Rabu, 31 Maret 2010

Lavender Rose -- Chapter Eight -- Mark

Taksi memelan ketika kami tiba di lobi hotel. Aku berteriak kepada bellboy untuk membawakan surfboard-ku ke kamar sementara aku memapah Delia. Dengan satu tangan, aku mengeluarkan dompetku dan memberikan uang rupiah berwarna biru kepada bellboy itu untuk dibayarkan kepada taksi. Aku sendiri langsung melangkah menuju lift.

Selama menunggu lift, Delia selalu mengigau dalam Bahasa Indonesia, yang tentu saja tak dapat ku mengerti. Sial, sepertinya aku akan mengambil kelas Bahasa Indonesia. Aku tak mau bahasa menghalangi komunikasi antara aku dengan Delia. Kemudian pintu lift terbuka dan kami langsung menuju ke kamarku.

Aku menyuruh bellboy meletakkan surfboard di kamarku sementara aku membawa Delia ke kamar Mandy. Aku menekan bel dan Mandy pun keluar membukakan pintu. Aku masuk ke kamarnya dan menidurkan Delia di kasur.

“Whoa, you didn’t tell me thet it’s a local girl.”

“I was kinda panic back there.”

“I don’t remember that you have an Indonesian friend.”

“You’re right. I don’t have one.”

“Mark! Don’t tell me you just met her.”

“A couple hours is quite long enough.”

“Mark, she’s a stranger!”

“But I love her!”

“What? Love? What kind of love? Love at first sight?”

Mandy memutar bola matanya. Aku terdiam dan hanya mengangguk.

“Mark!”

“What should I say, Mandy? That’s what happened. I don’t want it to happen, but it happened. I couldn’t control it. It is what it is.”

“You’re insane!”

“Yep. I don’t deny it.”

“I don’t believe it.”

“Please take care of her, Mandy. Please. Just one night, okay? I’ll figure it out the rest. Okay?”

“Alright. Just one night, promise me.”

“I promise.”

“Good. Now get off, I’m gonna put Tony in Bed.”

Aku tahu meskipun Mandy kesal, dia tak akan bisa menolak permintaanku. Hanya aku yang ia punya, sebelum ia menikah tentunya. Dan hanya ia yang aku punya. Orangtua kami meninggal karena kecelakaan mobil ketika aku berumur 10 tahun dan Mandy 17 tahun. Kami kemudian dirawat oleh Grandpa sampai beliau meninggal 5 tahun kemudian karena serangan jantung. Mandy lah yang kemudian merawatku sampai aku dewasa. Dulu saat ia bilang ia akan menikah, aku marah. Mungkin sebenarnya aku hanya tak mau kehilangan Mandy. Tapi hingga sekarang Mandy selalu memberikanku bantuan saat aku memintanya. Dia sudah seperti ibu bagiku.

Aku mengajak Abraham ke kamarku, namun ia menghampiri Mandy berciuman selamat malam. Aku mengamati Delia terakhir kalinya untuk hari ini dan berharap ini bukan terakhir kali untuk selamanya. Aku menghela nafasku dan menyuruh Abraham untuk bergegas.

Di kamarku, aku tak bisa memejamkan mata. Aku memikirkan bagaimana reaksi Delia ketika ia sadar. Aku takut ia tersinggung karena aku membawanya ke tempat asing. Tapi kalau aku tidak membawanya kesini, kemana lagi ia harus ku bawa? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Semoga ia mengerti dengan penjelasanku.

Dan malam ini ku lewatkan dengan pikiran tentang Delia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar