Kamis, 16 Desember 2010

Lavender Rose -- Chapter Eighteen -- Mark

Sudah sekitar dua minggu aku bekerja di Hypercon. Pekerjaanku sama membosankannya dengan pekerjaan yang lalu di Wachovia, hanya keberadaan Delia saja yang membuatku bertahan disini. Namun sikap Delia yang acuh tak acuh kepadaku membuatku bingung dan sakit hati. Apakah ia sudah melupakan apa yang terjadi tiga tahun silam? Apakah ia sudah membuang kenangan manis yang terjadi di Bali saat itu? Saat pikiranku dipenuhi Delia, tiba-tiba telepon berdering.


"Yes, Santi?"


"Mr. Andrews, Mr. Wardhana would like to talk to you on line 2."


"Okay."


Sesaat kemudian Pak Wardhana sudah tersambung denganku.


"Good evening, Mr. Andrews. It's already 7 p.m. Why are you still working? I don't wanna be sued for overworking my employees, espescially the ones who just got in. Ha ha."


"Don't worry, sir. I won't sue you this soon, ha ha ha. I'm just finishing some details and I'll be done in 10 minutes."


"Alright, then. By the way, have you had dinner?"


"Umm, not yet, sir."


"Now, since you haven't had dinner, why don't you come to the restaurant next door? I'll treat you. Don't let an old man like me eat alone, ha ha."


"Ha ha. Alright sir, I'll be there in ten minutes."


Tak lama kemudian aku sampai di restoran tersebut. Aku berbincang-bincang mengenai masalah di kantor dengan Pak Wardhana.


"Mr. Andrews?"


"Please, call me Mark, sir."


"Alright, Mark. I forgot to tell you that Delia would be here. Ah, there she is." Pak Wardhana menunjuk ke arah di belakangku.


Dengan senyum lebar aku langsung menoleh ke belakangku. Delia tampak cantik dengan gaun malam berwarna merah, walaupun ia terlihat sedikit tidak nyaman. Kemudian datang seorang pria yang wajahnya kukenal sebagai salah seorang pegawai di Hypercon, dan merangkul Delia. Senyumku langsung menghilang.


"Oh, Tris? Mark, this is Trisno Hadisastra. He's Delia's boyfriend. Tris, this is our new accounting manager, Mark Andrews."


"Hi, how are you, Mr. Andrews?"


"Call me Mark, please. I'm good."


Delia hanya diam saja mendengar perkenalan kami. Ia juga tetap terdiam sejak kami mulai mengobrol tentang perusahaan sampai makanan datang. Kemudian ia permisi untuk pergi ke toilet. Aku melihat kesempatan untuk berbicara dengannya meskipun sebentar, karena itu aku juga ikut permisi ke toilet. Ia tak bisa menghindar saat berpapasan denganku di depan pintu toilet.


"So, a new guy?"


Delia mendesah dan berkata, "why don't you mind your own business, Mark?". Kemudian ia melangkah pergi. Tiba-tiba ia berhenti dan membalikkan badannya sambil memegang kepalanya.


"You know what, I'm sorry. It was rude."


"It's okay."


"Dad asked me to get together with him. He's getting old and he's got heart problem. I don't wanna do anything to put dad's life in danger. I couldn't disagree."


Aku hanya terdiam. Delia membalikkan badannya namun ia tak melangkah pergi.


"Mark, if only I knew that I'm gonna meet you again.." kemudian ia meninggalkanku begitu saja untuk kembali ke meja makan.


Aku menatapnya pergi. Pikiranku tak lepas dari kata-kata terakhirnya. Apa yang akan ia lakukan seandainya ia tahu ia akan bertemu denganku lagi?


Aku memasang wajah datar terbaikku dan kembali ke meja makan, menghabiskan malam ini untuk membicarakan masalah kantor yang membosankan.

Jumat, 15 Oktober 2010

My Boyfriend was A Gay

April selalu berpikir bahwa Denny adalah gay. Setidaknya itulah yang ia tunjukkan dalam perilakunya sehari-hari. Tapi memang Denny tak pernah menyebutkan secara jelas bahwa ia memang benar-benar seorang gay.

Sudah lama April bersahabat dengan Denny. Mereka bertemu saat penerimaan mahasiswa baru STIBA Bandung. Kebetulan mereka sama-sama berada di jurusan Sastra Korea. Namun April yang anak perantauan belum kenal siapa-siapa. April duduk memisahkan diri dari kerumunan. Saat itu lah Denny menyapanya.

"Hei, nggak punya temen ya? Gue juga."

April hanya bisa menaikan sebelah alis. Dia memperhatikan penampilan Denny. Kaos Polo ketat warna pink, celana jeans pensil warna hitam, sneakers Adidas, dan tas selempang yang mereknya tidak ia kenal memberi kesan ajaib bagi April yang sebelumnya tidak terlalu mengerti dengan gaya gay berpakaian. Namun toh April tidak mengusirnya. Denny pun mencoba membuka percakapan.

"Aduh, gerah ya bo'. Eh, dari SMA mana jeng?"

"Eh.. SMA Negeri 14 Sukasari.."

"Ya ampuun, pasti di pedaleman deh.. Gue sih dari SMA Setiabudi. Tau kan? Tapi kayanya lo ngga tau ya.."

Tingkah laku Denny membuat April merasa terganggu pada awalnya. Namun lama-lama, April dan Denny semakin tak terpisahkan. April menjadi lebih perempuan setelah mengenal Denny. Denny lah yang memperkenalkan dunia kosmetik dan fashion padanya. Denny juga memperkenalkan dunia cowok yang sebelumnya tak pernah April ketahui. Denny lah yang pertama kali mengajaknya clubbing. April yang sekarang telah berubah karena Denny.

Setelah saling mengenal, April tak sungkan lagi dengan Denny. Berpelukan, mencari pakaian dalam, bahkan saling menginap. April mengontrak rumah kecil di dekat kampus, dan orangtuanya tinggal di Sukasari, jadi tak ada yang mengawasi. Sedangkan Denny tinggal dengan ibu dan adiknya di daerah Dago Atas dan Ayahnya pindah setelah orangtua Denny bercerai. Ibu Denny sudah seperti ibunya sendiri, dan mengijinkan April menginap di rumahnya. Dengan Denny, April seperti memiliki sahabat perempuan, hanya saja Denny lebih kuat.

Namun yang terjadi pada malam itu mengubah persepsinya terhadap Denny.

Sabtu malam itu tidak berbeda dengan sabtu malam lainnya. April pasti pergi ke Heaven Club bersama Denny, bersama-sama mencari lelaki tampan untuk dikerjai. Biasanya April akan pura-pura duduk sendiri hingga ada seorang lelaki yang menegurnya. Jika lelaki ini mulai menggodanya maka Denny akan berpura-pura datang menghampiri April dengan ekspresi melindungi, seakan-akan Denny adalah pacar April. Jika lelaki itu menyerah dan pergi, mereka akan tertawa terbahak-bahak.

April tersenyum-senyum membayangkan apa yang akan terjadi sabtu malam ini. Tak lama kemudian, Denny datang dengan mobilnya untuk menjemput April. Saat Denny melihat April, Denny hanya diam saja. Berbeda dengan biasanya, Denny pasti memberi komentar terhadap apapun yang dikenakan April, entah itu berupa pujian atau celaan. Padahal malam itu April mengenakan gaun baru yang potongannya sedikit seksi. Kerah low cleavage nya menunjukkan lekuk tubuh April yang sebelumnya tak pernah ia tunjukkan. April sedikit kecewa karena Denny tidak memberi komentar apa-apa.

Akhirnya mereka sampai juga ke Heaven Club. Setelah menyapa teman-teman yang sering hang out disana, mereka duduk di kursi bar. Suasana sedikit kikuk karena Denny masih berdiam diri. April pun bertanya-tanya apakah mereka akan melakukan permainan seperti biasa atau tidak.

"Den, malam ini kita nggak main?"

"Main, main. Sori gue lagi rada mumet. Yaudah gue kesana dulu ya."

Denny mengawasi tak jauh dari April. Lima menit kemudian, datanglah seorang lelaki yang mencoba berkenalan dengan April. Denny bisa melihat kemana pandangan lelaki ini tertuju, yang tak lain dan tak bukan ke arah dada April. Sial, pikir Denny, kenapa April harus memakai gaun itu. Denny memutuskan untuk mengakhiri permainan lebih cepat. Ia menghampiri April dan merangkulnya posesif. Tak lupa ia memberi pandangan tajam kepada lelaki itu.

Namun lelaki itu tidak juga pergi. Entah apa yang ada dalam pikiran Denny saat kemudian ia menarik wajah April dan menciumnya. Tepat di bibir. April terkejut, namun tidak berusaha mengelak. Ia malah terhanyut dan membalas ciuman Denny. April tak menyangka, lelaki seperti Denny bisa memberikan ciuman yang hebat. Tidak seperti mantan pacar April yang ciumannya basah. Euh.

April tak tahu berapa lama waktu yang terlewat, namun saat akhirnya ciuman itu berakhir, lelaki yang tadi mencoba untuk menggoda April telah pergi. April pun memikirkan ciuman tadi. Apakah maksud dibalik ciuman itu? Hanya permainan belaka? Atau Denny sudah melihat April sebagai perempuan?

"Sorry gue.. Gue pulang duluan aja deh," kata Denny dengan muram.

"Gue ikut."

Selama perjalanan mereka hanya diam. Ketika mobil berhenti di depan rumah, April baru angkat bicara.

"Permainan tadi kelewatan, Den."

"Gue tahu."

"Lo nggak usah maksain diri untuk cium gue."

"Gue ngga maksain diri."

"Bohong! Mana mungkin lo mau cium cewek?"

"Emang kenapa kalo gue mau cium cewek?!"

"Karena lo gay! Oh.." April sudah kelepasan bicara. Walaupun tak pernah diucapkan, namun seperti ada janji bahwa mereka tak akan menyinggung masalah orientasi Denny.

"Gue berubah."

Masih emosi, April kembali membentak Denny, "Apa buktinya?"

Dengan tiba-tiba, sebelum April sadari, Denny menarik wajahnya dan kembali mencium April. Tak lama Denny menjauhkan bibirnya hanya untuk bertanya, "Ini cukup?"

April tidak bisa menjawab dan hanya memandang Denny. Lalu Denny melanjutkan ciuman yang terputus tadi. Kali ini ia tak berhenti. Malah, ketika April membalas ciumannya, Denny memberanikan diri untuk menyentuh April. April masih sadar, dan saat Denny mulai menyentuh daerah terlarang, tangannya menahan tangan Denny.

"Sebaiknya gue masuk."

April mengambil tasnya dan keluar dari mobil untuk masuk ke dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang dan otaknya belum bisa mencerna kejadian tadi. Ketika dia bisa menguasai diri, April mendengar suara mobil Denny yang bergerak menjauh. Ia pun terduduk, memikirkan bagaimana ia akan menghadapi Denny hari Senin nanti.

Seperti yang April duga, hubungan mereka memburuk. Bahkan mereka tak menegur satu sama lain. Pernyataan bahwa Denny sudah berubah mulai terbukti. Gaya berpakaian Denny berubah, begitu pula sikap dan tutur katanya. Denny jadi sering berteman dengan lelaki dan mulai mengencani wanita, bukan sebaliknya. Sudah dua minggu perubahan ini April amati.

Siang ini April mengunjungi gedung Sastra Jepang untuk bertemu dengan temannya. Sebelum itu, ia ke kamar mandi terlebih dahulu. Saat berada di dalam cubicle, terdengar suara-suara perempuan yang sedang bergosip.

"Ren, gue denger sabtu ini lo diajak ke Suite Room Hotel Pasundan ya? Pasti tajir deh korban lo yang sekarang."

"Iya dong, tajir banget. Tapi pasti lo kaget kalau tahu siapa."

"Emang siapa?"

"Si Denny, yang Sastra Korea 2009."

"Hah, dia bukannya gay?"

"Dia berubah kali. Nggak tahu deh. Minggu lalu sih gue lihat dia ciuman sama temennya yang cewek di Heaven Club, siapa namanya?"

"Oh, si itu tuh, April. Korea 2009 juga kan?"

"Iya, bener April."

April tak peduli apa yang selanjutnya mereka bicarakan. Kalau tidak salah dengar, yang tadi berbicara adalah Karen dan Dian, primadona Sastra Jepang. Reputasi mereka buruk. Apalagi Karen, yang gosipnya pernah menjual tubuh kepada dosen demi nilai A. Dan Denny mengajaknya ke hotel? Hati April sakit mendengarnya. Sejak insiden ciuman dua minggu yang lalu, perasaan April kepada Denny berubah. Dari yang tadinya hanya sahabat, sekarang April melihat Denny sebagai lelaki yang pantas di perhitungkan. Dan sekarang, April yakin bahwa April menyukai Denny. Tapi semuanya terlambat. Denny sudah bersama dengan Karen. Apa lagi yang bisa April lakukan?

Maka sabtu malam kali ini April lewati sendirian di kontrakannya. Ia tak berniat pergi kemana-mana. Malam itu hujan, April tidak memiliki mobil dan tidak ada yang menjemputnya untuk pergi ke luar. Ia memilih untuk menyetel DVD, namun tidak benar-benar menontonnya. Pikirannya masih tertuju pada Denny. Hatinya sakit apabila membayangkan Denny dengan Karen, namun hal itu tak dapat April hindarkan. Layar televisinya menunjukkan adegan komedi, tapi April malah menangis.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk dengan kencang. April mengintip dari jendela. Kemudian ia berseru, "Denny?". Ia buru-buru membukakan pintu. Ia tak salah lihat. Yang saat ini berdiri di depannya dengan basah kuyup adalah Denny. Sahabatnya. Orang yang dicintainya.

"Lo ngapain disini, Den? Lo bukannya kencan sama.. Karen?"

"Gue salah. Gue emang berubah.. Tapi hanya untuk elo.."

"Berubah untuk gue? Lo masuk dulu deh, ganti baju dulu, baru kita ngomong, oke?"

Tak lama, Denny sudah berganti baju dengan kaus April yang kebesaran. Sambil meminum kopi susu buatan April, Denny bercerita.

"Lo tahu kan, orang tua gue hubungannya nggak baik. Gue mulai memandang komitmen dengan sebelah mata. Karena bagi gue, komitmen diantara mereka lah yang merusak keluarga gue. Karena itu gue lebih suka berteman. Dan kebanyakan teman gue dari SD sampe SMA itu perempuan. Itu lah yang membuat gue terlihat seperti gay.
Sebulan yang lalu, nyokap gue ngomong ama gue, beliau nasehatin gue, bahwa gue harus membuka diri. Komitmen itu tidak selamanya buruk. Bahkan komitmen yang membuat cinta kita kokoh. Dan gue harus melihat ke sekitar gue, karena banyak perempuan di sekitar gue yang sayang sama gue. Dan perempuan yang pertama gue pikirkan adalah.. elo."

Perasaan hangat yang menyenangkan menyebar di hati April. Mungkin itu karena susu coklat yang sedang Ia minum, atau karena perkataan Denny.

"Dan setelah itu gue mulai melihat lo sebagai perempuan. Gue berusaha keras untuk tetap melihat lo sebagai seorang teman, tapi nggak bisa. Gue mulai memiliki perasaan lain ke elo. Dan sabtu malam itu, waktu gue mencium lo, gue kehilangan kendali diri gue karena perasaan gue udah nggak tertahankan lagi. Tapi setelah itu, gue merasa gue udah nyakitin elo. Karena itu gue mencoba untuk memindahkan perasaan gue ini ke cewek lain."

"Karen," sebut April.

"Ya, Karen. Gue kira segalanya akan mudah sama dia. Gue berusaha keras untuk menyukai dia, dan bukannya elo. Karena itu gue nggak menolak ketika dia mengajak gue ke hotel. Tapi gue nggak bisa melihat dia sebagai seorang perempuan, seperti gue melihat lo. Begitu gue sadar bahwa yang gue lihat hanya lo, gue langsung tinggalin dia dan pergi kesini, ke rumah lo."

April hanya terdiam. Ia tak menyangka ada cerita panjang dibalik ini semua. Ia terharu dengan kenyataan bahwa dirinya lah yang membuat Denny berubah. Air mata bahagia mengalir di pipinya. Tangan Denny meraih wajahnya dan menghapus air mata itu.

"Aprilia Sunarta, gue sayang.. sayaaang banget sama elo. Elo gimana?"

"Gue..", April berhenti sejenak untuk menghela nafas,"Gue nggak bisa bohong kalo ternyata sejak insiden itu, gue mulai melihat lo sebagai cowok, dan gue juga mulai ada feeling sama lo. Dan sekarang, ya, gue sayang banget sama lo, Den."

Denny menarik April ke dalam pelukannya, dan mengelus rambut April dengan sayang. Kemudian ia tersenyum.

"Lo masih mau belanja underwear sama gue kan?"

"Mimpi aja lo."

Minggu, 10 Oktober 2010

Lavender Rose -- Chapter Seventeen -- Mark

Kukira semua akan berjalan lancar setelah aku pindah ke Indonesia, namun ternyata tidak. Keadaan di Wachovia Bank Jakarta sangat berbeda dengan yang di Washington D. C. Budaya korupsi sudah meresap di keseharian pekerjanya. Aku bahkan sempat tergoda, namun tidak sampai terjerumus. Akhirnya aku tidak tahan dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Chloe memberitahuku bahwa ada lowongan di Hypercon, perusahaan provider telepon genggam. Aku memasukkan CV-ku dan akhirnya dipanggil untuk wawancara.

Gedung Hypercon cukup besar untuk ukuran perusahaan baru. Setelah wawancara, aku tersesat saat mencari lokasi parkir mobilku. Ditengah kebingunganku, aku mendengar suara yang ku kenal.

"Iya, Yah. Pak Noto sudah bilang kemarin."

"Urusan akunting sedikit kacau saat ini. Kamu mungkin harus bantu Pak Noto sampai Ayah menemukan Manager Accounting yang baru, Delia."

Delia. Nama yang aku rindukan seperti orang merindukan air di musim kering. Mendengar namanya hatiku yang tandus kembali segar. Apalagi saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ia sedang berjalan menuju ke dalam gedung bersama seorang lelaki tua yang kalau tidak salah ayahnya. Ia tidak melihat ku, karena posisiku tertutup tiang. Ku tanyakan pada seorang lelaki yang juga sedang menuju ke dalam gedung.

"Excuse me, sir?"

"Yes, can I help you?"

"Do you know the man and the lady who just walked into the building?"

"Ah, yes. The man is the owner of Hypercon, and the young lady is his daughter who recently become an apprentice here."

"I see. Well, thank you for the information."

Sorenya aku mendapat kabar bahwa aku telah diterima dan mulai bekerja besok. Aku langsung mengurus surat pengunduran diriku dari Wachovia dan membereskan barang-barangku disana. Kelihatannya tak satu pun pegawai Wachovia yang keberatan dengan pengunduran diriku. Tak ada yang mengucapkan apapun kepadaku, jadi aku langsung pulang dan merayakan pekerjaan baruku dengan Chloe dan Tony di rumah.

Esoknya aku datang ke Hypercon. Tak disangka, yang menyambutku adalah ayah Delia, sang owner Hypercon dan ditemani oleh seorang lelaki yang tidak kukenal. Sepertinya ayah Delia tak mengenaliku. Mungkin karena penampilanku berubah.

"Welcome to Hypercon, Mr. Andrews. My name is Wisnu Wardhana, and this is Mr. Cahyo who is the current Director of Accounting. You will be working for him. Mr. Cahyo, Mr. Andrews."

"Mark Andrews, please to meet you."

"Muhammad Cahyo, please to meet you too. Ah, in case if you don't know, Mr. Wardhana is the owner of Hypercon."

"No need to mention it, Cahyo, hahaha. I have a habit to greet my employees. Is it a bad thing? You just get back to work, I know you're busy."

"Yes, sir. Mr. Andrews, I'll talk to you later."

"Allright, sir."

"Now, Mr. Andrews, I'm gonna show you your room."

Kami pun berpindah ke sebuah ruangan kecil namun terlihat nyaman. Ada sebuah meja kerja dengan kursi yang nyaman, komputer yang terlihat canggih, sebuah rak buku, sebuah sofa dan meja kopi. Di belakang meja kerja terdapat kaca besar yang menggantikan dinding, memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 5 lantai.

"Do you like it? It's a bit small but it's comfortable I think."

"I like it sir."

"Well, there are some books belonged to the former accounting manager. I guess you can read them before they are returned."

"Where did the former accounting manager go, sir?"

"He passed away, and he had no relative in Jakarta so I couldn't have his books sent back."

"I see."

"Well, there's one more thing, Mr. Andrews."

"Yes, sir?"

"You see, my youngest daughter is in her last year of college, and I let her help here so she can learn more about accounting. She's studying about it in the University of Indonesia. Her english is good, so I'll ask her to help you as your assistant while you can teach her about accounting. Is it okay?"

Yang Pak Wardhana maksudkan, apakah Delia? pikirku.

"That's okay, sir. What's her name, by the way?"

"Delia. She'll come this afternoon because she has classes in the morning. I'll let you know when she comes. Now you can start on your work. If you need something you can ask Santi outside, okay? She's the one who answers the phone."

"Okay, sir. Thank you."

Kemudian lelaki tua itu keluar dari kantorku. Mendengar kabar yang menggembirakan tadi, aku tersenyum bahagia. Aku memulai pekerjaanku sambil berpikir bagaimana reaksi Delia saat melihatku kembali.

Tak terasa sudah waktunya makan siang. Aku menyuruh Santi memesankan Nasi Padang. Sejak tinggal di Indonesia aku jadi menyukai makanan yang pedas-pedas. Kemudian, tak lama setelah jam makan siang berakhir, seseorang mengetuk pintu ruanganku.

"Please come in."

Kemudian Pak Wardhana masuk diikuti seorang wanita. Yang sudah terlihat dewasa dibanding saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia sedang melihat handphone-nya dan tidak memperhatikanku.

"Mr. Andrews, this is my daughter, Delia."

Kukumpulkan keberanianku untuk menyapanya.

"Hi, Delia."

Delia mengalihkan pandangannya dari handphone. Saat mata kami bertemu, tampak ekspresi terkejut di matanya. Dia mengenaliku. Aku tersenyum saat menyadari bahwa dia mengenaliku.

Mungkin Delia terlalu terkejut sehingga handphone-nya terjatuh. Dengan gugup dia mengambil handphone-nya sambil meminta maaf, kemudian dia menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahku.

"Delia, this is Mr. Andrews. You will be his assistant from now on."

"Uh, okay."

"I'll be leaving you two. And, Mr. Andrews?"

"Yes, Mr. Wardhana?"

"I'll have dinner together with Delia tonight. Would you like to join us?"

"I'd love to, sir."

"Okay, then. You can continue your work."

Pak Wardhana pun keluar, namun Delia tidak berpindah dari posisinya. Ia tetap berdiri kaku, menundukkan kepalanya.

"Surprise?"

Delia melirikku, kemudian hanya mengangguk. Aku tak puas dengan reaksinya.

"Miss me?"

Delia hanya diam saja. Hal itu membuatku marah dan lepas kendali. Ku hampiri ia dan kupeluk erat. Delia berusaha melepas pelukanku.

"Please, we're in the office.."

"Do you know how much I miss you? Do you know how hard my life became after you left me? Do you?"

Mendengar pertanyaanku Delia terdiam. Kemudian, perlahan ia membalas pelukanku.

"I'm sorry. I'm sorry. I'm so sorry."

Aku mendesah.

"Let's just.. get back to work."

Kemudian Delia melepaskan pelukanku dan langsung mengambil file-file dari rak buku.

Apa yang telah terjadi? Aku telah menemukan separuh hatiku. Namun ia tak mau membentuk hati yang utuh. Pikiran itu hanyut bersama angka-angka yang kutekuni. Mungkin nanti akan kutemukan jawabnya.

Rabu, 08 September 2010

Lavender Rose -- Chapter Sixteen -- Mark

Sudah dua tahun aku tinggal di negara ini.

Sejak aku berpisah dengan Delia, banyak hal buruk yang menimpaku. Sepulang dari Bali, Abe dan Mandy kecelakaan. Malam itu Tony sedang bersamaku. Abe dan Mandy sedang dalam perjalanan pulang dari kencan mereka saat sebuah truk kontainer menabrak mobil mereka. Aku tahu aku sudah terlambat saat aku tiba di rumah sakit.

Tony tidak menangis saat pemakaman Abe dan Mandy. Dia berceloteh seperti biasanya. Tentu saja ia yang masih berumur 2 tahun itu belum mengerti. Wasiat yang dibacakan oleh pengacara Mandy dan Abe mengatakan bahwa aku mendapat hak perwalian Tony. Ku peluk erat Tony saat peti mati keluarga terakhirku dikubur.

Kerjaku di Wachovia Bank tidak karuan. Pekerjaanku bertambah banyak ketika isu resesi berkembang. Dan Tony susah sekali untuk ditinggal. Keuangan menipis, dan stres itu kian menumpuk. Setahun kulewati, dan aku benar-benar tak tahan lagi. Kuambil cuti seminggu untuk memikirkan segalanya.

Dalam seminggu tersebut, tercetus sebuah ide. Aku akan pindah ke Indonesia. Kupikir tak ada lagi yang membuatku bertahan di negeri Paman Sam ini. Kudengar juga ada lowongan pekerjaan di Wachovia Bank cabang Jakarta. Biaya hidup disana lebih murah. Mungkin juga aku akan bertemu dengan Delia.

Akhirnya aku pindah ke Jakarta bersama Tony. Peruntungan kami membaik. Aku mendapat pekerjaan di Wachovia Bank cabang Jakarta. Chloe, adik Chris, tinggal di sebuah apartemen di Jakarta dan kami diizinkan untuk tinggal disana sementara rumah kami dibangun. Chloe bagaikan malaikat di hidupku yang sedang dilanda kehancuran ini. Dia yang menjaga Tony selama aku bekerja. Dia juga yang memilihkan Playgroup untuk Tony.

Chloe adalah wartawan The Jakarta Post. Ia sudah lama tinggal di Jakarta, dan sudah hafal jalan. Dia bisa berbahasa Indonesia. Aku belajar sedikit darinya. Chloe adalah seorang wanita yang sangat pintar. Meskipun tak pernah belajar lebih dalam mengenai ilmu akuntansi, dia mengerti cukup banyak tentang hal itu sehingga dia banyak membantuku dalam urusan kerja. Ia juga seorang yang cukup cantik. Berbeda dengan kakaknya Chris, Chloe adalah wanita yang tegas dalam menjalin hubungan. Seharusnya semua sudah cukup bagiku untuk memulai hubungan dengannya.

Sayangnya hatiku sudah kuberikan pada Delia.

Selasa, 07 September 2010

Lavender Rose -- Chapter Fifteen -- Delia

Kelas Akuntansi Lanjutan ini akan berakhir dalam beberapa menit. Jujur saja, aku tak ingin kelas ini cepat-cepat berakhir. Kak Tris sudah menunggu di lapangan parkir kampus dengan mobilnya. Sebelum mengantarku ke kantor, ia mengajakku makan siang. Aku belum merasa nyaman berada di samping Kak Tris. Lebih baik aku mendengarkan dosen tua ini mengajar daripada makan siang yang kikuk bersama Kak Tris. Namun apadaya, Kak Tris termasuk orang yang dekat dengan Ayah, dan aku tak mau ia mengadu pada beliau.

"Sampai jumpa minggu depan."

Kata-kata dosen membuatku tersadar dari lamunanku. Ah, berat rasanya kaki ini melangkah. Tak terasa, aku sudah menghampiri Kak Tris yang sedang merokok sambil bersandar pada mobilnya.

"Merokok itu nggak baik loh kak."

"Ah, Delia."

Tanpa mematikan rokoknya ia membukakan pintu mobil untukku. Kemudian ia sendiri masuk kedalam mobil, dan kami pun berangkat.

Kami makan siang di sebuah restoran seafood. Salah satu hal yang tidak kusukai dari Kak Tris adalah, ia selalu menganggap apa yang disukainya pasti kusukai juga. Padahal aku alergi udang.

"Del, udangnya enak banget loh. Kamu mesti cobain deh."

Dan salah satu hal yang tidak kusukai dari diriku sendiri adalah aku tidak bisa jujur di depan Kak Tris.

"Iya kak."

Menghabiskan siang bersama orang yang tidak kusukai dan berpura-pura memakan makanan yang tidak kusukai bukan merupakan hobiku. Untung Kak Tris tidak memperhatikan dan ia juga sepertinya ingin buru-buru kembali ke kantor. Saat kami sampai di kantor, kami bertemu Ayah.

"Wah, akhirnya kau kembali juga Tris. Tadi makan siang dimana sama Delia?"

"Di Seafood Corner, Pak. Udangnya enak banget, kapan-kapan Bapak mesti coba makan disana. Iya kan, Del?"

"Ng.. iya, Yah."

Ayah melirik curiga ke arahku.

"Begitukah? Oh, iya Del. Ayah memindahkanmu ke posisi lain, karena hari ini ayah sudah menemukan Manager Accounting yang baru. Ia yang akan mendidikmu. Kamu juga harus membantunya berlatih berbicara Bahasa Indonesia."

"Memangnya dari luar negeri, Yah?"

"Sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Tidak cocok dengan kantor sebelumnya makanya pindah."

"Begitu. Setelah ini Ayah yang antarkan Delia ke ruangannya saja ya?"

"Baiklah. Tris, kau kembali ke ruanganmu saja."

Kak Tris mengangguk sopan. Namun saat Ayah tidak melihat ia mengedipkan sebelah mata kepadaku. Aku memberikannya senyum palsu. Lalu aku mengikuti Ayah ke sebuah ruangan di lantai 5. Ayah mengetuk pintu. Terdengar suara yang anehnya familiar dari dalam.

"Please come in."

Handphone-ku bergetar tanda SMS masuk. Aku membacanya. Kak Tris mengajakku makan malam. Aku mencibir dalam hati.

"Mr. Andrews, this is my daughter, Delia."

"Hi, Delia."

Aku memindahkan pandangan dari layar handphone ke arah bos baruku. Dan aku begitu terkejut sampai-sampai handphone-ku terjatuh. Meskipun tumbuh kumis tipis diatas bibirnya dan gaya rambutnya berbeda, aku masih mengenalinya.

Dia adalah Mark.​

Senin, 26 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Fourteen -- Delia

Tiga tahun telah berlalu, dan hidupku banyak berubah, kearah yang lebih baik tentunya.

Ayah dan Ibu bercerai tak lama setelah kami kembali dari Bali. Sepertinya itu keputusan yang terbaik, karena sejak itu Ibu langsung pindah ke Prancis bersama pacarnya dan membuka butik disana. Kudengar butik Ibu sangat sukses disana. Pacarnya juga sering menjadi model pakaian perancang terkenal lainnya di Prancis.

Sedangkan Ayah, beliau jadi lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Sebelumnya Ayah hanya pulang untuk tidur, itu juga kalau tidak ada perjalanan bisnis. Sekarang tiap akhir pecan beliau menghabiskan waktu di rumah, entah hanya untuk membaca buku, bermain catur denganku, berdiskusi tentang mobil dengan Kak Mario, atau berenang bersama kak Anita. Namun hal itu tak membuat bisnis Ayah terbengkalai. Malah sekarang semakin maju, dan Ayah sedang mencoba membuat perusahaan provider telepon genggam prabayar.

Kak Anita pun juga berubah. Pulang dari Bali, kak Anita bertemu dengan seorang lelaki, dan tentu saja akhirnya mereka berpacaran. Suatu ketika lelaki ini, kak Andra, mengajak kak Anita pergi ke sebuah panti asuhan. Mungkin hal itu membuat kak Anita tersentuh. Malam itu juga, setelah kak Anita sampai di rumah, ia menceritakan segalanya padaku. Ia merasa sangat menyesal telah meninggalkan anaknya pada orang lain. Ia memohon-mohon padaku untuk menemaninya mengunjungi pasangan suami istri yang telah mengadopsi anaknya. Sebetulnya aku malas sekali, karena aku tak ingin terlibat dalam masalah kak Anita. Namun aku tak tega melihatnya. Baru kali ini aku melihatnya menangis sesedih itu.

Keesokannya aku menemani kak Anita berkunjung ke rumah Pak Suryasa. Aku tak ikut masuk kedalam, namun aku bisa mendengar sayup-sayup suara perdebatan dan tangis kak Anita. Setelah beberapa lama, kak Anita keluar menggendong bayi. Kemudian seorang wanita keluar hendak mengejar kak Anita sambil menangis dan meneriakinya. Seorang pria, mungkin Pak Suryasa, menahan wanita itu dan menyuruh kak Anita untuk cepat-cepat pergi. Kak Anita tak pernah bercerita sepatah kata pun tentang kejadian itu padaku. Dan aku pun tak pernah bertanya kepadanya.

Sejak itu Ferdi, nama anak Kak Anita, tinggal bersama kami di rumah Ayah. Sama sepertiku, Ayah juga tak mengajukan pertanyaan tentang Ferdi. Ayah langsung menerimanya, seakan-akan Ferdi sudah sejak lahir tinggal di rumah ini. Sekarang kak Anita tak pernah keluyuran lagi. Ia hanya di rumah mengurus Ferdi. Sedangkan kak Andra masih mengunjungi kak Anita sesekali, namun sepertinya kak Anita tak ingin dulu berhubungan dengan lelaki.

Tentang kak Mario, ia tak banyak berubah. Hanya saja akhir-akhir ini mukanya makin pucat dan tirus. Aku masih menemukan pil-pil bermacam warna di kamarnya, namun aku diam saja. Kak Mario sekarang bekerja menjadi IT di perusahaan Ayah. Selain itu, tak banyak yang berubah pada diri kak Mario.

Dan aku juga mengalami banyak perubahan. Lulus SMA aku diterima di Universitas Indonesia jurusan akuntansi. Sekarang aku telah memasuki tahun ketigaku. Mungkin sebentar lagi aku sudah harus membuat skripsi. Karena itu aku bekerja magang di kantor Ayah sebagai asisten akuntan. Dan Ayah berhasil mencomblangiku dengan salah satu pegawainya, kak Trisno. Dia lebih tua empat tahun dariku. Kerjanya sangat bagus, karena itu Ayah menyukainya. Kami telah berpacaran selama satu bulan sekarang.

Rasanya kehidupanku sudah nyaris sempurna. Namun rasanya ada yang kurang.

Sepotong hatiku tertinggal entah dimana.

Sabtu, 03 April 2010

Lavender Rose -- Chapter Thirteen -- Mark

Segalanya telah aku persiapkan untuk malam ini. Aku sudah memilih sebuah restoran romantis. Letaknya di sekitar Denpasar. Mungkin akan memakan waktu lama untuk sampai di sana. Karena itu aku sudah menyewa mobil untuk malam ini. Aku sudah meminjam jas milik Abe. Hanya satu hal yang belum aku lakukan. Mengajak Delia makan malam.

Sore ini kami akan menonton pertunjukan tari berjudul Ramayana. Delia memberitahu kami bahwa tarian Ramayana berasal dari India. Tarian ini menceritakan tentang usaha Rama dalam menyelamatkan istrinya Sinta dari Rahwana. Aku bukan penikmat tarian, namun aku menyukai ceritanya.

Ditengah-tengah pertunjukan, aku menggenggam tangan Delia. Ia menoleh.

“Delia.”

“Yes?”

“I, um, wanna ask you something.”

Dia hanya diam namun menunjukkan ekspresi bertanya.

“Um, would you.. Would you like to have dinner with me tonight?”

“Tonight? With Abe, Mandy and Tony?”

“No. No, no, no. I mean just the two of us, you know. If you don’t mind.”

“That would be nice. I’d love to have dinner with you.” Ia tersenyum, lalu tertunduk malu.

Dan kami tak berbicara lagi sampai pertunjukan berakhir. Namun perasaan kami mengalir melalui genggaman tangan yang tak terlepas.

Kami pun akhirnya kembali ke hotel. Aku berbisik kepada Mandy untuk meminjamkan gaun formalnya kepada Delia. Mandy hanya bisa melotot tak setuju karena Delia masih berada di sekitar kami. Kemudian aku menawarkan untuk menjaga Tony suatu saat apabila Mandy dan Abe ingin berkencan. Ia memandangku tajam dan akhirnya setuju. Aku pun langsung menghampiri Delia.

“Hey, I’ll wait at the lobby at 8, okay?”

“Oh, okay.”

Kemudian aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. Jam 8 kurang 10 menit aku sudah berada di lobby dengan memakai jas Abe. Berulang kali aku berkaca hingga seorang doorman bertanya.

“Big night, sir?”

“Nah, just a dinner date. But I want it to be perfect.”

“Well, then good luck, sir.”

Tiba-tiba aku melihat seorang wanita cantik yang sedang memandangku lewat pantulan cermin.

“I thought I was too early.”

Sial, makiku dalam hati. Aku berhutang kepada Mandy banyak malam untuk menjaga Tony. Karena saat ini Delia sedang berdiri di depanku memakai gaun hitam dan sepatu hak tinggi. Dan ia terlihat semakin cantik karena Mandy mendandaninya.

“Do I look weird? I’m not used to this kind of outfit. And the make up too.”

“No, you’re too beautiful that I’m speechless.”

“Come on, you’re exaggerating.” Dia menunduk malu. Dia selalu menunduk ketika malu.

“Shall we?” Aku menyodorkan lenganku dan ia pun menyelipkan tangannya.

Dan seperti seorang gentleman aku pun membukakan pintu mobil untuknya.

Dalam setengah jam kami sampai di restoran. Aku memilih tempat di luar yang menghadap ke pemandangan kota di malam hari. Kemudian saat memesan makanan aku meminta Delia untuk memilihkan untukku.

“I want Indonesian food.”

“Do you like spicy food?”

“So much."

“Maybe Ayam Bakar Bumbu Bali? Balinese Spicy Grilled Chicken?”

“Let’s give it a shot.”

Delia juga memesan Ayam Bakar Bumbu Bali sepertiku. Ia menyebutkan pesanannya dalam Bahasa Indonesia kepada pelayan.

“What do you wanna drink?”

“I don’t know. I’m not feeling like to drink any kind of liquor right now.”

“Oh, I’m not gonna drink any of them anymore. I’m done with it. I’m ordering tea, do you want it too?”

“No, just coffee. Black coffee.”

Setelah pelayan mencatat pesanan kami, ia pun pergi. Aku teringat buket bunga mawar lavender yang tertinggal di kursi belakang mobil. Aku izin sebentar ke kamar mandi, padahal aku mengambil buket bunga itu. Layaknya film romantis tahun 80an, aku menyembunyikan buket bunga itu di belakang pundakku. Kemudian aku menghampiri Delia dan menyerahkan buket bunga itu kepadanya.

“Oh, Mark. This is very sweet. Thank you.”

“My pleasure.”

“Is it just me, or these are purple?”

“Actually it’s lavender.”

“Lavender roses? It must be really rare.”

“It’s a coincidence that the florist have some of them.”

Delia mengambil setangkai dari buketnya dan menghirup harumnya.

“It smells nice, can you smell it?”

Aku mengambil setangkai mawar lavender itu dan menghirupnya.

“Yes it smells really nice.”

Kemudian aku menyelipkan mawar lavender itu di telinganya. Delia tertawa.

“This is so corny.”

“But you look good with it.”

“Thank you.”

Tak lama pesanan kami datang dan kami pun makan. Aku sangat menyukai makanannya, tapi Delia kurang menyukainya. Ia bilang pelayannya di rumah bisa memasak lebih enak dari ini. Satu fakta lagi ku ketahui dari dirinya. Ia punya seoarang pelayan.

Musik mengalun pelan dari sebuah band yang bermain tak jauh dari kami. Banyak juga pasangan, yang sepertinya bukan orang lokal, berdansa mengikuti irama lagu. Aku pun tak ingin tertinggal. Aku menghampiri Delia dan menyodorkan tanganku.

“Will you dance with me?”

“I can’t, Mark.”

“Come on, Delia. Just once. Please? I’ll teach you. It’s simple.”

“Fine, just once okay?”

Dan tangannya yang lembut menyambut tanganku. Tangannya yang satu lagi meraih pundakku, dan tanganku yang satu lagi menghampiri pinggangnya. Kami hanya melangkah ke kanan dan kiri perlahan.

“See? It’s easy.”

Delia hanya tersenyum lebar. Tiba-tiba sebuah tangan menarik Delia dariku.

“Delia!”

“Ayah?”

“Apa yang kamu lakukan disini? Ayo pulang!”

Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan

“Sir, what do you want from her?”

“And who are you?”

“Ayah, ini teman Delia.”

“Teman kamu? Teman macam apa yang membawamu jauh dari Ayah? You, young man. Don’t ever touch your dirty hand on my daughter again. Do you hear me? Ayo pulang Delia.”

Ternyata lelaki itu adalah Ayah Delia. Dan beliau menarik Delia pergi dariku.

“But, sir!” Aku berusaha mengejar mereka, namun dua lelaki berseragam menahanku. Delia hanya bisa menoleh sesekali sambil meminta maaf padaku di sela-sela tangisnya. Aku berusaha memberontak, namun lelaki-lelaki ini begitu kuat sehingga aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Delia! Don’t leave me! Delia!”

Aku tak menghiraukan orang lain yang menonton adegan ini. Aku terus berteriak hingga Delia tak terlihat lagi. Baru lelaki-lelaki itu melepaskanku dan pergi meninggalkan restoran ini. Aku langsung berlari keluar dan sudah tak ada apa-apa lagi disana.

Tak ada apa-apa lagi. Seperti hatiku. Sang Rahwana sudah mengambil Sintaku.