Rabu, 31 Maret 2010

Lavender Rose -- Chapter Three -- Delia

“Delia, Ayah harus memberitahumu tentang sesuatu. Coba kamu duduk dulu.”

Aku duduk di sofa yang Ayah tunjuk. Dalam pikiranku muncul pertanyaan-pertanyaan, hal apa yang kira-kira akan ia beritahukan? Perceraiankah? Atau masih ada yang lebih buruk lagi? Hal apa yang lebih buruk dari perceraian?

“Sebelumnya Ayah ingin tahu, Delia kapan mulai libur akhir tahun?”

“Kira-kira minggu depan, Yah.”

“Kalau begitu, Delia sebaiknya bersiap-siap.”

“Bersiap-siap untuk apa?”

“Kita akan pergi berlibur ke Bali selama seminggu.”

“Kita? Maksud Ayah, kita semua?”

“Tentu saja, Delia. Ayah tidak mau ada yang tidak ikut dalam liburan kali ini.”

“Mengapa tiba-tiba?”

Ayah termenung sejenak. Kemudian beliau menjelaskan maksudnya.

“Kau tentu tahu Delia, Ayah dan Ibu tak pernah akur sejak dulu. Minggu lalu kami berdebat dan memutuskan untuk bercerai. Namun keluarga besar meminta kami berdua memberikan kesempatan bagi satu sama lain. Pengacara Ayah mengusulkan agar kami pergi berlibur untuk mendapatkan suasana baru. Tapi tentu kami tak mau hanya pergi berdua. Masa kami meninggalkan kalian sendiri di rumah sementara kami bersenang-senang?”

Kak Anita mendengus. Wajar saja kalau ia menganggap perkataan Ayah lucu. Alasan Ayah mengajak kami pastinya bukan karena kasihan, tetapi karena Ayah akan merasa awkward untuk pergi berdua saja bersama Ibu. Aku juga ingin tertawa, namun tak berani menyinggung Ayah dan Ibu. Sementara itu Ibu dan Kak Mario diam saja.

“Oke. Kapan kita berangkat?”

“Kita berangkat minggu depan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar