Tiga tahun telah berlalu, dan hidupku banyak berubah, kearah yang lebih baik tentunya.
Ayah dan Ibu bercerai tak lama setelah kami kembali dari Bali. Sepertinya itu keputusan yang terbaik, karena sejak itu Ibu langsung pindah ke Prancis bersama pacarnya dan membuka butik disana. Kudengar butik Ibu sangat sukses disana. Pacarnya juga sering menjadi model pakaian perancang terkenal lainnya di Prancis.
Sedangkan Ayah, beliau jadi lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Sebelumnya Ayah hanya pulang untuk tidur, itu juga kalau tidak ada perjalanan bisnis. Sekarang tiap akhir pecan beliau menghabiskan waktu di rumah, entah hanya untuk membaca buku, bermain catur denganku, berdiskusi tentang mobil dengan Kak Mario, atau berenang bersama kak Anita. Namun hal itu tak membuat bisnis Ayah terbengkalai. Malah sekarang semakin maju, dan Ayah sedang mencoba membuat perusahaan provider telepon genggam prabayar.
Kak Anita pun juga berubah. Pulang dari Bali, kak Anita bertemu dengan seorang lelaki, dan tentu saja akhirnya mereka berpacaran. Suatu ketika lelaki ini, kak Andra, mengajak kak Anita pergi ke sebuah panti asuhan. Mungkin hal itu membuat kak Anita tersentuh. Malam itu juga, setelah kak Anita sampai di rumah, ia menceritakan segalanya padaku. Ia merasa sangat menyesal telah meninggalkan anaknya pada orang lain. Ia memohon-mohon padaku untuk menemaninya mengunjungi pasangan suami istri yang telah mengadopsi anaknya. Sebetulnya aku malas sekali, karena aku tak ingin terlibat dalam masalah kak Anita. Namun aku tak tega melihatnya. Baru kali ini aku melihatnya menangis sesedih itu.
Keesokannya aku menemani kak Anita berkunjung ke rumah Pak Suryasa. Aku tak ikut masuk kedalam, namun aku bisa mendengar sayup-sayup suara perdebatan dan tangis kak Anita. Setelah beberapa lama, kak Anita keluar menggendong bayi. Kemudian seorang wanita keluar hendak mengejar kak Anita sambil menangis dan meneriakinya. Seorang pria, mungkin Pak Suryasa, menahan wanita itu dan menyuruh kak Anita untuk cepat-cepat pergi. Kak Anita tak pernah bercerita sepatah kata pun tentang kejadian itu padaku. Dan aku pun tak pernah bertanya kepadanya.
Sejak itu Ferdi, nama anak Kak Anita, tinggal bersama kami di rumah Ayah. Sama sepertiku, Ayah juga tak mengajukan pertanyaan tentang Ferdi. Ayah langsung menerimanya, seakan-akan Ferdi sudah sejak lahir tinggal di rumah ini. Sekarang kak Anita tak pernah keluyuran lagi. Ia hanya di rumah mengurus Ferdi. Sedangkan kak Andra masih mengunjungi kak Anita sesekali, namun sepertinya kak Anita tak ingin dulu berhubungan dengan lelaki.
Tentang kak Mario, ia tak banyak berubah. Hanya saja akhir-akhir ini mukanya makin pucat dan tirus. Aku masih menemukan pil-pil bermacam warna di kamarnya, namun aku diam saja. Kak Mario sekarang bekerja menjadi IT di perusahaan Ayah. Selain itu, tak banyak yang berubah pada diri kak Mario.
Dan aku juga mengalami banyak perubahan. Lulus SMA aku diterima di Universitas Indonesia jurusan akuntansi. Sekarang aku telah memasuki tahun ketigaku. Mungkin sebentar lagi aku sudah harus membuat skripsi. Karena itu aku bekerja magang di kantor Ayah sebagai asisten akuntan. Dan Ayah berhasil mencomblangiku dengan salah satu pegawainya, kak Trisno. Dia lebih tua empat tahun dariku. Kerjanya sangat bagus, karena itu Ayah menyukainya. Kami telah berpacaran selama satu bulan sekarang.
Rasanya kehidupanku sudah nyaris sempurna. Namun rasanya ada yang kurang.
Sepotong hatiku tertinggal entah dimana.
keren cerpennya...seperti kisah nyata Mbak! Keep on creating such beautiful stories!
BalasHapusterima kasih :)
BalasHapusmaaf belom sempat di lanjutkan, saya sedang ospek kuliah :) mohon doanya