I’m definitely gonna be late for work, pikirku. Aku berlari kencang menuju stasiun subway terdekat dari flat kecilku. Saat ini pukul 7.45 pagi dan jam kantor dimulai pukul 8.00 tepat. Aku tidak suka terlambat untuk menghadiri apapun. Bagiku, itu sama saja dengan melanggar kesepakatan. Cowok macam apa yang suka melanggar kesepakatan? Pastinya bukan aku.
Setelah membeli karcis dan masuk ke peron, aku bergegas masuk ke kereta. Perjalanan dari Rhode Island Avenue sampai di kawasan White House memang hanya memakan waktu 10 menit. Namun keluar dari subway aku harus berlari ke Wachovia Bank, tempatku bekerja, yang berjarak 2 blok dari subway tempatku berhenti. Aku hanya bisa berharap semoga 5 menit cukup untuk sampai ke Wachovia.
Dan harapanku terkabul, aku sampai di Wachovia pukul 7.58 dan langsung memasukkan kartu absensiku. Rekan sekantorku, Eric, langsung menyapaku yang masih berkeringat.
“What’s with the sweat? Woke up late on your last day of work?”
“Yeah, I’m getting too excited about the vacation. I was still polishing my surfboard when I realized that I still had to go to work today.”
“Man, you’re really into it.”
“Of course! Bali’s not just some place.”
“When exactly will you go by the way?”
“The day after tomorrow. I have to visit my sister in NYC first and then we’ll go together along with her husband and son.”
“Whoa sounds like a family trip.”
“Well, I don’t give a shit. I’ve been dreaming to visit Bali ever since my first surf with my board so I’m not missing any chance.”
“Childhood dream, eh? Hey, I gotta get going. The Boss need me back there so good luck with your trip and have fun. Don’t forget to get me some hot Balinese babe, OK? Hahaha.. Catch you later.”
“Haha.. Yeah.. Catch you later, bro.”
Obrolan bersama Eric mengingatkanku tentang liburan ke Bali yang sudah kurencanakan sejak 2 tahun yang lalu. Aku menyisihkan gajiku setiap bulan untuk mewujudkannya. Dengan sedikit bantuan Mandy, kakak perempuanku, aku akhirnya benar-benar akan pergi ke Bali. Tentu saja aku tak menolak saat Mandy berkata bahwa Abraham, suaminya, dan Tony anaknya yang masih bayi akan ikut. Lagipula sepertinya akan lebih menyenangkan pergi berlibur bersama keluarga daripada sendirian.
Hari benar-benar tidak membosankan. Sebagai akuntan, aku merasa muak harus berkutat dengan angka-angka setiap harinya. Namun walaupun hari ini pekerjaanku lebih berat dari biasanya, aku tetap bersemangat karena saat rekan-rekanku bertemu denganku, mereka selalu menanyakan tentang liburan Bali-ku, dan aku dengan senang hati selalu menjawabnya. Hal itu membuat semangatku membuncah sehingga aku tak terlalu pusing saat berhadapan dengan angka-angka.
Jam 17.00 aku akhirnya melangkah keluar Wachovia diiringi kata-kata “selamat berlibur” dan “kutunggu oleh-olehnya”. Aku menyetop taksi dan menyebutkan dengan mantap, “Washington Dulles International Airport”. Aku mengambil penerbangan sore menuju New York. Disana, Mandy, Abraham dan Tony sudah menungguku bersama koper-koper yang sudah kutitipkan pada mereka sehari sebelumnya. Ah, aku benar-benar tak sabar.
I’m one step closer to Bali!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar