Sabtu, 03 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Thirteen -- Mark

Segalanya telah aku persiapkan untuk malam ini. Aku sudah memilih sebuah restoran romantis. Letaknya di sekitar Denpasar. Mungkin akan memakan waktu lama untuk sampai di sana. Karena itu aku sudah menyewa mobil untuk malam ini. Aku sudah meminjam jas milik Abe. Hanya satu hal yang belum aku lakukan. Mengajak Delia makan malam.

Sore ini kami akan menonton pertunjukan tari berjudul Ramayana. Delia memberitahu kami bahwa tarian Ramayana berasal dari India. Tarian ini menceritakan tentang usaha Rama dalam menyelamatkan istrinya Sinta dari Rahwana. Aku bukan penikmat tarian, namun aku menyukai ceritanya.

Ditengah-tengah pertunjukan, aku menggenggam tangan Delia. Ia menoleh.

“Delia.”

“Yes?”

“I, um, wanna ask you something.”

Dia hanya diam namun menunjukkan ekspresi bertanya.

“Um, would you.. Would you like to have dinner with me tonight?”

“Tonight? With Abe, Mandy and Tony?”

“No. No, no, no. I mean just the two of us, you know. If you don’t mind.”

“That would be nice. I’d love to have dinner with you.” Ia tersenyum, lalu tertunduk malu.

Dan kami tak berbicara lagi sampai pertunjukan berakhir. Namun perasaan kami mengalir melalui genggaman tangan yang tak terlepas.

Kami pun akhirnya kembali ke hotel. Aku berbisik kepada Mandy untuk meminjamkan gaun formalnya kepada Delia. Mandy hanya bisa melotot tak setuju karena Delia masih berada di sekitar kami. Kemudian aku menawarkan untuk menjaga Tony suatu saat apabila Mandy dan Abe ingin berkencan. Ia memandangku tajam dan akhirnya setuju. Aku pun langsung menghampiri Delia.

“Hey, I’ll wait at the lobby at 8, okay?”

“Oh, okay.”

Kemudian aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. Jam 8 kurang 10 menit aku sudah berada di lobby dengan memakai jas Abe. Berulang kali aku berkaca hingga seorang doorman bertanya.

“Big night, sir?”

“Nah, just a dinner date. But I want it to be perfect.”

“Well, then good luck, sir.”

Tiba-tiba aku melihat seorang wanita cantik yang sedang memandangku lewat pantulan cermin.

“I thought I was too early.”

Sial, makiku dalam hati. Aku berhutang kepada Mandy banyak malam untuk menjaga Tony. Karena saat ini Delia sedang berdiri di depanku memakai gaun hitam dan sepatu hak tinggi. Dan ia terlihat semakin cantik karena Mandy mendandaninya.

“Do I look weird? I’m not used to this kind of outfit. And the make up too.”

“No, you’re too beautiful that I’m speechless.”

“Come on, you’re exaggerating.” Dia menunduk malu. Dia selalu menunduk ketika malu.

“Shall we?” Aku menyodorkan lenganku dan ia pun menyelipkan tangannya.

Dan seperti seorang gentleman aku pun membukakan pintu mobil untuknya.

Dalam setengah jam kami sampai di restoran. Aku memilih tempat di luar yang menghadap ke pemandangan kota di malam hari. Kemudian saat memesan makanan aku meminta Delia untuk memilihkan untukku.

“I want Indonesian food.”

“Do you like spicy food?”

“So much."

“Maybe Ayam Bakar Bumbu Bali? Balinese Spicy Grilled Chicken?”

“Let’s give it a shot.”

Delia juga memesan Ayam Bakar Bumbu Bali sepertiku. Ia menyebutkan pesanannya dalam Bahasa Indonesia kepada pelayan.

“What do you wanna drink?”

“I don’t know. I’m not feeling like to drink any kind of liquor right now.”

“Oh, I’m not gonna drink any of them anymore. I’m done with it. I’m ordering tea, do you want it too?”

“No, just coffee. Black coffee.”

Setelah pelayan mencatat pesanan kami, ia pun pergi. Aku teringat buket bunga mawar lavender yang tertinggal di kursi belakang mobil. Aku izin sebentar ke kamar mandi, padahal aku mengambil buket bunga itu. Layaknya film romantis tahun 80an, aku menyembunyikan buket bunga itu di belakang pundakku. Kemudian aku menghampiri Delia dan menyerahkan buket bunga itu kepadanya.

“Oh, Mark. This is very sweet. Thank you.”

“My pleasure.”

“Is it just me, or these are purple?”

“Actually it’s lavender.”

“Lavender roses? It must be really rare.”

“It’s a coincidence that the florist have some of them.”

Delia mengambil setangkai dari buketnya dan menghirup harumnya.

“It smells nice, can you smell it?”

Aku mengambil setangkai mawar lavender itu dan menghirupnya.

“Yes it smells really nice.”

Kemudian aku menyelipkan mawar lavender itu di telinganya. Delia tertawa.

“This is so corny.”

“But you look good with it.”

“Thank you.”

Tak lama pesanan kami datang dan kami pun makan. Aku sangat menyukai makanannya, tapi Delia kurang menyukainya. Ia bilang pelayannya di rumah bisa memasak lebih enak dari ini. Satu fakta lagi ku ketahui dari dirinya. Ia punya seoarang pelayan.

Musik mengalun pelan dari sebuah band yang bermain tak jauh dari kami. Banyak juga pasangan, yang sepertinya bukan orang lokal, berdansa mengikuti irama lagu. Aku pun tak ingin tertinggal. Aku menghampiri Delia dan menyodorkan tanganku.

“Will you dance with me?”

“I can’t, Mark.”

“Come on, Delia. Just once. Please? I’ll teach you. It’s simple.”

“Fine, just once okay?”

Dan tangannya yang lembut menyambut tanganku. Tangannya yang satu lagi meraih pundakku, dan tanganku yang satu lagi menghampiri pinggangnya. Kami hanya melangkah ke kanan dan kiri perlahan.

“See? It’s easy.”

Delia hanya tersenyum lebar. Tiba-tiba sebuah tangan menarik Delia dariku.

“Delia!”

“Ayah?”

“Apa yang kamu lakukan disini? Ayo pulang!”

Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan

“Sir, what do you want from her?”

“And who are you?”

“Ayah, ini teman Delia.”

“Teman kamu? Teman macam apa yang membawamu jauh dari Ayah? You, young man. Don’t ever touch your dirty hand on my daughter again. Do you hear me? Ayo pulang Delia.”

Ternyata lelaki itu adalah Ayah Delia. Dan beliau menarik Delia pergi dariku.

“But, sir!” Aku berusaha mengejar mereka, namun dua lelaki berseragam menahanku. Delia hanya bisa menoleh sesekali sambil meminta maaf padaku di sela-sela tangisnya. Aku berusaha memberontak, namun lelaki-lelaki ini begitu kuat sehingga aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Delia! Don’t leave me! Delia!”

Aku tak menghiraukan orang lain yang menonton adegan ini. Aku terus berteriak hingga Delia tak terlihat lagi. Baru lelaki-lelaki itu melepaskanku dan pergi meninggalkan restoran ini. Aku langsung berlari keluar dan sudah tak ada apa-apa lagi disana.

Tak ada apa-apa lagi. Seperti hatiku. Sang Rahwana sudah mengambil Sintaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar