Rabu, 08 September 2010
Lavender Rose -- Chapter Sixteen -- Mark
Selasa, 07 September 2010
Lavender Rose -- Chapter Fifteen -- Delia
Kelas Akuntansi Lanjutan ini akan berakhir dalam beberapa menit. Jujur saja, aku tak ingin kelas ini cepat-cepat berakhir. Kak Tris sudah menunggu di lapangan parkir kampus dengan mobilnya. Sebelum mengantarku ke kantor, ia mengajakku makan siang. Aku belum merasa nyaman berada di samping Kak Tris. Lebih baik aku mendengarkan dosen tua ini mengajar daripada makan siang yang kikuk bersama Kak Tris. Namun apadaya, Kak Tris termasuk orang yang dekat dengan Ayah, dan aku tak mau ia mengadu pada beliau.
"Sampai jumpa minggu depan."
Kata-kata dosen membuatku tersadar dari lamunanku. Ah, berat rasanya kaki ini melangkah. Tak terasa, aku sudah menghampiri Kak Tris yang sedang merokok sambil bersandar pada mobilnya.
"Merokok itu nggak baik loh kak."
"Ah, Delia."
Tanpa mematikan rokoknya ia membukakan pintu mobil untukku. Kemudian ia sendiri masuk kedalam mobil, dan kami pun berangkat.
Kami makan siang di sebuah restoran seafood. Salah satu hal yang tidak kusukai dari Kak Tris adalah, ia selalu menganggap apa yang disukainya pasti kusukai juga. Padahal aku alergi udang.
"Del, udangnya enak banget loh. Kamu mesti cobain deh."
Dan salah satu hal yang tidak kusukai dari diriku sendiri adalah aku tidak bisa jujur di depan Kak Tris.
"Iya kak."
Menghabiskan siang bersama orang yang tidak kusukai dan berpura-pura memakan makanan yang tidak kusukai bukan merupakan hobiku. Untung Kak Tris tidak memperhatikan dan ia juga sepertinya ingin buru-buru kembali ke kantor. Saat kami sampai di kantor, kami bertemu Ayah.
"Wah, akhirnya kau kembali juga Tris. Tadi makan siang dimana sama Delia?"
"Di Seafood Corner, Pak. Udangnya enak banget, kapan-kapan Bapak mesti coba makan disana. Iya kan, Del?"
"Ng.. iya, Yah."
Ayah melirik curiga ke arahku.
"Begitukah? Oh, iya Del. Ayah memindahkanmu ke posisi lain, karena hari ini ayah sudah menemukan Manager Accounting yang baru. Ia yang akan mendidikmu. Kamu juga harus membantunya berlatih berbicara Bahasa Indonesia."
"Memangnya dari luar negeri, Yah?"
"Sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Tidak cocok dengan kantor sebelumnya makanya pindah."
"Begitu. Setelah ini Ayah yang antarkan Delia ke ruangannya saja ya?"
"Baiklah. Tris, kau kembali ke ruanganmu saja."
Kak Tris mengangguk sopan. Namun saat Ayah tidak melihat ia mengedipkan sebelah mata kepadaku. Aku memberikannya senyum palsu. Lalu aku mengikuti Ayah ke sebuah ruangan di lantai 5. Ayah mengetuk pintu. Terdengar suara yang anehnya familiar dari dalam.
"Please come in."
Handphone-ku bergetar tanda SMS masuk. Aku membacanya. Kak Tris mengajakku makan malam. Aku mencibir dalam hati.
"Mr. Andrews, this is my daughter, Delia."
"Hi, Delia."
Aku memindahkan pandangan dari layar handphone ke arah bos baruku. Dan aku begitu terkejut sampai-sampai handphone-ku terjatuh. Meskipun tumbuh kumis tipis diatas bibirnya dan gaya rambutnya berbeda, aku masih mengenalinya.
Dia adalah Mark.