Rabu, 31 Maret 2010

Lavender Rose -- Chapter Seven -- Mark

“Here you go.”

Aku langsung berlalu tanpa mengucapkan apapun setelah penjaga Hardrock Cafe mengembalikan tanda pengenalku. Di belakangku, Chris menyusul. Suasana Hardrock Cafe sepi, wajar karena sekarang masih jam 7 malam waktu setempat. Cafe ini baru akan ramai pukul 9 ke atas, dan tentunya oleh turis-turis asing sepertiku. Aku langsung memesan bir kepada pelayan, begitu juga Chris. Sambil menikmati bir kami mengobrol. Kami saling bertanya kesibukan kami masing-masing. Ternyata Chris sedang belajar mematung dengan seorang seniman lokal bernama Putu Dewi Puspita. Aku menebak bahwa itu bukan hanya pelajaran mematung saja mengingat masa lalu Chris sebagai heartbreaker.

Kami sudah mengobrol selama satu jam ketika ruangan cafe ini sudah terisi beberapa pengunjung. Aku melihat kesekitar. Ada sepasang gay dipojok, seorang lelaki berwajah latin yang terlihat sedang menunggu seseorang dan seorang gadis lokal yang duduk tidak jauh dari kami. Aku terkejut, karena gadis itu adalah Delia.

Ia terlihat kacau. Kepalanya menunduk. Ia baru mendongak ketika seorang pelayan datang membawakannya segelas bir. Ia meneguk bir itu sekali. Terlihat dari ekpresi wajahnya bahwa ia tidak terbiasa, atau bahkan belum pernah sebelumnya meminum bir. Ia lalu memaksakan diri untuk menenggak habis birnya. Dalam ekspresi pahitnya ia menutup mata. Dan air matanya bergulir. Setelah birnya habis, ia membuka matanya. Ia belum puas, padahal ia sudah terlihat mabuk. Ia lalu memesan satu gelas bir lagi kepada pelayan di depannya.

“One more.”

Aku permisi meninggalkan Chris yang terbengong-bengong melihatku meninggalkannya ditengah-tengah percakapan. Aku harus menghentikannya. Ia tidak bisa minum sebanyak itu.

“Excuse me miss. I think you can’t handle it.”

“Who are you?”

Ia terlihat bingung. Tapi kemudian muncul ekspresi mengenali.

“Ah.. the guy from the beach. I remember you. I remember your eyes.”

“Yeah that’s me. You look drunk, and I don’t wanna let you drive by yourself.”

“I don’t drive.”

“How did you get here? Taxi?”

“Yeah.”

“Well, I’ll accompany you then. It’s not safe for a drunk girl alone in a taxi.”

“Oh.. okay then. If you don’t mind.”

“So where do you stay? At a hotel? What’s the name?”

“Uh, I don’t know.. You can take me anywhere.. Anywhere..”

Kemudian ia pingsan. Untung aku menangkapnya. Sekarang aku bingung harus berbuat apa. Kalau aku tidak dididik menjadi gentleman oleh Kakekku, aku mungkin sudah melakukan yang aneh-aneh terhadapnya. Tapi tidak. Aku akan mencarikannya tempat untuk beristirahat. Mungkin setelah ia sadar, aku akan mengantarnya kembali ke hotelnya. Dan mungkin, aku punya kesempatan untuk bisa mengenalnya lebih dekat. Jadi aku menelpon Mandy.

“It’s peak season, Mark. They don’t have rooms anymore. It’s all booked.”

“But I can’t just leave her here, Mandy. She means a lot.”

“Why don’t you bring her to your room? Your room is big enough.”

“I’m afraid she’ll get mad when she’s awake.”

“Okay, fine. She can stay in my room. Abe will sleep in yours tonight, got it?”

“Gosh, thank’s! I love you so much!”

Dibantu oleh Chris, aku memapahnya ke luar cafe. Chris menyetop taksi dan aku mendudukkan Delia dengan hati-hati di dalam taksi. Aku berterimakasih pada Chris dan meminta maaf karena tidak bisa mengobrol lebih lama. Tak lama, taksi pun berjalan menuju hotelku. Selama perjalanan, aku memperhatikan wajah Delia dan bertanya dalam hati,

“I’m not that kind of superstitious guy, but is it a fate that we meet again?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar