Rabu, 31 Maret 2010

Lavender Rose -- Chapter Eleven -- Delia

Hari ini sangat melelahkan, namun menyenangkan. Setelah mengunjungi Tanah Lot, kami mengunjungi Bedugul. Ada sebuah pura yang dibangun di atas sepetak tanah yang berada di danau. Indah sekali pemandangannya. Orang Bali memang pandai menjaga alam. Aku yang orang Indonesia saja terpukau, apalagi Mark dan Mandy sekeluarga.

Saat ini mobil kami sudah mendekati lobi hotel. Kami pun turun dan masuk ke dalam hotel. Langit sudah gelap saat kami memutuskan untuk menyudahi tur pura, dan sekarang sudah pukul 9 malam WITA. Tony sudah tidur dalam pelukan Mandy. Hari ini tentu melelahkan pula baginya. Seharian ia berceloteh saja. Kalau ada sesuatu yang membuatnya senang ia akan menjerit girang. Aku jadi ikut tertawa melihatnya. Namun kalau ada yang membuatnya kesal, tangisannya akan pecah dan butuh waktu lama untuk menenangkannya. Aku sangat menyukai Tony, ia membuatku tertawa bahagia seharian ini.

Aku punya perasaan kuat kalau euforia ini akan berakhir, cepat atau lambat. Hari ini sudah cukup mengejutkan karena aku bisa berjalan-jalan tanpa tertangkap pesuruh Ayah. Mungkin besok atau lusa mereka akan menemukanku. Dulu waktu Kak Anita kabur pagi-pagi buta, pesuruh Ayah membawanya pulang malamnya. Mungkin karena pesuruh Ayah belum mengenal Bali dengan baik, mereka belum menemukanku. Kalau mereka tidak menemukanku sampai seminggu, aku akan kembali sendiri. Aku merasa tak enak.

Tanpa terasa aku sudah sampai di depan kamar Mandy. Mandy dan Tony sudah masuk lebih dahulu, dan Abraham sudah masuk ke kamar Mark. Aku tak tahu apa yang menahanku untuk masuk ke dalam kamar. Aku malahan memasang penyangga pintu dan berbalik untuk memanggil Mark.

“Mark.”

Aku bahkan tak tahu untuk apa aku memanggilnya.

“Yeah?”

Ia selalu menatapku dalam. Aku terpaku karenanya. Melihatku diam saja, Mark bertanya.

“What’s wrong Delia?”

Entah mengapa wajahku tiba-tiba memerah dan aku refleks menundukkan kepalaku.

“Nothing.”

Tiba-tiba jemari Mark mengangkat daguku sehingga aku kembali ditatapnya. Matanya seperti pasir hisap yang memerangkapku, membuatku tak bisa mengalihkan diri dari pandangannya yang sarat akan emosi itu. Dalam hati aku menebak-nebak apa arti pandangannya. Apakah ia memandangku karena ada sesuatu di wajahku? Apakah ia memandangku karena ia ingin memberitahuku tentang sesuatu? Atau apakah ia memandangku karena ia hanya ingin memandangku, seperti aku yang memandangnya karena hanya ingin memandangnya?

Sibuk dengan pikiranku, aku tak sadar bahwa jemarinya membawa wajahku mendekat. Ia membisikkan namaku. Dan dalam momen magis itu, ia menciumku dengan lembut.

Oh Tuhan!

Lavender Rose -- Chapter Ten -- Delia

Mobil kami berbelok ke kanan dan berhenti di loket karcis. Mandy menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada Pak Wayan untuk membayar karcis. Kami sedang berada di areal Tanah Lot, sebuah cagar budaya dimana terdapat sebuah pura yang berada diatas karang namun terpisah dari daratan. Sedikit. Mark bilang Mandy sangat menyukai hal-hal yang tradisional.

Aku melirik ke arah kembalian yang baru disodorkan kepada Mandy oleh Pak Wayan. Kemudian kami semua turun dari mobil dan berjalan memasuki area pasar sebelum sampai ke pura. Sambil berjalan, aku berpikir. Aku tahu bahwa turis asing mendapat ‘perlakuan’ yang berbeda, tapi kadang ‘perlakuan’ tersebut keterlaluan, setidaknya melewati batas toleransiku. Sebenarnya harga tiket itu tak masalah, Mandy sanggup membayarnya untuk kami, tapi aku tidak suka membuang-buang uang. Aneh, aku terlahir dalam keluarga kaya tapi jarang menikmati kekayaan tersebut. Lagi-lagi, terima kasih untuk Bik Yayah.

Mandy keluar dari sebuah kios dan memasang ekspresi kecewa. Aku bertanya kepadanya apa yang terjadi.

“I wanna buy some of those wooden sculptures, but it’s a bit expensive. I think it’s a bit wasteful to spend 1000 USD for souvenires.”

“Which one did you want?”

“The horses.”

Aku secara refleks melotot terkejut. Mark tertawa dan memberitahuku.

“She’s always like that. Buying useless things.”

“It’s not useless. It’s for our neighbors.”

Aku tersenyum melihat pertengkaran kakak-adik itu. Sedikit banyak aku merasa iri karena aku tidak pernah merasa akrab dengan kakak-kakakku. Kemudian aku mendapat ide.

“Mandy, gimme 200 and I’ll get 10 wooden horses for you.”

Mandy menghentikan pertengkaran dengan Mark dan mengangkat alisnya sambil tersenyum meragukan. Toh ia tetap memberiku dua juta rupiah dan melanjutkan pertengkarannya. Mark sesekali melirikku.

Tak lama kemudian aku keluar membawa kardus-kardus kecil berisi patung kuda kayu yang Mandy inginkan. Mandy terbelalak dan membuka kardus-kardus itu dengan tidak percaya.

“How did you do it? Did you rob them or something?”

“Of course not. It’s called the art of bargaining. Besides, I’m a local girl you know?”

Aku tersenyum bangga. Aku memang bukan penawar ulung. Mungkin Kak Anita bisa mendapatkannya dengan harga lebih murah. Tapi yang berada disini ‘kan aku, bukan kak Anita.

“Thank you so much, Delia. Mark is so right to bring you here. I’m going to put the horses in the car and you guys can just leave me. I’m with Abe and Mr. Wayan.”

Mandy pun bergegas membawa barang-barangnya ke arah parkiran mobil. Aku berdua dengan Mark berjalan pelan menuju ke arah yang semestinya tempat pura itu berada. Keberadaannya membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Padahal kami tidak hanya berdua disini, karena jalan dipenuhin berbagai jenis turis, namun rasanya seperti ada kami berdua. Kecanggungan itu terus berlanjut sebelum akhirnya Mark memulai percakapan.

“So, the art of bargaining?”

“Well, actually I’m not that good at bargaining. If my sister did that, she’d get the horses for about.. 5 USD for each.”

“Really? Wow, this guys are really good in trading and stuff.”

“Yeah, that’s why Bali becomes one of our biggest profit gainer.”

“You seems to like economy.”

“Yeah, totally. After I graduate from high school, I’m going to continue my study in economic fields.”

“That is interesting. You know what? I work as an acountant in D.C.”

“D.C. as Washington D.C?”

“Yeah. I know D.C. sounds cool, but it’s not as cool as you think.”

“Oh, come on..”

Aku dan Mark tertawa-tawa bersama. Perasaan hangat mengaliri tubuhku. Senang rasanya bisa tertawa lepas tanpa tekanan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku tertawa. Sudah seminggu kah? Dua minggu? Sebulan? Atau bahkan setahun?

“Hey Delia that’s the temple.”

Mark menggoyahkan lamunanku. Aku melihat pantai penuh dengan karang. Namun disisi sebelah kiri ada karang yang sangat besar, lebih seperti pulau kecil, dengan sebuah pura terbangun diatasnya. Untuk mencapai kesana kami harus menyebrangi air laut. Tidak jauh, dan air sedang surut. Kata Pak Wayan jika sedang pasang maka kita tak akan bisa mengunjungi pura itu.

Aku melangkahkan kakiku kedalam air. Sandalku basah, tapi aku tidak peduli. Banyak karang disitu dan aku harus hati-hati melangkah, kalau tidak salah-salah aku bisa tergelincir dan jatuh membentur karang. Aku bergidik. Mark melangkah dibelakangku. Aku mengambil langkah ke kiri dan mendarat di sebuah batu licin berlumut. Aku tersenyum kecut. Sepertinya ketakutanku terjadi. Badanku limbung seketika. Aku menutup mata dan mengharapkan sakit itu datang. Namun sepasang lengan kokoh memelukku dari belakang, mencegahku terjatuh.

Aku menoleh. Mark tersenyum lembut.

“Watch your steps, Delia.”

Aku kembali menghadap kedepan, berusaha menyembunyikan wajah merahku. Aku berusaha mengendalikan diri dan melepaskan diri dari pelukan Mark dengan sopan. Aku hendak melanjutkan langkah, namun Mark menggenggam tanganku. Aku terpana, namun ia menghiraukanku. Ia membimbing langkahku sampai akhirnya kami tiba di kaki tangga menuju ke pura. Kami menaiki tangga itu dan sampai di atas.

Pemandangannya menakjubkan. Laut tanpa batas dan puri yang eksotis. Angin berhembus, dan kami terdiam menikmatinya. Tangan Mark masih menggenggam tanganku. Ia kemudian mempererat genggamannya padaku.

Aku teringat kata-kata Kirana saat ia bercerita tentang kencannya dengan seorang teman sekelas.

“Kita gandengan tangan waktu itu. Gue seneng banget.”

“Gandengan tangan doang udah seneng banget sih, Kir.”

“Emang lo nggak tau artinya gandengan? Gandengan itu artinya ikatan. Mudah-mudahan gue bisa terikat sama Eric. Bukan cuma berakhir dalam satu kencan. Hehe.”

Sambil membalas eratnya genggaman Mark, aku berharap. Jangan sampai ikatan ini terputus.

Lavender Rose -- Chapter Nine -- Delia

Pening menyerang kepalaku saat aku mencoba membuka mata. Aku mengerang pelan. Di sekitarku terdengar suara wanita yang berbicara dengan bahasa Inggris yang belum dapat ku cerna dengan pikiranku yang belum sadar ini. Aku melihat ke sekeliling arah. Sepertinya aku sedang berada di sebuah kamar hotel. Tapi sepertinya bukan di kamar hotelku karena aku tak mengenalinya. Kemudian seorang lelaki menghampiriku.

Aku mengenalinya. Ia yang tadi siang melihatku dengan sorot penuh makna. Kalau tak salah aku bertemu dengannya semalam di Hard Rock Cafe saat aku sedang mabuk-mabukan. Tunggu sebentar. Mabuk-mabukan? Aku?

“Hey, are you alright?”

“Yeah, sort of. I’m just a litlle bit dizzy.”

“Here. A cup of espresso always help me after a drunken night.”

“Ugh, I’m not a big fan of coffee actually.”

Namun ku terima juga cangkir kopi itu dan menyeruputnya. Pahit. Langsung kuletakkan di meja di samping tempat tidur.

“Where’s your hotel? I’ll take you back.”

Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Otakku seperti memutarkan film flash back dari kejadian kemarin. Setelah aku kembali ke hotel, aku mendapati Ayah dan Ibu bertengkar di lorong di depan kamar. Kali ini berbeda dari biasanya. Terasa lebih sengit. Bahkan Ayah mengeluarkan kata-kata kasar seperti ‘pelacur’ dan ‘sundal’. Dari apa yang ku curi dengar, sepertinya alasan mereka bertengkar adalah karena Ibu diam-diam mengajak serta lelaki selingkuhannya ke Bali, namun ketahuan oleh Ayah. Aku mencoba melerai mereka, namun Ibu malah mendorongku dan menyuruhku pergi. Sakit hati dengan perlakuannya membuatku benar-benar pergi. Aku berlari keluar hotel dan menyetop taksi. Tempat yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah Pantai Kuta, jadi kusuruh sopir untuk mengantarkanku ke Pantai Kuta. Namun saat taksi melewati Hard Rock Cafe, aku langsung meminta untuk diturunkan disitu saja.

Aku masuk dengan mudah. KTP-ku dituakan 1 tahun untuk mempermudah proses pembuatan SIM, karena saat aku berumur 16 aku sudah bisa menyetir mobil, seperti suruhan Ayah. Aku masuk dan langsung memilih untuk duduk di kursi bar. Entah pikiran gila mana yang melintasi otakku, aku langsung memesan bir kepada pelayan yang sedang mengelap gelas di depanku. Begitu datang aku langsung meneguknya. Rasanya seperti jamu, pahit dan tidak enak. Tapi seiring tegukan kedua rasa penat di kepalaku mulai berkurang, dan aku memaksakan diri meminumnya sampai habis. Air mata menetes dari sudut mataku, sebagai akumulasi dari stress pertengkaran Ayah dan Ibu, sakit hati atas perlakuan Ibu, dan rasa pahit dari bir ini. Kepalaku pusing, namun aku memaksakan diri memesan segelas bir lagi.

Dan suara itu menahanku menenggak gelas kedua. Lelaki itu. Lelaki yang sama yang berada di hadapanku sekarang. Aku tak ingat apa yang ia katakan kepadaku, begitu pula dengan apa yang kukatakan kepadanya. Kurasa setelahnya aku pingsan, karena aku tak bisa mengingat apapun. Mungkin ia yang membawaku kesini. Tunggu dulu, jangan-jangan dia berbuat yang macam-macam kepadaku.

“Did you do something to me?”

“Of course not! I’m not that kind of guy.”

“Oh, sorry.. Um what’s your name?”

“Mark.”

“I’m sorry Mark, it’s not like me to judge someone right away.. Where am I?”

“You’re in my sister’s room. You passed out last night and I didn’t know where your hotel was so I took you here.”

“Thank you, you’re so nice.”

“Don’t mention it. So, where’s your hotel?”

“Uhm, I’m not in the mood to go back right now..”

“Why? What happened? It’s okay, you can tell me.”

Tatapan matanya benar-benar menghipnotisku sehingga tanpa sadar aku menceritakan semua kepadanya. Ia yang tadinya berjongkok di depanku berpindah posisi dengan duduk di sampingku, kemudian ia mengenggam tanganku.

“I see. If I were you I wouldn’t want to come back too.”

Tentu saja. Aku sudah muak bertemu dengan keluarga palsuku. Aku hanya ingin kabur sejenak dari kebohongan ini. Tiba-tiba aku mendapat ide.

“Mark, can I stay here?”

“Huh?”

“Is there any room available in this hotel?”

Suara wanita yang tadi kudengar menjawab pertanyaanku.

“No you can’t. The rooms all are booked. It’s peak season you know?”

Sebelum hatiku bertanya-tanya siapa wanita itu, Mark sudah menjawab.

“It’s my sister there. She’s Mandy.”

“Oh, hi Mandy.”

Mandy tersenyum sambil menggendong seorang bayi yang sedang berceloteh diam. Aku pun memikirkan strategi selanjutnya agar aku tak perlu kembali.

“Hey, can I stay in this room? Just for a couple of days. I’ll ask for extra bed, so I won’t disturb you. I’ll pay the extra fee too. Please, help me.”

Mark beranjak dari tempat tidur. Ia menghampiri Mandy dan menjelaskan keadaanku dengan suara pelan. Mereka sedikit berargumen sebelum akhirnya Mandy menyerah dan mengiyakan permintaanku.

“Alright, but you have to help me babysit Tony, young lady. What’s your name again?”

“Delia.”

Aku menjawab bersamaan dengan Mark. Aku terkejut. Bagaimana dia bisa tau namaku padahal aku belum menyebutkannya sama sekali? Kemudian Mark menjelaskan.

“From the guy who called you yesterday..”

Teringat dengan ekspresi kecewanya, aku refleks menjawab.

“That’s my brother.”

“Really?”

Sebuah senyum mendadak menghiasi bibirnya. Saat itu aku menyadari, bahwa Mark sangat tampan. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya dan wajahku memerah. Aku mencoba menyembunyikannya dengan menundukkan wajahku.

“Yeah..”

Kemudian Mandy berbicara.

“Hey, you better get ready. I’m going for a tour today and I don’t wanna be late. Go take a shower or I’ll leave you.”

Mark pun berjalan keluar sambil menggerutu. Aku diam saja di tempat tidur, membayangkan apa yang akan aku lakukan seharian selama mereka pergi.

“You too, Delia. Be quick, or I’ll leave you too.”

“Me?”

“Yeah, of course. Do you think we’ll leave you here? Come on, the tour guide will be here soon.”

“Thank you, Mandy!”

Aku memamerkan senyum terlebarku kepadanya dan bergegas ke kamar mandi. Mungkin liburanku yang sebenarnya baru akan dimulai.

Lavender Rose -- Chapter Eight -- Mark

Taksi memelan ketika kami tiba di lobi hotel. Aku berteriak kepada bellboy untuk membawakan surfboard-ku ke kamar sementara aku memapah Delia. Dengan satu tangan, aku mengeluarkan dompetku dan memberikan uang rupiah berwarna biru kepada bellboy itu untuk dibayarkan kepada taksi. Aku sendiri langsung melangkah menuju lift.

Selama menunggu lift, Delia selalu mengigau dalam Bahasa Indonesia, yang tentu saja tak dapat ku mengerti. Sial, sepertinya aku akan mengambil kelas Bahasa Indonesia. Aku tak mau bahasa menghalangi komunikasi antara aku dengan Delia. Kemudian pintu lift terbuka dan kami langsung menuju ke kamarku.

Aku menyuruh bellboy meletakkan surfboard di kamarku sementara aku membawa Delia ke kamar Mandy. Aku menekan bel dan Mandy pun keluar membukakan pintu. Aku masuk ke kamarnya dan menidurkan Delia di kasur.

“Whoa, you didn’t tell me thet it’s a local girl.”

“I was kinda panic back there.”

“I don’t remember that you have an Indonesian friend.”

“You’re right. I don’t have one.”

“Mark! Don’t tell me you just met her.”

“A couple hours is quite long enough.”

“Mark, she’s a stranger!”

“But I love her!”

“What? Love? What kind of love? Love at first sight?”

Mandy memutar bola matanya. Aku terdiam dan hanya mengangguk.

“Mark!”

“What should I say, Mandy? That’s what happened. I don’t want it to happen, but it happened. I couldn’t control it. It is what it is.”

“You’re insane!”

“Yep. I don’t deny it.”

“I don’t believe it.”

“Please take care of her, Mandy. Please. Just one night, okay? I’ll figure it out the rest. Okay?”

“Alright. Just one night, promise me.”

“I promise.”

“Good. Now get off, I’m gonna put Tony in Bed.”

Aku tahu meskipun Mandy kesal, dia tak akan bisa menolak permintaanku. Hanya aku yang ia punya, sebelum ia menikah tentunya. Dan hanya ia yang aku punya. Orangtua kami meninggal karena kecelakaan mobil ketika aku berumur 10 tahun dan Mandy 17 tahun. Kami kemudian dirawat oleh Grandpa sampai beliau meninggal 5 tahun kemudian karena serangan jantung. Mandy lah yang kemudian merawatku sampai aku dewasa. Dulu saat ia bilang ia akan menikah, aku marah. Mungkin sebenarnya aku hanya tak mau kehilangan Mandy. Tapi hingga sekarang Mandy selalu memberikanku bantuan saat aku memintanya. Dia sudah seperti ibu bagiku.

Aku mengajak Abraham ke kamarku, namun ia menghampiri Mandy berciuman selamat malam. Aku mengamati Delia terakhir kalinya untuk hari ini dan berharap ini bukan terakhir kali untuk selamanya. Aku menghela nafasku dan menyuruh Abraham untuk bergegas.

Di kamarku, aku tak bisa memejamkan mata. Aku memikirkan bagaimana reaksi Delia ketika ia sadar. Aku takut ia tersinggung karena aku membawanya ke tempat asing. Tapi kalau aku tidak membawanya kesini, kemana lagi ia harus ku bawa? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Semoga ia mengerti dengan penjelasanku.

Dan malam ini ku lewatkan dengan pikiran tentang Delia.

Lavender Rose -- Chapter Seven -- Mark

“Here you go.”

Aku langsung berlalu tanpa mengucapkan apapun setelah penjaga Hardrock Cafe mengembalikan tanda pengenalku. Di belakangku, Chris menyusul. Suasana Hardrock Cafe sepi, wajar karena sekarang masih jam 7 malam waktu setempat. Cafe ini baru akan ramai pukul 9 ke atas, dan tentunya oleh turis-turis asing sepertiku. Aku langsung memesan bir kepada pelayan, begitu juga Chris. Sambil menikmati bir kami mengobrol. Kami saling bertanya kesibukan kami masing-masing. Ternyata Chris sedang belajar mematung dengan seorang seniman lokal bernama Putu Dewi Puspita. Aku menebak bahwa itu bukan hanya pelajaran mematung saja mengingat masa lalu Chris sebagai heartbreaker.

Kami sudah mengobrol selama satu jam ketika ruangan cafe ini sudah terisi beberapa pengunjung. Aku melihat kesekitar. Ada sepasang gay dipojok, seorang lelaki berwajah latin yang terlihat sedang menunggu seseorang dan seorang gadis lokal yang duduk tidak jauh dari kami. Aku terkejut, karena gadis itu adalah Delia.

Ia terlihat kacau. Kepalanya menunduk. Ia baru mendongak ketika seorang pelayan datang membawakannya segelas bir. Ia meneguk bir itu sekali. Terlihat dari ekpresi wajahnya bahwa ia tidak terbiasa, atau bahkan belum pernah sebelumnya meminum bir. Ia lalu memaksakan diri untuk menenggak habis birnya. Dalam ekspresi pahitnya ia menutup mata. Dan air matanya bergulir. Setelah birnya habis, ia membuka matanya. Ia belum puas, padahal ia sudah terlihat mabuk. Ia lalu memesan satu gelas bir lagi kepada pelayan di depannya.

“One more.”

Aku permisi meninggalkan Chris yang terbengong-bengong melihatku meninggalkannya ditengah-tengah percakapan. Aku harus menghentikannya. Ia tidak bisa minum sebanyak itu.

“Excuse me miss. I think you can’t handle it.”

“Who are you?”

Ia terlihat bingung. Tapi kemudian muncul ekspresi mengenali.

“Ah.. the guy from the beach. I remember you. I remember your eyes.”

“Yeah that’s me. You look drunk, and I don’t wanna let you drive by yourself.”

“I don’t drive.”

“How did you get here? Taxi?”

“Yeah.”

“Well, I’ll accompany you then. It’s not safe for a drunk girl alone in a taxi.”

“Oh.. okay then. If you don’t mind.”

“So where do you stay? At a hotel? What’s the name?”

“Uh, I don’t know.. You can take me anywhere.. Anywhere..”

Kemudian ia pingsan. Untung aku menangkapnya. Sekarang aku bingung harus berbuat apa. Kalau aku tidak dididik menjadi gentleman oleh Kakekku, aku mungkin sudah melakukan yang aneh-aneh terhadapnya. Tapi tidak. Aku akan mencarikannya tempat untuk beristirahat. Mungkin setelah ia sadar, aku akan mengantarnya kembali ke hotelnya. Dan mungkin, aku punya kesempatan untuk bisa mengenalnya lebih dekat. Jadi aku menelpon Mandy.

“It’s peak season, Mark. They don’t have rooms anymore. It’s all booked.”

“But I can’t just leave her here, Mandy. She means a lot.”

“Why don’t you bring her to your room? Your room is big enough.”

“I’m afraid she’ll get mad when she’s awake.”

“Okay, fine. She can stay in my room. Abe will sleep in yours tonight, got it?”

“Gosh, thank’s! I love you so much!”

Dibantu oleh Chris, aku memapahnya ke luar cafe. Chris menyetop taksi dan aku mendudukkan Delia dengan hati-hati di dalam taksi. Aku berterimakasih pada Chris dan meminta maaf karena tidak bisa mengobrol lebih lama. Tak lama, taksi pun berjalan menuju hotelku. Selama perjalanan, aku memperhatikan wajah Delia dan bertanya dalam hati,

“I’m not that kind of superstitious guy, but is it a fate that we meet again?”

Lavender Rose -- Chapter Six -- Mark

Dering handphone-ku mulai mengganggu.

Aku memaksakan mataku untuk terbuka dan membaca nama yang tertera di layar handphone-ku. Amanda Houston. Aku mengumpat kesal dan mengangkatnya.

“Yeah, Mandy?”

“Wake up, sleepyhead. It’s already 10. We’re going to visit someplace called Trunyan, and if you don’t hurry we’ll leave you.”

“Just leave me. I still have the jetlag. Besides, I’m not in the mood to have cultural tour right now. I’m gonna meet a friend on Kuta so just leave me, I’m okay.”

“Fine. We’re going straight now. Bye, take care.”

Aku langsung menonaktifkan handphone-ku dan melanjutkan tidur. Jam 2 siang aku baru terbangun. Aku teringat bahwa aku akan bertemu temanku Chris di kuta. Aku mengaktifkan handphone dan menelponnya. Beruntung, ternyata dia sedang berada di sekitar Kuta. Aku segera mencuci muka dan menyikat gigi. Tak lupa aku membawa papan surf-ku karena siapa tahu ombak sedang asyik-asyiknya. Aku menelpon hotel untuk memesan taksi, kemudian aku berangkat.

Sampai disana aku lupa dimana tempat yang Chris sebutkan, jadi aku hanya turun di pinggir jalan dan langsung menuju pantai.

Pantai itu cukup ramai ternyata. Banyak juga turis-turis yang berkeliaran, jadi tidak terasa bahwa aku sedang berada di Asia. Aku melangkahkan kaki mendekati pantai, papan surf-ku aku letakkan diatas pasir bersama tas backpack-ku, dan mulai melihat ke sekitar.

Tiba-tiba perhatianku terpusat pada seorang gadis lokal yang sedang berjalan sendirian di tepi pantai. Ia berjalan menunduk, semakin mendekatiku. Kemudian dia mengangkat kepalanya, dan langsung melihat kepadaku. Tepat di mataku.

Matanya menyorotkan kesedihan. Ia seperti meminta tolong kepadaku agar diselamatkan. Ya Tuhan, aku tak bisa mengalihkan pandanganku. Aku ingin berlari dan memeluknya, namun aku takut ia akan marah. Aku ingin melakukan apapun untuknya, untuk menghapus sorot kesedihan itu dari matanya. Tapi namanya pun aku tidak tahu. Aku hanya bisa berdiri diam sambil menatapnya, berharap ia tahu bahwa aku akan menjual nyawaku demi kebahagiaan.

Kalau cinta pada pandangan pertama memang ada, maka aku sedang mengalaminya. Yeah.

Aku berharap aku punya keberanian untuk menghampirinya. Aku ingin sekedar berkenalan dengannya. Ia terlihat berpendidikan, mungkin ia bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Ku harap. Aku mengumpulkan sisa harga diriku dan ketika aku sudah hampir melangkahkan kakiku mendekatinya, seorang lelaki berteriak dan memunculkan ekspresi kesal di wajah Asianya. Aku mendengar sekilas apa yang lelaki itu teriakan, terdengar seperti Delia. Itukah namanya? Nama yang unik, tapi aku menyukainya.

Delia menghampiri lelaki itu. Akupun kecewa. Mungkin lelaki itu kekasihnya. Atau bukan. Ekspresinya juga menunjukkan bahwa ia pun sama kecewanya denganku. Kemudian ia bergegas berlari menuju lelaki pengganggu itu. Disela langkah kakinya, ia menyempatkan diri untuk sekali lagi menengok ke arahku. Aku menyebutkan namanya tanpa suara. Delia. Ia terlihat terkejut, tapi kemudian tersenyum kecil dan melanjutkan langkah kakinya. Akhirnya ia tidak terlihat lagi.

Hatiku terasa kosong memikirkan kecilnya kemungkinan bahwa aku akan bisa melihatnya lagi. Mungkinkah?

Lavender Rose -- Chapter Five -- Mark

Aku melihat ke jendela luar pesawat dengan tidak sabar.

“Chill out, Mark. It’s gonna land in a few minutes.”

“I know, Mandy. I just can’t wait any longer.”

“Just sit back and relax. Or help me with this annoying seat belt so I can hold Tony.”

Aku memutar bola mataku kemudian membenahi seat belt Mandy yang terbelit. Mungkin aku memang memang sedang kesal karena tak kunjung tiba di Bali sehingga aku tak bisa membenahi seat belt itu. Segera kupanggil stewardess untuk mengurus seat belt sialan itu. Mandy mengangkat alisnya sebelah.

“I told you to chill out, Mark. It’s only a few minutes.”

“Fine!”

Aku terpaksa duduk manis untuk beberapa saat. Namun aku tak bisa menahan kebahagiaanku saat akhirnya pesawat mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai.

“We’re landing! Woohoo!”

Tony tertawa melihat tingkah kekanak-kanakanku. Sepertinya dia juga merasa bersemangat dengan liburan kali ini. Aku tersenyum lebar padanya. Kemudian terdengar suara interkom yang menandakan bahwa kami sudah boleh melepaskan seat belt dan dengan tertib turun dari pesawat. Aku membantu Mandy membawakan tas Tony sementara Abe-panggilanku untuk Abraham, membawakan tas Mandy. Kami bersama-sama turun dari pesawat dan setelah melalui proses birokrasi yang cukup panjang akhirnya kami bisa keluar.

Pemandu kami sudah menunggu. Pak Wayan namanya. Ia seseorang yang ramah dan lancar berbahasa Inggris sehingga aku tak mengalami kesulitan berkomunikasi dengannya. Menggunakan mobil sewaan, kami diantar Pak Wayan menuju hotel bintang lima yang sudah kami reservasi sebelumnya. Aku bukan orang yang senang dengan kemewahan, tapi Mandy tidak mau liburan tanpa fasilitas yang memadai. Aku tak bisa menolak karena, hei, dia yang membayar semuanya. Teknisnya sih, suaminya.

Karena kami sampai malam hari, kami langsung beristirahat di kamar masing-masing. Mandy sekeluarga tidur dalam satu kamar besar sedangkan aku tidur di kamar yang sedikit lebih kecil di sebelah kamar Mandy. Namun tetap saja kamar itu terlalu mewah untukku.

Malam ini aku akan beristirahat, karena besok kami akan menjelajahi Bali. Yeah!

Lavender Rose -- Chapter Four -- Mark

I’m definitely gonna be late for work, pikirku. Aku berlari kencang menuju stasiun subway terdekat dari flat kecilku. Saat ini pukul 7.45 pagi dan jam kantor dimulai pukul 8.00 tepat. Aku tidak suka terlambat untuk menghadiri apapun. Bagiku, itu sama saja dengan melanggar kesepakatan. Cowok macam apa yang suka melanggar kesepakatan? Pastinya bukan aku.

Setelah membeli karcis dan masuk ke peron, aku bergegas masuk ke kereta. Perjalanan dari Rhode Island Avenue sampai di kawasan White House memang hanya memakan waktu 10 menit. Namun keluar dari subway aku harus berlari ke Wachovia Bank, tempatku bekerja, yang berjarak 2 blok dari subway tempatku berhenti. Aku hanya bisa berharap semoga 5 menit cukup untuk sampai ke Wachovia.

Dan harapanku terkabul, aku sampai di Wachovia pukul 7.58 dan langsung memasukkan kartu absensiku. Rekan sekantorku, Eric, langsung menyapaku yang masih berkeringat.

“What’s with the sweat? Woke up late on your last day of work?”

“Yeah, I’m getting too excited about the vacation. I was still polishing my surfboard when I realized that I still had to go to work today.”

“Man, you’re really into it.”

“Of course! Bali’s not just some place.”

“When exactly will you go by the way?”

“The day after tomorrow. I have to visit my sister in NYC first and then we’ll go together along with her husband and son.”

“Whoa sounds like a family trip.”

“Well, I don’t give a shit. I’ve been dreaming to visit Bali ever since my first surf with my board so I’m not missing any chance.”

“Childhood dream, eh? Hey, I gotta get going. The Boss need me back there so good luck with your trip and have fun. Don’t forget to get me some hot Balinese babe, OK? Hahaha.. Catch you later.”

“Haha.. Yeah.. Catch you later, bro.”

Obrolan bersama Eric mengingatkanku tentang liburan ke Bali yang sudah kurencanakan sejak 2 tahun yang lalu. Aku menyisihkan gajiku setiap bulan untuk mewujudkannya. Dengan sedikit bantuan Mandy, kakak perempuanku, aku akhirnya benar-benar akan pergi ke Bali. Tentu saja aku tak menolak saat Mandy berkata bahwa Abraham, suaminya, dan Tony anaknya yang masih bayi akan ikut. Lagipula sepertinya akan lebih menyenangkan pergi berlibur bersama keluarga daripada sendirian.

Hari benar-benar tidak membosankan. Sebagai akuntan, aku merasa muak harus berkutat dengan angka-angka setiap harinya. Namun walaupun hari ini pekerjaanku lebih berat dari biasanya, aku tetap bersemangat karena saat rekan-rekanku bertemu denganku, mereka selalu menanyakan tentang liburan Bali-ku, dan aku dengan senang hati selalu menjawabnya. Hal itu membuat semangatku membuncah sehingga aku tak terlalu pusing saat berhadapan dengan angka-angka.

Jam 17.00 aku akhirnya melangkah keluar Wachovia diiringi kata-kata “selamat berlibur” dan “kutunggu oleh-olehnya”. Aku menyetop taksi dan menyebutkan dengan mantap, “Washington Dulles International Airport”. Aku mengambil penerbangan sore menuju New York. Disana, Mandy, Abraham dan Tony sudah menungguku bersama koper-koper yang sudah kutitipkan pada mereka sehari sebelumnya. Ah, aku benar-benar tak sabar.

I’m one step closer to Bali!

Lavender Rose -- Chapter Three -- Delia

“Delia, Ayah harus memberitahumu tentang sesuatu. Coba kamu duduk dulu.”

Aku duduk di sofa yang Ayah tunjuk. Dalam pikiranku muncul pertanyaan-pertanyaan, hal apa yang kira-kira akan ia beritahukan? Perceraiankah? Atau masih ada yang lebih buruk lagi? Hal apa yang lebih buruk dari perceraian?

“Sebelumnya Ayah ingin tahu, Delia kapan mulai libur akhir tahun?”

“Kira-kira minggu depan, Yah.”

“Kalau begitu, Delia sebaiknya bersiap-siap.”

“Bersiap-siap untuk apa?”

“Kita akan pergi berlibur ke Bali selama seminggu.”

“Kita? Maksud Ayah, kita semua?”

“Tentu saja, Delia. Ayah tidak mau ada yang tidak ikut dalam liburan kali ini.”

“Mengapa tiba-tiba?”

Ayah termenung sejenak. Kemudian beliau menjelaskan maksudnya.

“Kau tentu tahu Delia, Ayah dan Ibu tak pernah akur sejak dulu. Minggu lalu kami berdebat dan memutuskan untuk bercerai. Namun keluarga besar meminta kami berdua memberikan kesempatan bagi satu sama lain. Pengacara Ayah mengusulkan agar kami pergi berlibur untuk mendapatkan suasana baru. Tapi tentu kami tak mau hanya pergi berdua. Masa kami meninggalkan kalian sendiri di rumah sementara kami bersenang-senang?”

Kak Anita mendengus. Wajar saja kalau ia menganggap perkataan Ayah lucu. Alasan Ayah mengajak kami pastinya bukan karena kasihan, tetapi karena Ayah akan merasa awkward untuk pergi berdua saja bersama Ibu. Aku juga ingin tertawa, namun tak berani menyinggung Ayah dan Ibu. Sementara itu Ibu dan Kak Mario diam saja.

“Oke. Kapan kita berangkat?”

“Kita berangkat minggu depan.”

Lavender Rose -- Chapter Two -- Delia

Sekolahku tak bisa dibilang sekolah favorit. Aku hanya bersekolah di SMA negeri biasa yang tidak terlalu terkenal. Ayahku dulu sempat ingin memasukkanku ke sekolah swasta mahal, tapi aku lebih memilih bergaul dengan anak-anak sederhana daripada anak-anak sok kaya yang suka membangga-banggakan harta orangtuanya. Kak Anita sempat mengejekku lantaran aku memilih untuk mendaftar di SMA Negeri 300.

“Sekolah apaan tuh? Gue kok nggak pernah denger ya? Del, lo kalo mau daftar ke negeri ya daftar ke sekolah yang bermutu dong. SMA 8 kek, SMA 70 kek, SMA 28 kek.”

“Masuk sana ‘kan susah, Kak. NEM gue belum cukup.”

“Kasih aja amplop! Apa gunanya coba punya bokap tajir?”

Saat itu aku hanya geleng-geleng kepala. Beruntung sejak kecil aku diasuh oleh Bik Yayah yang selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan yang sekarang aku jalani. Bik Yayah lebih kuanggap seperti orangtuaku sendiri sejak orangtuaku tak pernah menjalankan perannya dengan benar. Kalau tidak ada Bik Yayah, bisa-bisa aku hancur seperti Kak Anita.

Aku menaiki angkot yang sudah aku tunggu daritadi. Dalam perjalanan, aku memikirkan hal-hal yang harus aku lakukan hari ini. Semua PR sudah aku kerjakan. Seingatku hari ini tidak akan ada rapat ekskul atau rapat yang lainnya. Berarti hari ini aku punya waktu kosong, pikirku. Mungkin sebaiknya aku mengajak Kirana, sahabatku untuk menemaniku ke toko buku. Sudah lama aku ingin pergi ke toko buku yang baru dibangun di daerah dekat tempat Kirana tinggal. Kalau aku beruntung, mungkin aku bisa menginap dirumah Kirana.

Sayangnya saat aku sampai di sekolah dan bertemu Kirana, ia bilang tak bisa menemaniku.

“Yah, Del, gue nggak bisa. Pulang sekolah gue dijemput nyokap, mau nyari baju. Maaf ya.”

Membuatku iri saja. Aku tidak suka berbelanja baju, tapi ide menghabiskan waktu bersama orangtua terdengar menyenangkan. Aku tidak pernah tahu rasanya seperti apa saat kita menghabiskan waktu dengan orangtua. Aku bahkan kaget saat melihat sikap Kirana terhadap ibunya yang terlihat nyeleneh, namun akrab, seperti sepasang sahabat. Kalau aku dan ibuku? Bertemu saja sudah beruntung.

Aku sudah membayangkan, hari ini harus aku habiskan dengan mendekam di rumah besar yang sepi itu lagi. Aku malas pergi tanpa ada yang menemani, jadi lebih baik aku menonton dvd yang dipinjamkan Kirana bulan lalu. Mungkin sedikit bermalas-malasan tidak ada salahnya.

Aku pulang naik angkot. Sebenarnya Ayah dulu pernah menyediakan mobil dan supirnya untuk mengantar jemputku kemanapun aku pergi. Namun aku tolak karena aku tidak suka harus berduaan dengan sopir dalam keadaan hening karena kikuk dan tidak ada topik pembicaraan. Lebih baik angkot karena aku bisa mencuri dengar pembicaraan orang lain. Kalau sepi-sepi saja aku malah jadi bosan.

Saat aku membuka pagar, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Kulihat di garasi, semua mobil lengkap terparkir. Ada apa ini? Mereka semua tak mungkin ada di rumah pada jam segini kan? pikirku.

Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati Ayah, Ibu, dan kakak-kakakku duduk di ruang tamu. Dadaku berdegup kencang. Aku mendapat feeling bahwa sesuatu akan berubah, entah apa itu. Suasana hening. Aku bertanya-tanya, suara siapakah yang akan memecahkannya?

“Delia, Ayah harus memberitahumu tentang sesuatu..”

Lavender Rose -- Chapter One -- Delia

Mataku terbuka lebar.

Aku mulai membenci lagu gubahan band internasional itu yang sengaja ku pasang sebagai nada dering alarm untuk membangunkanku setiap pagi. Memang lagu rock itu sangat efektif, namun aku benci dibangunkan saat aku sedang lelap-lelapnya tertidur. Mau bagaimana lagi, kebijakan pemerintah kota yang mengharuskan sekolah memulai kegiatan belajar mengajar dari jam 6.30 membuatku harus bangun lebih pagi. Aku menganggap kebijakan itu tolol. Lihat saja, jalanan di Jakarta tetap macet seperti biasa.

Sambil memaki dalam hati, aku pun beranjak ke kamar mandi. Air dingin yang memancar dari shower membangunkanku. Aku berubah pikiran tentang lagu rock itu dan memutuskan untuk tidak menggantinya. Aku kemudian tertawa. Esok pagi di jam yang sama pasti aku juga akan berpikir seperti itu; menganggap lagu itu menyebalkan kemudian berubah pikiran saat aku benar-benar terjaga.

Selesai mandi dan berpakaian, aku pun mengambil tasku dan keluar dari kamar. Aku sempat terpikir untuk sarapan sejenak, namun melihat meja makan yang kosong aku jadi mengurungkan niatku.

Meja makan itu selalu kosong.

Bukan kosong dari makanan. Aku bisa minta tolong Bik Yayah untuk memasakkan macam-macam makanan nikmat yang aku inginkan. Namun untuk apa ada makanan yang tersedia di meja makan apabila tidak ada orang yang memakannya? Keluargaku tak pernah makan di meja makan. Orangtuaku tak pernah ada di rumah. Kakak-kakakku hanya menganggap rumah sebagai tempat beristirahat. Aku merasa hanya aku yang menganggap rumah ini sebagai tempat tinggalku.

Ayahku adalah seorang businessman. Beliau memiliki 2 perusahaan yang masing-masing bergerak di bidang telekomunikasi, dan transportasi. Dalam bidang telekomunikasi, perusahaannya menyediakan tower untuk provider telepon selular . Dalam bidang transportasi, Ayahku memiliki sebuah perusahaan taksi. Waktunya selalu dihabiskan untuk mengurus perusahaannya. Secara materil, Ayahku bisa memberikan semua yang beliau kira aku inginkan. Namun sayang, materi sudah tidak menarik lagi bagiku.

Ibuku adalah seorang fashion designer yang selingkuh dengan salah seorang modelnya. Hal itu memang bukan rahasia lagi, apalagi di lingkungan rumahku. Sejak aku SMP beliau selalu membawa lelaki itu ke rumah. Kukira mereka hanya membicarakan soal pekerjaan, namun sekali ku lihat mereka berpagutan mesra di ruang tamu tanpa peduli ada aku yang melihat. Aku tak mengadukannya kepada Ayah, tapi esok harinya aku mendengar Ayah dan Ibu bertengkar rebut. Sejak saat itu si model laki-laki jadi jarang terlihat di rumahku, begitu juga Ibuku.

Kakakku yang pertama hamil diluar nikah. Beruntung dulu aku berhasil meyakinkannya untuk tidak aborsi. Namun ia tetap menolak membesarkan anaknya dan akhirnya menyerahkan anak itu kepada sepasang suami istri yang tak kunjung di karuniai anak. Kak Anita, begitu nama kakakku, seperti tidak merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan. Bahkan ia tidak merubah pribadinya, ia tetap rajin berganti pacar setiap minggu dan aku tak tahu berapa banyak yang sudah tidur bersamanya.

Sekilas kakakku yang kedua, Kak Mario, memang terlihat seperti laki-laki biasa. Mungkin ada kesan bahwa ia adalah seorang kutubuku akibat kacamata yang dipakainya. Ia adalah seseorang yang sangat cuek terhadap segalanya. Kupikir ia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh, namun ternyata aku salah. Aku pernah melihat sebuah kantong besar berisi pil-pil beraneka warna dan bentuk di dalam tasnya. Setelah itu aku mulai memperhatikan Kak Mario. Akhir-akhir ini ia semakin kurus dan wajahnya semakin tirus. Jangan salahkan aku kalau aku berpikir bahwa pil-pil itu adalah narkoba.

Lavender Rose -- Prologue -- Delia

Akhirnya aku tiba di Bali, menikmati sisa-sisa liburan yang sama sekali tidak terasa seperti liburan. Aku bersama kakak-kakakku dibebaskan oleh Ayah dan Ibu untuk pergi ke tempat wisata yang masing-masing kami inginkan. Aku sangat ingin pergi ke Pantai Kuta. Kata orang, ke Bali tanpa mengunjungi Pantai Kuta belumlah lengkap. Bermodal motor sewaan, aku ditemani seorang kakak laki-lakiku, Mario, akhirnya menyusuri jalan ke pantai tersebut. Kami sempat tersasar beberapa kali, namun petunjuk dari penduduk lokal bisa mengantar kami sampai ke Pantai Kuta.

Sesampainya di sana, kami berpisah. Kak Mario sudah berjanji akan bertemu dengan teman semasa kuliahnya di sebuah kafe di sekitar Pantai Kuta, jadi aku akan sendirian bermain di pantai. Hari itu panas, namun aku tak peduli, aku tetap saja berjalan menyusuri pantai sambil menikmati dinginnya ombak seiring kakiku melangkah. Angin berhembus agak kencang sehingga aku harus berpaling agar mataku tidak perih.

Tiba-tiba aku melihatnya. Seorang lelaki kaukasia berambut pirang yang menawan hatiku. Dia pun juga melihatku, langsung di manik mata. Aku bukan orang yang percaya reinkarnasi, namun aku mendapat kesan bahwa kami sudah saling mengenal, jauh sebelum kami bertatapan hari ini, jauh sebelum aku dilahirkan, bahkan jauh sebelum orang-orang mengenal Pantai Kuta. Ya Tuhan, pikirku. Aku tak bisa memalingkan pandanganku. Seperti ada suatu magnet yang menarik mata kami agar kami tidak melepaskan pandangan.

Aku tak tahu berapa lama kami saling memandang, namun setiap detik yang terlewat terasa seperti setahun. Kakiku sudah mulai kram, tapi aku tidak peduli. Orang-orang yang lalu lalang mulai menatap kami dengan aneh karena kami hanya berdiri kaku. Tapi mereka pun kami hiraukan. Saat itu, seperti hanya aku dan dia yang berada di pantai. Matanya seperti mencoba untuk menceritakan segalanya; tentang dia, tentang apa yang ia rasakan terhadapku, dan tentang apa yang sangat ia ingin lakukan. Aku berusaha menjawab melalui sorot mataku, kuharap ia mengerti.

Kemudian terdengar suara seseorang memanggilku. “Delia!” seru Kak Mario. Detik itu aku sangat membenci Kak Mario. Apalagi setelah ia menyuruhku untuk pulang. Aku hendak membalikkan badanku untuk menjawab panggilan Kak Mario, tapi hatiku tak rela untuk memutuskan koneksi yang terjadi antara aku dan lelaki kaukasia itu. Suara Kak Mario semakin mengeras, tanda bahwa ia sudah tak sabar. Dengan berat hati akhirnya aku berlari kecil menghampiri Kak Mario. Dan untuk terakhir kalinya, aku menoleh ke arah si lelaki. Hatiku seperti tertoreh dalam melihat ekspresi kecewanya, namun sakit itu kemudian hilang ketika aku menangkap gerak bibirnya menyebut namaku.

Hari itu adalah hari terindah dalam hidupku.