See? It’s easy.”

Delia hanya tersenyum lebar. Tiba-tiba sebuah tangan menarik Delia dariku.

“Delia!”

“Ayah?”

“Apa yang kamu lakukan disini? Ayo pulang!”

Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan

“Sir, what do you want from her?”

“And who are you?”

“Ayah, ini teman Delia.”

“Teman kamu? Teman macam apa yang membawamu jauh dari Ayah? You, young man. Don’t ever touch your dirty hand on my daughter again. Do you hear me? Ayo pulang Delia.”

Ternyata lelaki itu adalah Ayah Delia. Dan beliau menarik Delia pergi dariku.

“But, sir!” Aku berusaha mengejar mereka, namun dua lelaki berseragam menahanku. Delia hanya bisa menoleh sesekali sambil meminta maaf padaku di sela-sela tangisnya. Aku berusaha memberontak, namun lelaki-lelaki ini begitu kuat sehingga aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Delia! Don’t leave me! Delia!”

Aku tak menghiraukan orang lain yang menonton adegan ini. Aku terus berteriak hingga Delia tak terlihat lagi. Baru lelaki-lelaki itu melepaskanku dan pergi meninggalkan restoran ini. Aku langsung berlari keluar dan sudah tak ada apa-apa lagi disana.

Tak ada apa-apa lagi. Seperti hatiku. Sang Rahwana sudah mengambil Sintaku.

Kamis, 01 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Twelve -- Mark

Saat aku terbangun, semua begitu terasa indah.

Aku melompat dari tempat tidurku dan membangunkan Abe. Dia mengerangkan protesnya.

“What time is it now? Uh, I’m still tired from yesterday.”

“It’s 7 a.m. Come on, man. Wake up, it’s a beautiful day.”

“God, it’s still early, Mark. Let me rest for awhile. What’s wrong with you?”

“No, nothing’s wrong. It’s actually perfect.”

Namun Abe tidak memperhatikan. Dia malah melanjutkan tidurnya yang sempat ku ganggu. Aku menghampiri jendela dan membukanya. Ku hirup dalam-dalam udara berbau asin menyenangkan ini. Terasa menenangkan. Aku kembali mengingat kejadian semalam.

“Mark.” Delia memanggilku.

“Yeah?”

Ia tidak menjawabnya.

“What’s wrong Delia?”

“Nothing.”

Wajahnya memerah. Ia terlihat sangat manis dengan muka malu-malu. Kemudian ia tertunduk. Entah apa yang mendorongku, namun tiba-tiba aku mengangkat dagunya hingga ia memandangku. Sepasang mata hitam itu memandangku, tidak tajam, tapi penuh perasaan. Sepasang mata hitam itulah yang membuatku jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta dengan perempuan yang baru ku kenal kurang dari 2 hari itu.

Dan perasaan cinta itu begitu memenuhi hatiku. Begitu penuhnya seperti sebuah gelas yang diisi dengan air dari keran sampai meluap, dan luapannya mendorongku melakukan sesuatu yang gila.

Aku mencium bibirnya dengan lembut. Sebuah kecupan ringan yang bahkan tidak bertahan lebih dari beberapa detik. Namun detik-detik itu terasa seperti selamanya. Kecupan singkat yang manis itu mempertegas keyakinanku untuk mencintai gadis yang berada dihadapanku ini.

Wajah Delia merah padam. Ia semakin terlihat manis. Ia menggigit bibirnya.

“Good night, Mark.”

Ia kemudian buru-buru masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Dan aku hanya tersenyum bahagia. Seperti saat ini. Semalam terasa begitu nyata dan aku tak bisa berhenti tersenyum. Hari ini terasa begitu indah untuk dilewatkan, dan aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel.

Jalanan masih belum terlalu ramai, hanya ada penduduk lokal yang bersiap-siap memulai aktivitas. Aku berjalan melewati berbagai toko sambil menolak tawaran para penjual, entah apa barang yang dijualnya. Kemudian aku berhenti di sebuah toko bunga.

“Good morning, sir.”

Aku menengok. Ternyata sang pemilik toko yang menyapaku.

“Are you looking for a certain flower, sir?”

“Um, not exactly. I just passed by and suddenly I’m thinking to buy some flowers for the girl I love.”

“For your lover? Ah maybe these red roses suits?”

“No, it’s too passionate. I’m looking for softer one.”

“Ah, you’re right. Red roses means lustful love. How about the pink ones?”

“Well, somehow I don’t think it suits her personality. She’s different. I’m looking for something different.”

“Oh, I know.”

Kemudian ia mengambil sebuket mawar berwarna ungu muda.

“These are lavender roses.”

“They’re pretty.”

“They are, sir. But it’s rather expensive, sir, because the seeds are imported from Australia.”

“I don’t mind the price. What does it mean.”

“It means love at the first sight.”

Kenyataan itu menghunjam diriku, namun dengan cara yang menyenangkan.

“I’ll get a bucket.”

Setelah aku membayarnya, aku memikirkan waktu yang tepat untuk memberikannya. Mungkin aku akan mencari sebuah restoran romantis dan mengajak Delia makan malam disana setelah tur hari ini. Akan kusuruh Mandy meminjamkan gaunnya untuk Delia.

I can’t wait for tonight!