Akhirnya aku tiba di Bali, menikmati sisa-sisa liburan yang sama sekali tidak terasa seperti liburan. Aku bersama kakak-kakakku dibebaskan oleh Ayah dan Ibu untuk pergi ke tempat wisata yang masing-masing kami inginkan. Aku sangat ingin pergi ke Pantai Kuta. Kata orang, ke Bali tanpa mengunjungi Pantai Kuta belumlah lengkap. Bermodal motor sewaan, aku ditemani seorang kakak laki-lakiku, Mario, akhirnya menyusuri jalan ke pantai tersebut. Kami sempat tersasar beberapa kali, namun petunjuk dari penduduk lokal bisa mengantar kami sampai ke Pantai Kuta.
Sesampainya di sana, kami berpisah. Kak Mario sudah berjanji akan bertemu dengan teman semasa kuliahnya di sebuah kafe di sekitar Pantai Kuta, jadi aku akan sendirian bermain di pantai. Hari itu panas, namun aku tak peduli, aku tetap saja berjalan menyusuri pantai sambil menikmati dinginnya ombak seiring kakiku melangkah. Angin berhembus agak kencang sehingga aku harus berpaling agar mataku tidak perih.
Tiba-tiba aku melihatnya. Seorang lelaki kaukasia berambut pirang yang menawan hatiku. Dia pun juga melihatku, langsung di manik mata. Aku bukan orang yang percaya reinkarnasi, namun aku mendapat kesan bahwa kami sudah saling mengenal, jauh sebelum kami bertatapan hari ini, jauh sebelum aku dilahirkan, bahkan jauh sebelum orang-orang mengenal Pantai Kuta. Ya Tuhan, pikirku. Aku tak bisa memalingkan pandanganku. Seperti ada suatu magnet yang menarik mata kami agar kami tidak melepaskan pandangan.
Aku tak tahu berapa lama kami saling memandang, namun setiap detik yang terlewat terasa seperti setahun. Kakiku sudah mulai kram, tapi aku tidak peduli. Orang-orang yang lalu lalang mulai menatap kami dengan aneh karena kami hanya berdiri kaku. Tapi mereka pun kami hiraukan. Saat itu, seperti hanya aku dan dia yang berada di pantai. Matanya seperti mencoba untuk menceritakan segalanya; tentang dia, tentang apa yang ia rasakan terhadapku, dan tentang apa yang sangat ia ingin lakukan. Aku berusaha menjawab melalui sorot mataku, kuharap ia mengerti.
Kemudian terdengar suara seseorang memanggilku. “Delia!” seru Kak Mario. Detik itu aku sangat membenci Kak Mario. Apalagi setelah ia menyuruhku untuk pulang. Aku hendak membalikkan badanku untuk menjawab panggilan Kak Mario, tapi hatiku tak rela untuk memutuskan koneksi yang terjadi antara aku dan lelaki kaukasia itu. Suara Kak Mario semakin mengeras, tanda bahwa ia sudah tak sabar. Dengan berat hati akhirnya aku berlari kecil menghampiri Kak Mario. Dan untuk terakhir kalinya, aku menoleh ke arah si lelaki. Hatiku seperti tertoreh dalam melihat ekspresi kecewanya, namun sakit itu kemudian hilang ketika aku menangkap gerak bibirnya menyebut namaku.
Hari itu adalah hari terindah dalam hidupku.
Rabu, 31 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar