Rabu, 31 Maret 2010

Lavender Rose -- Chapter Six -- Mark

Dering handphone-ku mulai mengganggu.

Aku memaksakan mataku untuk terbuka dan membaca nama yang tertera di layar handphone-ku. Amanda Houston. Aku mengumpat kesal dan mengangkatnya.

“Yeah, Mandy?”

“Wake up, sleepyhead. It’s already 10. We’re going to visit someplace called Trunyan, and if you don’t hurry we’ll leave you.”

“Just leave me. I still have the jetlag. Besides, I’m not in the mood to have cultural tour right now. I’m gonna meet a friend on Kuta so just leave me, I’m okay.”

“Fine. We’re going straight now. Bye, take care.”

Aku langsung menonaktifkan handphone-ku dan melanjutkan tidur. Jam 2 siang aku baru terbangun. Aku teringat bahwa aku akan bertemu temanku Chris di kuta. Aku mengaktifkan handphone dan menelponnya. Beruntung, ternyata dia sedang berada di sekitar Kuta. Aku segera mencuci muka dan menyikat gigi. Tak lupa aku membawa papan surf-ku karena siapa tahu ombak sedang asyik-asyiknya. Aku menelpon hotel untuk memesan taksi, kemudian aku berangkat.

Sampai disana aku lupa dimana tempat yang Chris sebutkan, jadi aku hanya turun di pinggir jalan dan langsung menuju pantai.

Pantai itu cukup ramai ternyata. Banyak juga turis-turis yang berkeliaran, jadi tidak terasa bahwa aku sedang berada di Asia. Aku melangkahkan kaki mendekati pantai, papan surf-ku aku letakkan diatas pasir bersama tas backpack-ku, dan mulai melihat ke sekitar.

Tiba-tiba perhatianku terpusat pada seorang gadis lokal yang sedang berjalan sendirian di tepi pantai. Ia berjalan menunduk, semakin mendekatiku. Kemudian dia mengangkat kepalanya, dan langsung melihat kepadaku. Tepat di mataku.

Matanya menyorotkan kesedihan. Ia seperti meminta tolong kepadaku agar diselamatkan. Ya Tuhan, aku tak bisa mengalihkan pandanganku. Aku ingin berlari dan memeluknya, namun aku takut ia akan marah. Aku ingin melakukan apapun untuknya, untuk menghapus sorot kesedihan itu dari matanya. Tapi namanya pun aku tidak tahu. Aku hanya bisa berdiri diam sambil menatapnya, berharap ia tahu bahwa aku akan menjual nyawaku demi kebahagiaan.

Kalau cinta pada pandangan pertama memang ada, maka aku sedang mengalaminya. Yeah.

Aku berharap aku punya keberanian untuk menghampirinya. Aku ingin sekedar berkenalan dengannya. Ia terlihat berpendidikan, mungkin ia bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Ku harap. Aku mengumpulkan sisa harga diriku dan ketika aku sudah hampir melangkahkan kakiku mendekatinya, seorang lelaki berteriak dan memunculkan ekspresi kesal di wajah Asianya. Aku mendengar sekilas apa yang lelaki itu teriakan, terdengar seperti Delia. Itukah namanya? Nama yang unik, tapi aku menyukainya.

Delia menghampiri lelaki itu. Akupun kecewa. Mungkin lelaki itu kekasihnya. Atau bukan. Ekspresinya juga menunjukkan bahwa ia pun sama kecewanya denganku. Kemudian ia bergegas berlari menuju lelaki pengganggu itu. Disela langkah kakinya, ia menyempatkan diri untuk sekali lagi menengok ke arahku. Aku menyebutkan namanya tanpa suara. Delia. Ia terlihat terkejut, tapi kemudian tersenyum kecil dan melanjutkan langkah kakinya. Akhirnya ia tidak terlihat lagi.

Hatiku terasa kosong memikirkan kecilnya kemungkinan bahwa aku akan bisa melihatnya lagi. Mungkinkah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar