Rabu, 31 Maret 2010

Lavender Rose -- Chapter One -- Delia

Mataku terbuka lebar.

Aku mulai membenci lagu gubahan band internasional itu yang sengaja ku pasang sebagai nada dering alarm untuk membangunkanku setiap pagi. Memang lagu rock itu sangat efektif, namun aku benci dibangunkan saat aku sedang lelap-lelapnya tertidur. Mau bagaimana lagi, kebijakan pemerintah kota yang mengharuskan sekolah memulai kegiatan belajar mengajar dari jam 6.30 membuatku harus bangun lebih pagi. Aku menganggap kebijakan itu tolol. Lihat saja, jalanan di Jakarta tetap macet seperti biasa.

Sambil memaki dalam hati, aku pun beranjak ke kamar mandi. Air dingin yang memancar dari shower membangunkanku. Aku berubah pikiran tentang lagu rock itu dan memutuskan untuk tidak menggantinya. Aku kemudian tertawa. Esok pagi di jam yang sama pasti aku juga akan berpikir seperti itu; menganggap lagu itu menyebalkan kemudian berubah pikiran saat aku benar-benar terjaga.

Selesai mandi dan berpakaian, aku pun mengambil tasku dan keluar dari kamar. Aku sempat terpikir untuk sarapan sejenak, namun melihat meja makan yang kosong aku jadi mengurungkan niatku.

Meja makan itu selalu kosong.

Bukan kosong dari makanan. Aku bisa minta tolong Bik Yayah untuk memasakkan macam-macam makanan nikmat yang aku inginkan. Namun untuk apa ada makanan yang tersedia di meja makan apabila tidak ada orang yang memakannya? Keluargaku tak pernah makan di meja makan. Orangtuaku tak pernah ada di rumah. Kakak-kakakku hanya menganggap rumah sebagai tempat beristirahat. Aku merasa hanya aku yang menganggap rumah ini sebagai tempat tinggalku.

Ayahku adalah seorang businessman. Beliau memiliki 2 perusahaan yang masing-masing bergerak di bidang telekomunikasi, dan transportasi. Dalam bidang telekomunikasi, perusahaannya menyediakan tower untuk provider telepon selular . Dalam bidang transportasi, Ayahku memiliki sebuah perusahaan taksi. Waktunya selalu dihabiskan untuk mengurus perusahaannya. Secara materil, Ayahku bisa memberikan semua yang beliau kira aku inginkan. Namun sayang, materi sudah tidak menarik lagi bagiku.

Ibuku adalah seorang fashion designer yang selingkuh dengan salah seorang modelnya. Hal itu memang bukan rahasia lagi, apalagi di lingkungan rumahku. Sejak aku SMP beliau selalu membawa lelaki itu ke rumah. Kukira mereka hanya membicarakan soal pekerjaan, namun sekali ku lihat mereka berpagutan mesra di ruang tamu tanpa peduli ada aku yang melihat. Aku tak mengadukannya kepada Ayah, tapi esok harinya aku mendengar Ayah dan Ibu bertengkar rebut. Sejak saat itu si model laki-laki jadi jarang terlihat di rumahku, begitu juga Ibuku.

Kakakku yang pertama hamil diluar nikah. Beruntung dulu aku berhasil meyakinkannya untuk tidak aborsi. Namun ia tetap menolak membesarkan anaknya dan akhirnya menyerahkan anak itu kepada sepasang suami istri yang tak kunjung di karuniai anak. Kak Anita, begitu nama kakakku, seperti tidak merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan. Bahkan ia tidak merubah pribadinya, ia tetap rajin berganti pacar setiap minggu dan aku tak tahu berapa banyak yang sudah tidur bersamanya.

Sekilas kakakku yang kedua, Kak Mario, memang terlihat seperti laki-laki biasa. Mungkin ada kesan bahwa ia adalah seorang kutubuku akibat kacamata yang dipakainya. Ia adalah seseorang yang sangat cuek terhadap segalanya. Kupikir ia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh, namun ternyata aku salah. Aku pernah melihat sebuah kantong besar berisi pil-pil beraneka warna dan bentuk di dalam tasnya. Setelah itu aku mulai memperhatikan Kak Mario. Akhir-akhir ini ia semakin kurus dan wajahnya semakin tirus. Jangan salahkan aku kalau aku berpikir bahwa pil-pil itu adalah narkoba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar