Rabu, 08 September 2010

Lavender Rose -- Chapter Sixteen -- Mark

Sudah dua tahun aku tinggal di negara ini.

Sejak aku berpisah dengan Delia, banyak hal buruk yang menimpaku. Sepulang dari Bali, Abe dan Mandy kecelakaan. Malam itu Tony sedang bersamaku. Abe dan Mandy sedang dalam perjalanan pulang dari kencan mereka saat sebuah truk kontainer menabrak mobil mereka. Aku tahu aku sudah terlambat saat aku tiba di rumah sakit.

Tony tidak menangis saat pemakaman Abe dan Mandy. Dia berceloteh seperti biasanya. Tentu saja ia yang masih berumur 2 tahun itu belum mengerti. Wasiat yang dibacakan oleh pengacara Mandy dan Abe mengatakan bahwa aku mendapat hak perwalian Tony. Ku peluk erat Tony saat peti mati keluarga terakhirku dikubur.

Kerjaku di Wachovia Bank tidak karuan. Pekerjaanku bertambah banyak ketika isu resesi berkembang. Dan Tony susah sekali untuk ditinggal. Keuangan menipis, dan stres itu kian menumpuk. Setahun kulewati, dan aku benar-benar tak tahan lagi. Kuambil cuti seminggu untuk memikirkan segalanya.

Dalam seminggu tersebut, tercetus sebuah ide. Aku akan pindah ke Indonesia. Kupikir tak ada lagi yang membuatku bertahan di negeri Paman Sam ini. Kudengar juga ada lowongan pekerjaan di Wachovia Bank cabang Jakarta. Biaya hidup disana lebih murah. Mungkin juga aku akan bertemu dengan Delia.

Akhirnya aku pindah ke Jakarta bersama Tony. Peruntungan kami membaik. Aku mendapat pekerjaan di Wachovia Bank cabang Jakarta. Chloe, adik Chris, tinggal di sebuah apartemen di Jakarta dan kami diizinkan untuk tinggal disana sementara rumah kami dibangun. Chloe bagaikan malaikat di hidupku yang sedang dilanda kehancuran ini. Dia yang menjaga Tony selama aku bekerja. Dia juga yang memilihkan Playgroup untuk Tony.

Chloe adalah wartawan The Jakarta Post. Ia sudah lama tinggal di Jakarta, dan sudah hafal jalan. Dia bisa berbahasa Indonesia. Aku belajar sedikit darinya. Chloe adalah seorang wanita yang sangat pintar. Meskipun tak pernah belajar lebih dalam mengenai ilmu akuntansi, dia mengerti cukup banyak tentang hal itu sehingga dia banyak membantuku dalam urusan kerja. Ia juga seorang yang cukup cantik. Berbeda dengan kakaknya Chris, Chloe adalah wanita yang tegas dalam menjalin hubungan. Seharusnya semua sudah cukup bagiku untuk memulai hubungan dengannya.

Sayangnya hatiku sudah kuberikan pada Delia.

Selasa, 07 September 2010

Lavender Rose -- Chapter Fifteen -- Delia

Kelas Akuntansi Lanjutan ini akan berakhir dalam beberapa menit. Jujur saja, aku tak ingin kelas ini cepat-cepat berakhir. Kak Tris sudah menunggu di lapangan parkir kampus dengan mobilnya. Sebelum mengantarku ke kantor, ia mengajakku makan siang. Aku belum merasa nyaman berada di samping Kak Tris. Lebih baik aku mendengarkan dosen tua ini mengajar daripada makan siang yang kikuk bersama Kak Tris. Namun apadaya, Kak Tris termasuk orang yang dekat dengan Ayah, dan aku tak mau ia mengadu pada beliau.

"Sampai jumpa minggu depan."

Kata-kata dosen membuatku tersadar dari lamunanku. Ah, berat rasanya kaki ini melangkah. Tak terasa, aku sudah menghampiri Kak Tris yang sedang merokok sambil bersandar pada mobilnya.

"Merokok itu nggak baik loh kak."

"Ah, Delia."

Tanpa mematikan rokoknya ia membukakan pintu mobil untukku. Kemudian ia sendiri masuk kedalam mobil, dan kami pun berangkat.

Kami makan siang di sebuah restoran seafood. Salah satu hal yang tidak kusukai dari Kak Tris adalah, ia selalu menganggap apa yang disukainya pasti kusukai juga. Padahal aku alergi udang.

"Del, udangnya enak banget loh. Kamu mesti cobain deh."

Dan salah satu hal yang tidak kusukai dari diriku sendiri adalah aku tidak bisa jujur di depan Kak Tris.

"Iya kak."

Menghabiskan siang bersama orang yang tidak kusukai dan berpura-pura memakan makanan yang tidak kusukai bukan merupakan hobiku. Untung Kak Tris tidak memperhatikan dan ia juga sepertinya ingin buru-buru kembali ke kantor. Saat kami sampai di kantor, kami bertemu Ayah.

"Wah, akhirnya kau kembali juga Tris. Tadi makan siang dimana sama Delia?"

"Di Seafood Corner, Pak. Udangnya enak banget, kapan-kapan Bapak mesti coba makan disana. Iya kan, Del?"

"Ng.. iya, Yah."

Ayah melirik curiga ke arahku.

"Begitukah? Oh, iya Del. Ayah memindahkanmu ke posisi lain, karena hari ini ayah sudah menemukan Manager Accounting yang baru. Ia yang akan mendidikmu. Kamu juga harus membantunya berlatih berbicara Bahasa Indonesia."

"Memangnya dari luar negeri, Yah?"

"Sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Tidak cocok dengan kantor sebelumnya makanya pindah."

"Begitu. Setelah ini Ayah yang antarkan Delia ke ruangannya saja ya?"

"Baiklah. Tris, kau kembali ke ruanganmu saja."

Kak Tris mengangguk sopan. Namun saat Ayah tidak melihat ia mengedipkan sebelah mata kepadaku. Aku memberikannya senyum palsu. Lalu aku mengikuti Ayah ke sebuah ruangan di lantai 5. Ayah mengetuk pintu. Terdengar suara yang anehnya familiar dari dalam.

"Please come in."

Handphone-ku bergetar tanda SMS masuk. Aku membacanya. Kak Tris mengajakku makan malam. Aku mencibir dalam hati.

"Mr. Andrews, this is my daughter, Delia."

"Hi, Delia."

Aku memindahkan pandangan dari layar handphone ke arah bos baruku. Dan aku begitu terkejut sampai-sampai handphone-ku terjatuh. Meskipun tumbuh kumis tipis diatas bibirnya dan gaya rambutnya berbeda, aku masih mengenalinya.

Dia adalah Mark.​